Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin rumit setelah kelompok militan Hizbullah menolak gencatan senjata dengan Israel di Lebanon.
IDXChannel - Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin rumit setelah kelompok militan Hizbullah menolak gencatan senjata dengan Israel di Lebanon.
Dilansir dari Bloomberg pada Minggu (7/6/2026), penghentian agresi Israel di Lebanon menjadi salah satu isu yang dituntut Iran dalam pembicaraannya dengan AS.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berada pada tahap akhir. Di sisi lain, Teheran menyatakan bahwa negosiasi tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.
Trump berulang kali mengklaim kesepakatan dengan Iran sudah dekat meskipun Teheran secara terbuka menolak sejumlah tuntutan utama AS, termasuk penghentian program nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Hizbullah merupakan sekutu dekat Teheran. Kelompok militan itu menyerang Israel pada awal Maret sebagai balasan atas serangan Tel Aviv dan Washington terhadap Iran di akhir Februari.
Sebagai balasannya, Israel melancarkan serangan udara dan invasi darat ke Lebanon, terutama wilayah selatan negara Arab itu Pekan lalu, Tel Aviv mengumumkan rencana untuk memperluas operasi militer di Lebanon hingga ke ibu kota Beirut.
Dimediasi AS, Israel dan Lebanon sepakat memperbarui gencatan senjata pekan ini. Namun, pembicaraan tersebut tidak melibatkan Hizbullah.
Pada Kamis, Kepala Hizbullah Naim Qasem menyebut kesepakatan yang ditengahi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon sebagai hal yang absurd. Alhasil, pertempuran antara kedua pihak di Lebanon selatan terus berlanjut. (Wahyu Dwi Anggoro)





