Jakarta Future Festival 2026, Upaya Menavigasi Masa Depan Megapolitan

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta sangat luas dan kompleks, tapi justru semua permasalahan yang terkait dengan kota ini patut dirayakan. Bukan dalam artian berpesta, namun justru didiskusikan, dipertemukan dan dibahas. Warga dan pemangku kepentingan perlu urun rembug bersama melalui ruang netral yang mendekatkan semua unsur untuk mau terlibat menavigasi masa depan pembangunan Jakarta.

Jakarta Future Festival (JFF) sebagai gelaran kolaboratif perencanaan tata kota yang diselenggarakan oleh Pemprov DKI Jakarta bersama Bappeda menjadi wadah pertemuan tersebut.

“Festival ini tujuannya untuk mendekatkan isu publik tentang kota baik kepada masyarakat maupun juga kepada pemerintah secara bersamaan. Jadi kita ingin membuat suatu ruang temu. Ruang temu ini bukan hanya soal berdiskusi, tapi juga dalam berbagai format yang sekiranya mendekatkan isu itu kepada publik, apa sih yang sedang dikerjakan ataupun direncanakan oleh kota, dan juga sebaliknya, apa yang sekiranya menjadi harapan maupun juga keresahan warga terhadap kotanya untuk disampaikan kepada pemerintah,” kata Wilson Reynold dari organisasi independen Urun Daya yang memiliki peran sebagai wadah kolektif untuk mendorong pertumbuhan kota, lewat ekosistem kolaborasi dan menjadi partner Pemprov DKI dalam gelaran ini.

Acara ini secara rutin menghadirkan berbagai kegiatan dan fasilitas, di antaranya diskusi publik , berbagai seminar dan diskusi ide untuk merespons tantangan perkotaan, seperti perubahan iklim, tata kota, hingga inovasi digital. Selain itu juga ada pasar kreatif dan kuliner, aktivasi komunitas dan hiburan.

Pada pelaksanaan tahun ketiga JFF, tema yang diangkat untuk tahun ini adalah “Navigating Resilience.”. Tema ini diambil dengan melihat ada dua momentum yang paling strategis di kota Jakarta pada saat ini. Yang pertama tentu menuju usia 500 tahun Jakarta atau hampir setahun menuju lima abad Jakarta.

Kedua, JFF juga berupaya menyikapi situasi geoekonomi dalam melihat dinamika global, dinamika sosial juga saat ini. Bagaimana membuat Jakarta bisa jadi kota yang berketahanan atau resilient. “Kita melihat resilient ini dapat terwujud bila mana warganya mau urun daya bareng-bareng, mau sama-sama support. Kalau sama-sama mau bergabung, mau menyatu, ini jadi sesuatu yang resilient. Nah inilah yang kota Jakarta berusaha untuk lihat dan berusaha untuk kumpulkan, untuk menjadi satu kekuatan baru dalam menavigasi kota. Warga di sini bukan arti hanya konsumen sosial individu, tapi juga komunitasnya, NGO-nya, LSM-nya,” tutur Wilson.

Dalam forum ini ada sekurangnya sekitar 12 program berjalan untuk menerjemahkan ruang temu itu. Ada misalnya program Jakarta Forecast dan Jakarta Urban Policy Lab yang di mana JFF mengundang civitas akademika, universitas, organisasi riset maupun masyarakat umum untuk mengkaji kajian ataupun program pendampingan yang sedang berjalan, kebijakan yang sedang berjalan di kota. Contohnya seperti pengembangan kawasan Pasar Baru dan juga sistem pengelolaan sampah.

Masyarakat diundang untuk berpendapat dan memberikan kajian kritis terhadap kebijakan pemda. Hal ini untuk menemukan titik-titik buta (blind spot) dari kota Jakarta untuk diperhatikan oleh Pemprov.

Program diskusi seperti diskusi Urban Talks mengundang sekitar 250 pembicaraan nasional maupun internasional untuk berdiskusi dalam berbagai peran. Bukan hanya dari sisi regulator atau pembangun kebijakan, tapi juga dari pembuat ideasinya yaitu komunitas, media, dan juga ada NGO maupun juga dari sisi berbagai unsur masyarakat lainnya.

Ada sebanyak 50 ruang diskusi yang membahas dari tentang lingkungan, pendidikan, kesejahteraan sosial, sampai pada hal-hal yang unik seperti aktivasi ruang publik. JFF mempertemukan gagasan itu pada masing-masing diskusi. Ada satu sesi dimana pihak pemprov memoderasi dan memandu acara diskusi tersebut. Disitulah ruang-ruang ini disusun dan diramu menjadi urban talks.

Pada akhirnya seluruh sesi rembug bareng ini akan ditabulasi dalam sebuah buku yang akan menjadi rekomendasi kebijakan bagi perencanaan tahunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi Jakarta. Bagaimana hasil tabulasi dielaborasi pada kebijakan. Mengenai kekurangannya, sisi-sisi yang belum teramati (blind spot), hal-hal apa yang perlu dikembangkan.

