Sejak saat itu, Jerman menjadi pariah dalam dunia internasional. Empat tahun kemudian, 7 Oktober 1949, negeri itu dibelah menjadi dua negara: Republik Federal Jerman yang dikenal sebagai Jerman Barat dan Republik Demokratik Jerman alias Jerman Timur.
Saat Piala Dunia 1950 digelar di Brasil, Jerman (Barat dan Timur) tidak diperkenankan ikut serta. Jerman Barat baru ikut pada Piala Dunia 1954 di Swiss. Sementara Jerman Timur baru terjun dalam babak kualifikasi pada Piala Dunia 1958.
Jerman Barat menjadikan Piala Dunia 1954 sebagai momentum kebangkitan. Dalam turnamen yang diikuti 16 negara itu, mereka tergabung di Grup 2 bersama Hungaria, Turki, dan Korea Selatan.
Status juara Olimpiade, pemenang Central European International Cup, dan tidak terkalahkan dalam 25 pertandingan membuat Hungaria menjadi favorit utama. Deretan bintang seperti Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, Jozsef Bozsik, dan Ferenc Puskas membuat lawan-lawan gentar.
Inggris sudah merasakan kehebatan Puskas dan kawan-kawan dalam pertandingan di Wembley, November 1953. Untuk pertama kalinya Tim Tiga Singa kalah di kandang.
Mereka bertekuk lutut dengan skor 3-6 di hadapan Mighty Magyar. Beberapa bulan kemudian, Hungaria kembali menghancurkan Inggris dengan skor 7-1 di Budapest.
Dalam pertandingan di Grup 2, Hungaria menjadi juara grup dengan menghancurkan Korea Selatan 9-0 dan Jerman Barat mengalahkan Turki 4-1. Dalam pertandingan kedua, seperti diduga banyak orang, Hungaria menggilas Jerman Barat 8-3.
Pelatih Jerman Barat Sepp Herberger memang sengaja menurunkan skuat yang lemah untuk menghadapi Hungaria. Dia mengincar tiket perempat final melalui posisi runner up grup atau melalui jalur play-off.
Kemenangan atas Korea Selatan dengan skor 7-0 membuat Turki sama-sama mengantungi dua angka sebagaimana Jerman Barat. Alhasil Jerman Barat dan Turki harus berhadapan kembali dalam babak play-off untuk menentukan satu tiket lagi di babak perempat final mendampingi Hungaria.
Format kompetisi Piala Dunia 1954 memang unik dan membingungkan. Terbagi dalam empat grup yang masing-masing berisi empat tim, dua tim unggulan dalam satu grup tidak saling bertemu. Setiap tim hanya memainkan dua pertandingan grup. Jika ada tim yang memiliki poin sama, penentuan kelolosan dilakukan melalui pertandingan play-off tanpa mempertimbangkan selisih gol.
Namun apapun formatnya, Jerman Barat berhasil lolos ke babak perempat final dengan mengalagkan Turki 7-2 dalam pertandingan play-off tersebut. Pertandingan tersebut menyempurnakan predikat Grup 2 sebagai grup paling produktif dengan total 41 gol.
Sementara itu di Grup 1, Brasil dan Yugoslavia melaju ke babak perempat final. Brasil mengawalinya dengan kemenangan 5-0 atas Meksiko, dan Yugoslavia menundukkan Prancis 1-0. Hasil imbang 1-1 antara Brasil dan Yugoslavia meloloskan keduanya ke babak perempat final sekaligus membuat kemenangan 3-2 yang diraih Prancis atas Meksiko sia-sia.
Di Grup 3, juara bertahan Uruguay tampil meyakinkan. Carlos Borges mencetak trigol saat Uruguay mengalahkan Skotlandia 7-0. Mereka memastikan diri lolos setelah mengalahkan Cekoslowakia 2-0. Austria juga lolos setelah mengalahkan Skotlandia 1-0 dan menang telak 5-0 atas Cekoslowakia.
Inggris menghadapi perlawanan ketat dari Belgia dalam pertandingan di Grup 4. Setelah sempat unggul, mereka hanya bermain imbang 4-4 melawan Belgia. Namun kemenangan 2-0 atas Swiss cukup untuk membawa Inggris ke perempat final. Swiss sendiri menyusul setelah menang 4-1 atas Italia dalam laga play-off.
