Seoul tengah dilanda demam Jensen Huang. CEO Nvidia itu disambut layaknya artis K-pop saat berkunjung ke Korea Selatan pekan ini. Ribuan orang memadati jalanan, memburu foto, hingga rela berdesakan hanya untuk melihat dari dekat sosok yang kini menjadi wajah paling terkenal di industri kecerdasan buatan (AI) dunia.
Popularitas Huang bahkan membuat seorang bos perusahaan chip memiliki daya tarik yang biasanya hanya dimiliki para selebritas. Dari bertemu legenda esports Faker, makan malam bersama para taipan teknologi Korea Selatan, hingga membagikan makanan kepada penggemar di jalanan Hongdae, setiap kemunculannya sukses menyedot perhatian publik dan media.
Untuk satu malam pada Jumat (6/6), Hongdae bukan lagi sekadar kawasan paling trendi di Seoul. Tempat itu berubah menjadi panggung milik Jensen Huang.
CEO Nvidia itu mendarat di Korea Selatan dan langsung membakar antusiasme publik, bukan dengan chip grafis supercanggih buatannya, melainkan dengan perut babi panggang, ayam goreng, dan sebuah pertemuan yang terasa seperti konferensi era kecerdasan buatan (AI) yang menyamar menjadi acara nongkrong santai.
Di sekitar meja barbeque Korea yang berasap, berkumpul para petinggi industri teknologi Korea Selatan. Hadir tokoh-tokoh dari SK Group, LG Group, hingga Naver. Mereka menikmati somaek, campuran soju dan bir yang populer di Korea, serta samgyeopsal sambil berbincang dan tertawa bersama sosok yang kini berada di pusat ledakan industri AI global.
Malam itu menjadi penutup dari rangkaian agenda padat Huang yang memperlihatkan bagaimana dirinya kini lebih mirip bintang rock dibandingkan seorang eksekutif teknologi.
Sejak pagi, Huang sudah menjadi sorotan saat berbicara dengan para wartawan. Dengan santai ia menjawab berbagai pertanyaan sekaligus mengumumkan kabar penting bagi industri semikonduktor: tiga raksasa memori dunia, yakni Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology, telah mendapat lampu hijau untuk memasok memori berkecepatan tinggi generasi terbaru yang dibutuhkan platform Vera Rubin milik Nvidia.
Bagi Korea Selatan yang mendominasi pasar memori canggih dunia, pernyataan itu menjadi bentuk pengakuan yang sangat penting.
Setelah itu, Huang melakukan semacam 'ziarah' ke akar sejarah Nvidia. Ia bertemu Faker, legenda esports Korea Selatan yang dianggap layaknya dewa oleh para penggemarnya. Selama ini Huang kerap menyebut industri gim sebagai fondasi yang membesarkan Nvidia.
Sebagai simbol penghormatan, ia menghadiahkan kartu grafis RTX 5090 kepada Faker, produk yang dianggap sebagai "cawan suci" bagi para gamer. Foto-foto diabadikan, penggemar bersorak, dan media sosial pun ramai membicarakannya.
Namun pertunjukan sesungguhnya baru dimulai setelah matahari terbenam. Ketika kabar menyebar bahwa Huang sedang makan malam di sebuah restoran bernama "Hey Bro, It's Me!", massa mulai berdatangan. Trotoar dipenuhi orang. Sudut-sudut jalan sesak oleh wisatawan, warga lokal, hingga penggemar teknologi yang berharap bisa melihat langsung sang bos Nvidia.
Huang, yang tampak menikmati perannya sebagai selebritas, tidak mau mengecewakan 'fansnya'. Ia keluar menemui kerumunan, melambaikan tangan, menyapa para penggemar, bahkan membagikan makanan dan minuman kepada wartawan maupun warga yang berkumpul di lokasi.
Suasananya lebih mirip acara jumpa penggemar idola K-pop dibandingkan pertemuan para tokoh bisnis paling berpengaruh di dunia teknologi.
Para pemimpin konglomerasi Korea Selatan pun tampak berada di situasi yang tidak biasa. Para bos chaebol atau orang-orang terkaya di sana yang biasanya menghindari sorotan publik mendadak harus berjalan di tengah lautan ponsel yang merekam setiap gerakan mereka.
Ketua LG Group Koo Kwang-mo, yang merupakan sosok termuda di antara para taipan yang hadir, terlihat kikuk memainkan penjepit dan gunting daging layaknya juru panggang amatir.
Sementara itu, Ketua SK Group Chey Tae-won, yang dikenal paling piawai menghadapi media, memanfaatkan momen tersebut dengan cerdik. Bersama Huang, ia membagikan camilan lokal yang diberi nama "HBM Chips", merujuk pada produk memori andalan SK Hynix yang menjadi tulang punggung perkembangan AI saat ini.
Lalu siapa yang membayar tagihan makan malam?
Kehormatan itu jatuh kepada pendiri Naver, Lee Hae-jin, terutama karena ia satu-satunya orang di meja tersebut yang memiliki perusahaan layanan pembayaran digital.
Tak lama kemudian terdengar teriakan berirama dari para pengunjung:
"Naver! Naver! Naver!"
Usai acara barbeque, rombongan melanjutkan pertemuan ke sesi kedua: ayam goreng khas Korea. Kali ini, Lori Huang, istri Jensen Huang, ikut bergabung bersama para petinggi teknologi tersebut.
Di balik asap panggangan, minyak ayam goreng, dan suasana penuh keakraban itu, tersimpan agenda bisnis yang sangat serius.
Nvidia tengah bersiap meluncurkan sejumlah produk besar tahun depan. Untuk mewujudkannya, perusahaan sangat bergantung pada kemampuan manufaktur Korea Selatan. Hubungan antara Nvidia dan para raksasa teknologi Korea diam-diam telah menjadi salah satu aliansi terpenting dalam era AI. Namun setidaknya untuk satu malam, urusan bisnis memberi ruang bagi sebuah pertunjukan jalanan yang langka.
Hongdae menjadi saksi pemandangan yang hampir mustahil dibayangkan sebelumnya: para taipan rival duduk bersama menikmati makanan rakyat, legenda esports bertemu pionir AI, dan ribuan orang rela berkumpul hanya untuk menyaksikan seorang perancang chip komputer makan malam.
Hanya di tahun 2026 seorang penjual prosesor grafis bisa memiliki daya tarik di jalanan yang setara dengan bintang pop.
Dan pertunjukan Jensen Huang belum selesai.
Pada Minggu, Huang dijadwalkan muncul di pertandingan bisbol Doosan Bears untuk melakukan lemparan pertama seremonial, sebuah simbol semakin eratnya hubungan Nvidia dengan industri robotika melalui kemitraan dengan berbagai perusahaan manufaktur besar.
Senin nanti, suasana akan kembali serius. Huang dijadwalkan menggelar serangkaian pertemuan resmi dengan para pimpinan LG, Naver, dan Hyundai Motor, serta bertemu mahasiswa dan sejumlah pendiri startup AI dan robotika, termasuk Upstage.
Saat itu tiba, Hongdae mungkin sudah kembali seperti biasa. Meja-meja restoran telah dibersihkan dan asap panggangan perlahan menghilang.
Namun untuk satu malam yang sulit dilupakan, seorang eksekutif semikonduktor berhasil membuat chip, ayam goreng, dan barbeque menjadi tontonan paling panas di kota Seoul.





