Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen dalam negeri saat ini dinilai memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap kondisi pasar modal RI ketimbang aksi yang dilakukan penyedia indeks global MSCI Inc. terhadap Indonesia.
Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati, menerangkan pemberat paling utama dari kinerja Indeks harga saham gabungan (IHSG) saat ini tidak lagi datang dari sentimen MSCI, melainkan dari melemahnya rupiah dan arah kebijakan pemerintah.
”Sentimennya yang memegang peranan paling penting, saya lihat bukan hanya MSCI, tapi rupiah dan arah kebijakan pemerintah. MSCI itu nomor tiga. Nomor satu kebijakan pemerintah karena ini ada politically risk,” katanya dalam acara bertajuk Cara Recover Portofolio: Tahan, Average Down, atau Cut Loss, Sabtu (6/6/2026).
Ike menilai, di tengah kondisi pasar yang secara ekstrem mengalami ketakutan, fundamental emiten kini tidak lagi memiliki pengaruh yang besar. Justru, pasar cenderung melakukan sell off lantaran kondisi pasar modal telah menembus batas psikologis.
Terhadap arah kebijakan pemerintah, dia memberikan contoh mengenai kebijakan ekspor pertambangan, yang walaupun emiten-emiten tersebut tidak terdampak oleh rebalancing MSCI belakangan, tetapi tetap mengalami pelemahan sepanjang tahun berjalan.
Belum lagi, pasar secara umum juga saat ini dibayangi oleh kinerja rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Baca Juga
- IHSG Anjlok 8,69%, Asing Tetap Borong Saham MDKA, EMAS hingga ADRO
- OJK Tunjukkan Kinerja Fundamental Emiten Masih Solid saat IHSG Ambles
- Bukan Hanya MSCI, OJK Sebut Sentimen Ekonomi Turut Tekan IHSG
”MSCI itu memang mempengaruhi. Tapi pemberat yang paling utama itu adalah arah kebijakan dan nilai tukar rupiahnya. Nah rupiah itu sebagai induk ekonomi bisa kita katakan ya. Jadi pada saat rupiah mengalami pelemahan, farmasi yang tidak masuk di dalam indeks MSCI pun dia bisa mengalami penurunan,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, penurunan IHSG sepekan ini, turut menekan nilai kapitalisasi pasar BEI. Sepanjang pekan ini, kapitalisasi pasar tercatat turun 8,59% menjadi Rp9.807 triliun dari Rp10.729 triliun pada pekan sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan posisi awal tahun, penurunan kapitalisasi pasar bahkan mencapai sekitar Rp6.207 triliun atau 38,8%. Berdasarkan data statistik BEI per 2 Januari 2026, kapitalisasi pasar Bursa saat itu mencapai Rp16.014 triliun dengan IHSG berada di level 8.748,13.
Di tengah pelemahan indeks dan kapitalisasi pasar, aktivitas perdagangan justru menunjukkan peningkatan. Rata-rata frekuensi transaksi harian menjadi indikator dengan kenaikan tertinggi, yakni 14,11% menjadi 2,41 juta kali transaksi dari 2,11 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Selain itu, rata-rata volume transaksi harian turut meningkat 8,66% menjadi 33,63 miliar saham dari 30,95 miliar saham pada pekan sebelumnya.
Namun demikian, rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan sebesar 5,71% menjadi Rp26,97 triliun dibandingkan Rp28,38 triliun pada pekan lalu.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