Sebagaimana penyisihan grup, babak perempat final juga menghadirkan deretan pertandingan dengan skor besar. Ini membuat Piala Dunia 1954 dikenang karena menghasilkan 140 gol hanya dalam 26 pertandingan. Rata-rata 5,38 gol per laga jauh melampaui rata-rata gol pada banyak edisi Piala Dunia modern.
Salah satu pertandingan yang dahsyat adalah saat Austria melawan Swiss. Tuan rumah sempat unggul 3-0 hanya dalam 19 menit. Namun Austria bangkit dan mencetak lima gol dalam tempo hanya sembilan menit! Austria akhirnya menang dengan skor 7-5.
Di pertandingan lain, Inggris sempat menyamakan kedudukan melalui Nat Lofthouse. Tom Finney menambah satu gol untuk Inggris. Namun kreativitas dan kualitas Uruguay tak terbendung. Sang juara bertahan akhirnya menang 4-2 melalui gol yang dicetak Carlos Borges, Obdulio Varela, Juan Schiaffino, dan Javier Ambrois.
Satu tempat di semifinal diisi Jerman Barat yang mengalahkan Yugoslavia 2-0. Sementara itu, pertemuan Hungaria dan Brasil menghadirkan laga yang panas, keras, dan dipenuhi insiden pertikaian antarpemain. Beberapa pemain dikeluarkan dari lapangan. Ketegangan bahkan berlanjut setelah peluit akhir berbunyi. Hungaria menang 4-2 dan melaju ke semifinal.
Final ideal terjadi di babak semifinal antara Hungaria melawan Uruguay. Ini pertarungan juara sepak bola Olimpiade melawan juara bertahan Piala Dunia.
Hungaria unggul dua gol. Namun Uruguay berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui dua gol Juan Hohberg. Pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu.
Di bawah guyuran hujan deras, Sandor Kocsis mencetak dua gol melalui sundulan pada menit ke-109 dan ke-116. Hungaria menang 4-2 dan mencapai final Piala Dunia pertama mereka. Kemenangan itu juga mengakhiri rekor Uruguay yang belum pernah kalah di putaran final Piala Dunia.
Hasil ini meningkatkan kepercayaan diri Hungaria yang akan berhadapan dengan Jerman Barat yang mengalahkan Austria 6-1 di semifinal. Publik juga memperkirakan Hungaria bakal menang mudah atas Jerman Barat, sebagaimana yang terjadi pada babak penyisihan grup. Apalagi bintang Hungaria Ferenc Puskas yang sebelumnya cedera juga akan kembali bermain.
Namun Jerman Barat mengantisipasi final itu dengan baik. Salah satunya dengan menggunakan sepatu buatan Adidas yang memiliki pul yang dapat diganti sesuai kondisi lapangan basah.
Kedigdayaan Hungaria terlihat di depan mata saat unggul 2-0 hanya dalam tempo delapan menit melalui gol Puskas dan Zoltan Czibor.
Namun Jerman Barat menunjukkan ketangguhannya dan alasan kenapa kelak mereka dijuluki Staying Power. Max Morlock memperkecil ketertinggalan, dan kemudian Helmut Rahn menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Setelah turun minum, Hungaria terus menekan. Namun mereka menemui kegagalan. Bola tendangan Hidegkuti mengenai tiang. Begitu juga bola tendangan Kocsis membentur mistar. Sejumlah peluang lainnya gagal berbuah gol.
Lima menit sebelum waktu normal berakhir, Helmut Rahn melepaskan tembakan rendah yang tidak mampu dihentikan kiper Hungaria Gyula Grosics. Skor berubah menjadi 3-2 untuk Jerman Barat.
Sebenarnya di menit-menit akhir, Puskas sempat menjebol gawang lawan untuk membawa pertandingan ke babak perpanjangan waktu. Namun hakim garis mengangkat bendera offside.
Keputusan wasit ini memicu perdebatan, setelah rekaman pertandingan menunjukkan bahwa gol Puskas bersih. Namun hasil tidak berubah, dan sembilan tahun setelah dikalahkan dalam Perang Dunia II, Jerman Barat akhirnya menjadi juara dunia sepak bola. Ini menjadi momentum penting, terutama karena untuk pertama kalinya siaran televisi menayangkan pertandingan itu. [wir/ted]




