Bisnis.com, PEKANBARU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 3,95% pada Mei 2026. Kenaikan harga berbagai komoditas, mulai dari emas perhiasan, cabai merah hingga biaya pendidikan, menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di daerah tersebut.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, mengatakan inflasi y-on-y terjadi karena Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,59 pada Mei 2025 menjadi 112,88 pada Mei 2026.
"Pada Mei 2026, Provinsi Riau mengalami inflasi y-on-y sebesar 3,95% dengan IHK sebesar 112,88," kata Asep, Selasa (2/6/2026).
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,76% dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 0,61%.
Secara kelompok pengeluaran, kenaikan harga tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 11,04%. Selanjutnya disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,03%, pendidikan 5,08%, kesehatan 3,55%, serta transportasi 3,32%.
Sementara itu, dua kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan harga atau deflasi, yakni kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,68% serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,33%.
Baca Juga
- BPS Proyeksikan Tekanan Inflasi Sumsel Masih akan Berlanjut, Ini Penyebabnya
- Inflasi Kepri Masih Terkendali, Tetapi Harga Pangan dan Transportasi Naik
BPS mencatat sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan di Riau antara lain emas perhiasan, biaya akademi atau perguruan tinggi, cabai merah, bawang merah, minyak goreng, biaya pemeliharaan kendaraan, angkutan udara, daging ayam ras, rokok kretek mesin, beras, bensin, telur ayam ras dan cabai rawit.
Dari sisi andil inflasi, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,96%. Setelah itu diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,83% serta kelompok transportasi sebesar 0,42%.
Pada periode bulanan, inflasi Mei 2026 terutama dipicu kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, biaya servis kendaraan, tomat, bensin, tarif rumah sakit, bawang merah dan cabai rawit.
Sebaliknya, sejumlah komoditas menahan laju inflasi bulanan karena mengalami penurunan harga, di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, ayam hidup, telur ayam ras, mobil, bawang putih dan beberapa jenis ikan.
Di tingkat kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir, tepatnya Kota Tembilahan, sebesar 4,43% dengan IHK 113,49. Sementara inflasi terendah tercatat di Kota Dumai sebesar 3,71% dengan IHK 112,79.





