Pulau Sampah di Jakarta dan Ancaman yang Mengalir ke Meja Makan

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di perairan Muara Angke, Jakarta Utara, tepatnya di sekitar jalur keluar-masuk kapal di Kali Adem, muncul hamparan sampah yang menyerupai sebuah pulau kecil.

Berdasarkan pantauan Kompas.com pada Kamis (4/6/2026), tumpukan sampah tersebut tersangkut pada endapan lumpur yang berada di tengah perairan.

Endapan lumpur yang dipenuhi sampah itu kini membentuk daratan semu dengan panjang sekitar 15 meter.

Baca juga: Butuh Lebih Satu Dekade Pulihkan Mangrove yang Terdampak Pulau Sampah Muara Angke

Selain menimbulkan bau tidak sedap, tumpukan sampah tersebut membuat air laut di sekitarnya tampak berwarna hitam pekat.

Pengawas Pesisir Teluk Jakarta Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Kepulauan Seribu, Supendi, mengatakan, kemunculan "pulau sampah" di perairan Muara Angke disebabkan oleh sampah dan lumpur yang terbawa arus sungai menuju laut.

Baca juga: Butuh Sebulan Bersihkan Pulau Sampah di Muara Angke Jakut

Menurut dia, lumpur yang terbawa dari muara sungai mengendap di perairan, sementara sampah yang ikut terbawa arus kemudian tersangkut pada endapan tersebut hingga terus menumpuk.

"Sampah itu dari mana sih? Kalau laut sebenarnya bersih. Semua dari darat lah alirannya, termasuk endapan juga," kata Supendi saat ditemui Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

"Apalagi bulan Februari kan curah hujan terus ya, hujan tinggi, itu sampah tuh banyak. (Sampah) Terbawa, akhirnya berbenturan dengan gelombang dari laut," ungkap dia.

Baca juga: Bahaya Tersembunyi Pulau Sampah Muara Angke Terhadap Makanan Manusia

Penumpukan sampah juga diperparah oleh kendala teknis yang dialami tim pembersih di lapangan.

Alat berat yang biasa digunakan untuk mengangkut sampah mengalami kerusakan sehingga penanganan tidak berjalan maksimal.

"Kalau Januari masih kita tangani ya. Alat berat itu mulai (rusak) Februari-Maret lah ya. Maret ya, mulai kewalahan itu. Sampai sekarang imbasnya. Nah, hampir satu bulan itu kita kurang maksimal penanganannya," kata dia.

Kapal nelayan kerap kandas

KOMPAS.com/Omarali Dharmakrisna Soedirman Proses pengerukan lumpur di titik tumpukan sampah pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (4/6/2026)
Keberadaan tumpukan sampah yang menyerupai pulau itu juga dikeluhkan para nelayan karena mengganggu aktivitas melaut.

Salah seorang nelayan, Syahril (55), mengatakan kapal nelayan kerap kandas saat melintas di sekitar lokasi, terutama ketika air laut surut.

"Keluar masuk itu nelayan perahunya kandas kalau air surut. Dan baling-baling itu sering pada patah," kata Syahril saat ditemui Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Akibatnya, nelayan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki baling-baling kapal yang rusak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rico Marbun: Film Pesta Babi Berpotensi Menjadi Instrumen Kampanye Disintegrasi
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Round Up Penggeledahan Rumah Silmy Karim: Porsche Merah, Harley Davidson hingga Valas Disita KPK
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
FBI Siapkan Sistem Anti-Drone untuk Amankan Piala Dunia 2026
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pelatih timnas U18 putri: Fokus main sesuai "gameplan" lawan Filipina
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Soroti Nasih Guru Honorer, Formas Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
• 22 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.