Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di sejumlah lokasi prioritas.
Ia menyampaikan tiga lokasi PSEL akan segera memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking.
“Dalam waktu dekat, tiga lokasi PSEL akan dilaksanakan groundbreaking, kemudian menyusul 12 lokasi yang sedang diproses oleh Danantara untuk masuk fase pemilihan mitra dengan target beroperasi pada 2028,” kata Zulhas dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
Ia menyebutkan percepatan tersebut dilakukan sesuai dengan mandat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Saat ini, terdapat sekitar 30 lokasi PSEL yang direncanakan untuk dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan.
Pengembangan tersebut menggunakan pendekatan kawasan perkotaan atau aglomerasi yang menghasilkan sampah di atas 1.000 ton per hari.
Menurut Zulhas, pengembangan PSEL menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah nasional untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), menghasilkan energi listrik terbarukan, dan mendukung pengurangan emisi karbon.
Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (5/6), Zulhas mengatakan isu pengelolaan sampah menjadi salah satu titik temu nyata dari tiga krisis lingkungan global atau triple planetary crisis.
Tiga krisis tersebut mencakup perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.
Menurut dia, sampah bukan lagi sekadar persoalan kebersihan kota atau pelayanan publik, melainkan telah berkembang menjadi isu strategis yang memengaruhi pembangunan nasional, komitmen iklim, perlindungan ekosistem, kualitas hidup masyarakat, dan ketahanan pangan.
Data pemerintah menunjukkan Indonesia menghasilkan timbulan sampah nasional sekitar 60 juta ton per tahun, dengan kontribusi terbesar berasal dari kawasan perkotaan.
Ia mengatakan masih terdapat sebagian sampah yang belum terkelola secara optimal sehingga isu persampahan menjadi salah satu tantangan lingkungan yang mendesak.
Selain PSEL, pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi pengelolaan sampah lain seperti Refuse Derived Fuel (RDF), komposting, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), serta pirolisis.
Pengembangan teknologi tersebut disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.
Zulhas menambahkan pemerintah berkomitmen memperkuat kebijakan yang mendorong transformasi pengelolaan sampah nasional.
Pemerintah juga mengajak pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan hidup sebagai bagian dari upaya menjaga masa depan pangan Indonesia.
Baca juga: Pemkot Semarang: PSEL Jatibarang diminati 85 investor
Baca juga: Pemkot Tangerang siapkan lahan PSEL mandiri di Jatiuwung
Baca juga: Danantara umumkan 85 calon mitra proyek PSEL gelombang kedua
Ia menyampaikan tiga lokasi PSEL akan segera memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking.
“Dalam waktu dekat, tiga lokasi PSEL akan dilaksanakan groundbreaking, kemudian menyusul 12 lokasi yang sedang diproses oleh Danantara untuk masuk fase pemilihan mitra dengan target beroperasi pada 2028,” kata Zulhas dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu.
Ia menyebutkan percepatan tersebut dilakukan sesuai dengan mandat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Saat ini, terdapat sekitar 30 lokasi PSEL yang direncanakan untuk dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan.
Pengembangan tersebut menggunakan pendekatan kawasan perkotaan atau aglomerasi yang menghasilkan sampah di atas 1.000 ton per hari.
Menurut Zulhas, pengembangan PSEL menjadi bagian dari transformasi pengelolaan sampah nasional untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), menghasilkan energi listrik terbarukan, dan mendukung pengurangan emisi karbon.
Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (5/6), Zulhas mengatakan isu pengelolaan sampah menjadi salah satu titik temu nyata dari tiga krisis lingkungan global atau triple planetary crisis.
Tiga krisis tersebut mencakup perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.
Menurut dia, sampah bukan lagi sekadar persoalan kebersihan kota atau pelayanan publik, melainkan telah berkembang menjadi isu strategis yang memengaruhi pembangunan nasional, komitmen iklim, perlindungan ekosistem, kualitas hidup masyarakat, dan ketahanan pangan.
Data pemerintah menunjukkan Indonesia menghasilkan timbulan sampah nasional sekitar 60 juta ton per tahun, dengan kontribusi terbesar berasal dari kawasan perkotaan.
Ia mengatakan masih terdapat sebagian sampah yang belum terkelola secara optimal sehingga isu persampahan menjadi salah satu tantangan lingkungan yang mendesak.
Selain PSEL, pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi pengelolaan sampah lain seperti Refuse Derived Fuel (RDF), komposting, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), serta pirolisis.
Pengembangan teknologi tersebut disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.
Zulhas menambahkan pemerintah berkomitmen memperkuat kebijakan yang mendorong transformasi pengelolaan sampah nasional.
Pemerintah juga mengajak pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan hidup sebagai bagian dari upaya menjaga masa depan pangan Indonesia.
Baca juga: Pemkot Semarang: PSEL Jatibarang diminati 85 investor
Baca juga: Pemkot Tangerang siapkan lahan PSEL mandiri di Jatiuwung
Baca juga: Danantara umumkan 85 calon mitra proyek PSEL gelombang kedua





