jakarta.jpnn.com - Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Dr Nasrullah menegaskan pentingnya negara hadir secara kuat dalam mengelola kekayaan nasional agar tidak dikuasai segelintir kelompok berkepentingan atau oligarki.
Hal itu disampaikan Nasrullah saat membuka Diskusi Publik Majelis Sabtu di KBPII bertema Negara Vs Oligarki: Siapa Mengendalikan Kekayaan Bangsa di kantor KBPII, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (6/6).
BACA JUGA: Menteri Yusril Sebut Presiden Prabowo Pantau Korupsi Imigrasi dan BGN
Diskusi itu menghadirkan ekonom senior Dr. Fuad Bawazier sebagai narasumber utama.
Dalam sambutannya, Nasrullah menyampaikan apresiasi kepada Fuad Bawazier yang dinilai konsisten menjaga sikap kritis terhadap berbagai persoalan kebangsaan, meski pernah berada di lingkaran birokrasi dan politik nasional.
BACA JUGA: Dasco Sebut Keputusan Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang Gantikan Dadan Hindayana Tepat
“Beliau senior kita di PII, HMI dan gerakan mahasiswa, juga senior aktivis mahasiswa. Masuk birokrasi, tetapi tetap kritis. Ketika bangsa menghadapi berbagai persoalan strategis, beliau tetap hadir berdiskusi untuk memikirkan nasib Indonesia ke depan,” kata Nasrullah.
Menurut Nasrullah, diskusi publik semacam itu penting dihidupkan kembali untuk menjadi ruang pertukaran ide dan gagasan bagi masa depan bangsa.
BACA JUGA: Megawati Bertemu Prabowo, Hasto: Momentum Bahas Masa Depan Negara
Dia mengenang tradisi diskusi yang pernah dibangun bersama para aktivis melalui forum bertajuk Bursa Gagasan.
“Kita perlu ruang-ruang intelektual yang menjadi tempat bertemunya gagasan-gagasan besar untuk bangsa. Diskusi seperti ini menjadi penting agar publik tidak kehilangan fokus terhadap isu strategis nasional,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Nasrullah menyinggung besarnya potensi kekayaan alam Indonesia yang menurutnya belum sepenuhnya memberi dampak kesejahteraan bagi rakyat.
Dia menyebut berbagai sumber daya strategis, seperti mineral, batu bara, perkebunan hingga energi semestinya menjadi kekuatan utama negara.
“Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, dari sawit, nikel, batu bara, emas hingga berbagai sumber daya lainnya. Namun, kenyataannya, kesejahteraan rakyat belum sepenuhnya mencerminkan besarnya potensi itu,” katanya.
Nasrullah juga menyoroti perlunya keseriusan negara menindak dugaan praktik penyimpangan ekonomi, termasuk berbagai modus manipulasi transaksi dan kebocoran penerimaan negara yang belakangan menjadi perhatian publik.
Dia mengingatkan agar isu besar mengenai pengelolaan kekayaan negara tidak tenggelam oleh polemik-polemik sesaat.
“Jangan sampai agenda besar tentang bagaimana negara mengelola kekayaan bangsa justru hilang oleh isu-isu yang sifatnya sementara. Persoalan besar bangsa harus tetap menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, Majelis Sabtu berharap muncul gagasan dan rekomendasi konkret terkait relasi negara, kekuatan ekonomi, dan tata kelola sumber daya nasional agar kekayaan Indonesia benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat. (Jos/jpnn)
Redaktur & Reporter : Ragil




