Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Bahrain, sebagai balasan atas serangan drone AS yang menghantam wilayah Iran.
Mengutip laporan Tasnim News, Sabtu (6/6/2026), Pasukan Dirgantara IRGC menargetkan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait serta fasilitas utama Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menggunakan rudal balistik.
IRGC menyebut serangan itu dilakukan sebagai respons atas serangan drone Amerika yang menghantam menara telekomunikasi di Pulau Qeshm, dan sebuah menara komunikasi di wilayah Sirik, Iran.
Dalam pernyataannya, IRGC juga memperingatkan bahwa setiap agresi lanjutan terhadap Iran akan dibalas dengan langkah yang lebih besar, tidak hanya terbatas pada serangan militer.
Iran bahkan mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz bagi pengiriman minyak dan gas dunia. Ancaman itu langsung memicu kekhawatiran pasar energi global.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari lalu. Serangan itu pun memicu rangkaian aksi balasan yang memperluas instabilitas di kawasan.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke Israel serta menargetkan negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Teheran juga sempat menutup aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
Meski gencatan senjata kemudian diberlakukan, upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas hingga kini masih terus berlangsung. (bil/faz)




