Bisnis.com, JAKARTA— Senior Capital Market Analyst Pinnacle Investment Indonesia John Daniel Rachmat menilai kebijakan ekspor satu pintu berpotensi mengurangi daya tarik saham-saham eksportir yang selama ini menjadi pilihan investor saat rupiah melemah.
Dalam kondisi tersebut, dia menilai dolar AS dan dolar Singapura menjadi instrumen yang lebih layak dipertimbangkan sebagai safe haven. Menurut John, selama ini saham-saham eksportir atau emiten yang memperoleh pendapatan dalam mata uang asing kerap menjadi pilihan investor ketika nilai tukar rupiah tertekan.
“Jadi kalau memang Rupiah-nya melorot, dengan sendirinya kalau revenue-nya perusahaannya itu dalam bentuk US Dollar atau Yuan atau apa gitu kan dia untung gitu kan,” kata John dalam acara Kapan Market Rebound yang digelar Indonesia Investment Education (IIE) secara daring, Sabtu (6/6/2026).
Namun menurut dia, kebijakan ekspor satu pintu yang akan dikelola PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) berpotensi mengubah pandangan tersebut.
“Jadi mohon maaf ya kalau ditanya sekarang safe haven-nya apa, ya nggak ada. Safe haven-nya yang paling bagus beli US Dollar atau beli Dollar Singapura,” imbuhnya.
Pemerintah diketahui tengah menyiapkan skema ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis, seperti batu bara, kelapa sawit, dan fero aloi. Dalam masa transisi hingga akhir 2026, eksportir masih diperkenankan melakukan ekspor secara mandiri dengan kewajiban menyampaikan laporan kepada PT DSI. Adapun pelaksanaan penuh kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Januari 2027.
Baca Juga
- Menguji Daya Tawar Ekspor CPO dan Batu Bara di Tangan Danantara Sumberdaya
- Ekspor Cerutu, PTPN I Regional 5 Perluas Tanam Tembakau 50 Hektare di Klaten
- Pasar Terimbas Gejolak Geopolitik, Ekspor Produk Siantar Top (STTP) Tetap Tumbuh Dua Digit
Menurut John, kebijakan itu berpotensi menghilangkan salah satu daya tarik utama emiten eksportir di mata investor. Selama ini, saham-saham yang memiliki pendapatan dalam mata uang asing dinilai mampu menjadi pelindung nilai ketika rupiah mengalami pelemahan sehingga tetap diminati investor asing.
Dia menilai sentralisasi aktivitas ekspor melalui satu lembaga justru memunculkan kekhawatiran baru di pasar. Pasalnya, fungsi pemasaran dan ekspor merupakan bagian yang melekat dalam operasional perusahaan karena berkaitan langsung dengan perencanaan produksi, pengadaan bahan baku, hingga kebutuhan tenaga kerja.
“Karena awalnya memang dollar earner itu dianggap safe haven. Logikanya kan gitu. Tapi tiba-tiba hilang, diambil dicopot melalui ekspor satu pintu. Itu yang sangat kecewa itu sangat banyak sekali,” ujarnya.
Selain itu, John juga menyoroti potensi persoalan tata kelola apabila seluruh ekspor komoditas strategis harus melalui satu entitas. Menurut dia, mekanisme tersebut berisiko menimbulkan ketidakpastian dalam penyaluran kontrak ekspor kepada perusahaan-perusahaan pelaku usaha.
Dia menambahkan, kekhawatiran terhadap kebijakan tersebut juga tercermin dari perhatian sejumlah lembaga pemeringkat internasional yang menilai sentralisasi ekspor berpotensi memengaruhi kinerja perdagangan Indonesia.
Di tengah pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS, John menilai arah pergerakan pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang membebani sentimen investor.
Menurut dia, pasar masih berpeluang pulih apabila pemerintah mampu menunjukkan langkah perbaikan yang kredibel. Sebaliknya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut apabila berbagai persoalan tersebut tidak segera ditangani.
“Kalau merasa Rp18.000 mahal, ya bulan depan mungkin sudah Rp19.000, bulan depannya lagi mungkin Rp20.000 kalau seandainya masalah ini tidak selesai,” katanya.
Meski demikian, John menilai kondisi pasar yang sedang tertekan dapat menjadi peluang investasi apabila berbagai persoalan yang saat ini menjadi perhatian investor mulai menunjukkan arah penyelesaian.
Menurut dia, momentum tersebut dapat menjadi titik masuk yang menarik bagi investor karena berpotensi menghasilkan kenaikan harga saham yang signifikan ketika pasar telah mencapai titik terendahnya.
“Kalau seandainya masalah yang tadi ada daftar di atas itu sudah dalam proses akan selesai, saya dengan happy kita akan masuk. Betul, itu waktunya kita mungkin easily 2 times, 3 times, maybe 5 times bagger. Sangat mudah kalau memang sudah bottom,” ujarnya.





