Komunitas Kresek di Kudus Sulap Sedekah Sampah Jadi Beasiswa Pendidikan

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Komunitas Kresek Indonesia di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki cara unik untuk mengurangi sampah sekaligus memajukan pendidikan. Hal ini dilakukan lewat sebuah program yang diberi nama Sedekah Sampah.

Sedekah Sampah diartikan dalam bahasa yakni berbagi sampah. Sampah yang bagi sebagian orang tidak berguna, mampu disulap oleh Ketua Komunitas Kresek Indonesia, Faesal Adam (33 tahun) bersama 31 anggotanya yang mayoritas berusia 20 tahun.

Faesal Adam saat ditemui kumparan di kediamannya di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukannya lewat Komunitas Kresek Indonesia.

Komunitas ini berdiri pada 27 September 2015. Komunitas Kresek Indonesia mengantongi SK yang diterbitkan oleh Putusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0006372.AH.01.07.Tahun 2018 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Kreasi Sampah Ekonomi Kota Indonesia.

Program Sedekah Sampah ini mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah anorganik. Sampah itu lalu bisa disetor ke Komunitas Kresek Indonesia.

Masyarakat diperbolehkan mengumpulkan sampah sebulan sekali di dua titik. Pertama di kediaman Faesal Adam yang berlokasi di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Selain itu, masyarakat bisa mengumpulkan di basecamp Komunitas Kresek Indonesia yang berlokasi di Jalan Sosrokartono Gang Jambu Nomor 85, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

"Program Sedekah Sampah ini mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah ke kami sebulan sekali. Sampahnya anorganik, bisa berupa kardus, botol, minyak jelantah, besi, aluminium, dan lainnya," katanya saat ditemui di kediamannya, Jumat (5/6).

Tak ada kriteria minimal untuk jumlah sampah yang diberikan pada program Sedekah Sampah. Bahkan, Faesal menyediakan penjemputan bagi masyarakat yang mengumpulkan sampah dalam jumlah besar.

"Sampah yang sudah terkumpul kami jual ke pengepul. Uangnya kami gunakan untuk kegiatan sosial seperti beasiswa pendidikan. Selain itu untuk digunakan kegiatan mini green class, praktik pembuatan gantungan kunci dari tutup botol, tanam pohon dan aksi sosial lainnya," terangnya.

Sampah Jadi Beasiswa

Program Sedekah Sampah ini berkesinambungan dengan program Beasiswa Lingkungan Kresek Indonesia untuk pelajar SMA sederajat.

Nantinya siswa yang ikut diwajibkan mengikuti berbagai program kegiatan Komunitas Kresek Indonesia selama enam bulan. Program ini sudah ada sejak 2019 silam.

"Pada tahun 2026 ini ada kuota beasiswa untuk siswa SMA sederajat sejumlah 13 orang. Masing-masing siswa akan mendapatkan beasiswa pendidikan Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta," jelasnya.

Beasiswa akan diberikan di akhir program sambil memantau keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan Komunitas Kresek Indonesia paling tidak selama enam bulan. Siswa yang tidak aktif, bisa gugur mendapatkan beasiswa pendidikan.

Kegiatan yang harus diikuti oleh siswa selama enam bulan itu mencakup kegiatan softskill dan hardskill. Kegiatan softskill berupa seminar influencer, wirausaha, public speaking dan lainnya.

"Kegiatan hardskill berupa kegiatan daur ulang sampah," tambahnya.

Tingkatkan Kemampuan Lewat Sampah

Komunitas Kresek Indonesia juga memiliki program One Month One Skill. Sebuah program satu bulan sekali yang diperuntukkan bagi relawan Komunitas Kresek Indonesia untuk meningkatkan kemampuan.

Beragam kemampuan diperoleh melalui kegiatan daur ulang sampah, public speaking, seminar jual beli, dan lainnya. Program itu diberikan kepada relawan agar lebih luwes ketika memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

Kemudian, ada program Mini Green Class. Program ini merupakan workshop daur ulang sampah untuk masyarakat umum yang digelar sebulan sekali. Pesertanya diperbolehkan dari luar Kabupaten Kudus. Salah satu kegiatannya, peserta diajak membuat bros dari bungkus kopi saset.

"HTM (Harga Tiket Masuk, red) untuk mengikuti acara ini, peserta cukup membawa sampah anorganik atau minyak jelantah," ujar Faesal Adam.

Peduli Sampah Sejak Dini

Lalu, Komunitas Kresek Indonesia juga memiliki program Kresek Indonesia Goes to School. Program ini mengajak siswa-siswi mengurangi sampah dengan cara memilah sampah. Siswa-siswi di jenjang TK, SD, SMP, SMA sederajat diajak melakukan daur ulang sampah.

Tahun ini, setidaknya ada 13 sekolah yang berhasil digandeng untuk mengikuti program ini. Ia menargetkan, pada 2026, ada 40 sekolah yang bisa mengikuti program ini.

Program ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Pada 2024 ada 60 sekolah tersebar di Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Jepara yang digandeng. Sedangkan pada tahun 2025 ada 20 sekolah.

Tak berhenti di sana, komunitas ini juga rutin menggelar acara di hari-hari terkait peduli lingkungan. Misalnya, saat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, komunitas ini menggelar workshop daur ulang sampah.

Sementara, pada saat Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional komunitas ini menggelar kegiatan tanam pohon dan workshop edukasi sampah.

Gerakan 'Menghijaukan' Bumi

Tak hanya itu, program From Trash to Tree juga masih dijalankan oleh Komunitas Kresek Indonesia. Sebuah kegiatan menanam pohon untuk lingkungan. Sumber dananya diambil dari Sedekah Sampah untuk membeli bibit tanamannya.

Pada 2016, Komunitas Kresek Indonesia menanam bibit pohon buah-buahan sebanyak 100 bibit di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Berlanjut di 2022, penanaman bibit pohon dilakukan di Desa Japan. Sebanyak 100 bibit tanaman aren dan trembesi sukses ditanam. Lalu, pada 2025, mereka menggelar kegiatan menanam bersama Kampung Budaya Piji Wetan di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Sebanyak 30 bibit mangga dan trembesi berhasil ditanam.

Seluruh program yang digagas oleh Komunitas Kresek Indonesia bertujuan untuk menghijaukan bumi. Selain itu mengedukasi masyarakat Kabupaten Kudus agar mau memilah sampah dan mengurangi sampah.

"Bahkan kami selalu mencontohkan setiap ada acara, tempat minum dan tempat jajan yang kami sediakan berupa zero waste. Kami menghindari penggunaan bungkus plastik," ungkapnya.

Ke depannya, komunitas ini akan terus berkomitmen menebar kebaikan. Di tengah permasalahan sampah yang begitu masif, menurutnya peran komunitas peduli lingkungan harus terus ada.

"Semoga ke depannya kami semakin berkembang dan lebih profesional lagi untuk mengedukasi masyarakat soal sampah," ucap dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mensesneg soal RUU Polri: Polisi Harus Jadi Pelindung Rakyat
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Viral di Kalangan Jemaah Haji, Kopi Kekinian Arab Saudi Jadi Buruan di Mekkah-Madinah
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Bank Intidana Luncurkan Deposito Cuan, Tawarkan Bunga Hingga 6% dan Cashback Belanja
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Perkuat Pengelolaan Sampah, Makassar Luncurkan Program CHIGANJING dan Target Zero Waste 2029
• 19 jam laluharianfajar
thumb
FPIK UB Siap Ikuti Penilaian Lapang K3L Tingkat Universitas untuk Perkuat Budaya Kerja Aman dan Berkelanjutan
• 21 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.