SETIAP Jumat, amplop berpindah tangan. Bukan di gang gelap, bukan di bawah meja warung kopi, agenda rutin yang serakah itu terjadi di dalam institusi yang seharusnya menjaga kedaulatan negara. Rapi.
Terjadwal. Seperti tunjangan kinerja yang lupa dicatat dalam neraca negara.
Itulah yang terungkap dari OTT KPK pada 2–3 Juni 2026. Bukan sebuah kecelakaan birokrasi.
Bukan pula penyimpangan yang tiba-tiba muncul dari kekosongan.
Yang terbongkar adalah sebuah mesin, yang bergerak bertahun-tahun, melibatkan Wakil Menteri hingga staf lapangan, dan menghasilkan aliran dana yang oleh PPATK ditemukan menggenang di 96 rekening milik 35 pegawai Kementerian Imigrasi: Rp 366,7 miliar.
Dari angka sebesar itu, hanya tiga persen yang berasal dari gaji. Sisanya berasal dari tempat yang kini semua orang tahu.
Kita bisa berhenti sejenak di angka itu. Tiga persen. Artinya 97 persen dari kekayaan yang mengalir ke rekening-rekening itu tidak bisa dijelaskan dengan slip gaji.
Realitas itu mengungkap, selama bertahun-tahun, ada ekonomi paralel yang berjalan di dalam tubuh institusi imigrasi dan ia berjalan begitu tenang, begitu teratur, sampai tidak ada yang merasa ada kartel siluman yang mencoreng wajah bangsa di hadapan penduduk asing.
Baca juga: Piring Anak, Gengsi Presiden
Silmy Karim diduga menerima jatah Rp 100 juta per minggu. Bukan karena ia nekat.
Tapi karena sistemnya memungkinkan. Karena setiap jenjang jabatan, dari Dirjen, Plt. Dirjen, Kepala Kantor Wilayah, Kepala Subdirektorat, hingga staf.
Mereka punya bagiannya masing-masing. Ini bukan korupsi yang dilakukan sendirian di sudut ruangan. Perilaku ini adalah korupsi yang memiliki struktur organisasi.
Maka kata "oknum" harus kita kubur sejak kalimat pertama. Oknum adalah kata yang kita pakai ketika ingin menyelamatkan institusi dari malu.
Tapi institusi yang sistem pembagian hasilnya berjalan setiap Jumat tidak bisa diselamatkan dengan satu kata.
Yang rusak bukan satu orang, yang rusak adalah cara institusi itu bekerja, cara ia diawasi, dan cara kita selama ini memilih tidak melihat.
Yang paling perlu kita tanyakan bukan siapa yang tertangkap. Yang perlu kita tanyakan adalah: berapa lama ini sudah berjalan, dan siapa yang selama ini tahu?