Pelayanan tes kesehatan gratis berdasar kuota juga tersedia bagi warga Jakarta mulai dari tes kejiwaan, diabates, TBC dan lain sebagainya. Selain itu di beberapa stan pameran di Galeri Emiria Soenassa yang digelar unit pelayanan masyarakat seperti Dinas Kesehatan juga menyosialisasikan penanganan darurat berupa resusitasi jantung dan paru sebagai prosedur medis untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang mengalami henti napas atau jantung.

Selain itu, ada juga pelatihan yang mengundang komunitas untuk bisa berpendapat atau belajar. Seperti contohnya pada sesi haru pertama hari Jumat (5/6/2026) dimana warga diajar untuk bisa bagaimana kalau kita menjadi wali kota dalam sehari. Apa kebijakan yang perlu dibuat dengan medium mainan lego. Sehingga inilah yang menjadi ciri khas bagaimana warga bisa mengenal kota atau isunya dengan sesederhana mungkin. Dengan sesuatu yang menyenangkan, tidak rumit, tidak pelik. tapi memang mempunyai dampak.

Salah satu yang menarik adalah Jakarta Future Festival for Kids. Dengan menyadari bahwa anak-anak ini adalah masa depan, justru dari mereka harus bisa menyadari tentang kota dari sedini mungkin.

Programnya seperti pendekatan-pendekatan membaca, bercerita, mendongeng dan sebagainya. Seperti sesi membaca bersama dalam senyap buku berjudul “Na Willa” yang digelar di area terbuka. Buku ini bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Na Willa yang tinggal di sebuah gang di Surabaya yang menyajikan kumpulan catatan-catatan dari sudut pandangnya dengan rasa ingin tahu tinggi, kejujuran khas usia dini, dan sudut pandang yang lugu sekaligus menggugah.

Sesi ini diikuti dengan diskusi buku bersama penulis Reda Gaudiamo. Egi (39) yang datang dari Tebet bersama istri kedua anaknya yang berumur 10 dan tujuh tahun ini dengan taksi daring ini mengaku senang dengan kegiatan membaca bersama tersebut.

“Baru tau setelah datang kesini (Jakarta Futur Festival) ternyata ada banyak acara-acara selain membaca bersama ini setelah tadi pagi juga ikut mewarnai. (Kegiatan) ini bagus buat menarik minat anak-anak membaca lagi ya. Jadi menurut saya harus banyak bikin acara kayak gini nih. Biar anak-anak nggak cuma sekedar di era sekarang sosmed, gadget. Jadi dengan adanya mereka untuk membaca buku seperti ini, jadi minat orang-orang untuk membaca kembali lagi seperti dulu.” tuturnya.

Selain itu sudut Sahabat Gizi di Promenade menyuguhkan petualangan edukasi gizi interaktif untuk anak dan keluarga. Anak-anak diperkenalkan tentang pemahaman pentingnya gizi seimbang. Mereka diajak bermain dan belajar melalui permainan ular tangga, aktivitas gerak dan mewarnai untuk melatih sensor motorik dan imajinasi seni mereka hingga simulasi menghitung kadar gula dalam minuman kemasan.

Melalui edukasi ini anak-anak juga diharapkan dapat mengurangi konsumsi gula yan berlebihan dari makanan dan minuman ultraproses dan mencegah tengkes.

Ada juga aktivis komunitas dengan kolaborasi bersama komunitas Rujak Center for Urban Studies yang memberi ruang pameran dimana ada assessment tentang perumahan. Nanti itu akan menjadi satu acuan, dan lain sebagainya. Pameran tersebut bertajuk “House As Home” tentang hunian di Jakarta. Bagaimana mendevelop sebuah hasil riset agar mudah dipahami oleh pengunjung melalui sebuah pameran interaktif.

Dalam pameran ini pengunjung menjelajahi prinsip-prinsip hunian ideal mereka. Dimana nanti mereka akan menjalani semacam tes kepribadian untuk berkeliling menjelajahi konteks-konteks tentang hunian idela sesuai versi karakter mereka. Termasuk juga mengenali seperti hambatan-hambatannya.

Melalui JFF yang berlangsung hingga Hari Minggu (7/6/2026) ini, warga diajak berbahagia bersama merayakan ide-ide dan gagasan serta mengedepankan kepedulian terhadap kota yang mereka tinggali serta membangun ketangguhan bersama-sama menghadapi masa-masa yang sulit ke depannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pria di Lampung Tusuk Pacar 12 Kali Gegara Tak Diperbolehkan Menginap
• 12 jam laludetik.com
thumb
PLN Pastikan Pasokan Listrik di Jakarta Lancar saat Pemeliharaan Gardu PAM Jaya
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sambut HUT Bhayangkara, Polres OKI Resmikan Bedah Rumah bagi Eks Napiter
• 8 jam laludetik.com
thumb
WNI Tikam WNI hingga Tewas di Jepang, Mengaku Memang Berniat Membunuh
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Polytron Gelar Kompetisi Desain Fox 200 untuk Pelajar dan Mahasiswa
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.