Surabaya adalah kota pelabuhan yang berkembang menjadi metropolitan. Di kota ini, aktivitas masyarakat berdenyut siang dan malam. Tak hanya di bidang jasa dan industri, tetapi juga pariwisata.
Belakangan, ibu kota Provinsi Jawa Timur itu terus bersolek dengan mengembangkan wisata malam menyusuri Sungai Kalimas sebagai ikon baru Kota Pahlawan, selain mlaku-mlaku nang Tunjungan atau berjalan-jalan di kawasan Jalan Tunjungan.
Sang surya baru saja tenggelam di ufuk barat Surabaya pada Sabtu (30/5/2026) petang. Kehangatan yang tertinggal perlahan disapu semilir angin malam yang membelai dermaga Kalimas di Taman Prestasi. Petang itu, pergantian waktu menjadi momen magis yang berlangsung begitu cepat.
Dermaga Taman Prestasi berada di dalam kawasan Taman Prestasi, Jalan Ketabang Kali, Surabaya. Lokasinya tepat di belakang Gedung Negara Grahadi dan satu deretan dengan Balai Pemuda atau Alun-alun Surabaya.
Dari Jalan Tunjungan maupun Tunjungan Plaza, jaraknya sekitar 500 meter atau 10-15 menit berjalan kaki. Trotoar di sepanjang jalan relatif nyaman digunakan meski kondisinya belum sepenuhnya ideal hingga mencapai kawasan dermaga.
Seperti taman kota pada umumnya, Taman Prestasi dipenuhi pohon-pohon rindang. Taman ini juga dilengkapi fasilitas bermain anak, sarana olahraga ringan seperti jogging track, bangku taman, hingga aula untuk kegiatan komunitas.
Yang membedakannya dengan taman lain adalah keberadaan dermaga apung yang menjadi akses menuju Sungai Kalimas. Di sekitar dermaga tertambat belasan perahu wisata yang dihiasi lampu warna-warni. Dari sinilah wisata susur sungai dimulai.
Wisata susur Sungai Kalimas beroperasi setiap hari pukul 18.00-21.00 WIB. Pada akhir pekan tersedia tiga sesi, yakni pukul 08.00-12.00 WIB, pukul 15.00-17.00 WIB, dan pukul 18.00-21.00 WIB.
Namun, wisata malam menjadi pilihan favorit pengunjung karena menawarkan panorama yang berbeda dibandingkan siang hari. Pencahayaan artistik di sepanjang sungai, bayangan bangunan bersejarah, serta aktivitas masyarakat di tepian sungai menciptakan suasana yang khas.
”Bagi saya, wisata malam tidak hanya menghibur atau rekreatif, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional yang meninggalkan kesan mendalam. Seumur hidup saya baru pertama kali naik perahu, dan itu pun pada malam hari,” ujar Latifa (46), pengunjung asal Madiun.
Ada dua rute wisata yang ditawarkan. Pertama, rute Taman Prestasi-Monumen Kapal Selam (Monkasel) dengan harga tiket Rp 10.000 per orang. Kedua, rute Taman Prestasi-Museum Pendidikan dengan harga tiket Rp 7.000 per orang. Lama perjalanan sekitar 15 menit pulang-pergi.
Petang itu, selepas maghrib, ratusan pengunjung memadati loket Wisata Perahu Kalimas. Saat jarum jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, antrean telah mengular. Bahkan, sekitar 15 menit kemudian, petugas loket mengumumkan seluruh tiket sesi malam telah habis terjual.
”Kuota untuk sesi malam sekitar 300 orang. Semuanya sudah habis terjual. Bagi yang belum kebagian, bisa kembali lagi besok,” ujar petugas loket.
Setelah memenangkan war tiket melalui situs tiketwisata.surabaya.go.id dan menyelesaikan pembayaran secara nontunai, pengunjung memperoleh barcode yang kemudian dipindai di loket sebelum mengikuti aktivitas susur sungai.
Sebelum naik perahu, setiap penumpang wajib mengenakan jaket pelampung. Peralatan keselamatan itu tidak boleh dilepas selama perjalanan. Pemerintah Kota Surabaya juga terus memantau debit air Sungai Kalimas dan mengoptimalkan pengaturan pintu air untuk memastikan operasional wisata berjalan aman.
Jarum jam menunjukkan pukul 18.30 WIB saat perahu mulai bergerak meninggalkan Dermaga Taman Prestasi. Langit Surabaya malam itu tampak cerah tanpa awan.
Dari atas perahu yang mengambil rute menuju Monkasel dengan jarak tempuh sekitar 700 meter, lanskap Surabaya sebagai kota metropolitan terlihat jelas. Gedung-gedung tinggi berdiri di kejauhan, berpadu dengan pemandangan sungai dan gemerlap lampu kota.
Rute ini juga menyuguhkan pemandangan Gedung Grand City, kawasan terpadu yang menggabungkan pusat perbelanjaan dengan pusat konvensi dan pameran.
Di atas permukaan sungai tampak beragam lampion dan dekorasi bercahaya yang menambah semarak suasana malam. Saat perahu mendekati jembatan, muncul sedikit rasa waswas ketika memasuki area yang lebih gelap.
Namun, kekhawatiran itu segera sirna. Pemerintah Kota Surabaya telah menata area bawah jembatan dengan pencahayaan artistik yang memancarkan warna-warni cahaya. Di sepanjang tepian sungai juga terlihat taman-taman kota dan sejumlah tempat kuliner, termasuk restoran yang berada di atas perairan Kalimas.
Dari atas perahu, Surabaya terasa lebih ramah. Tak ada kemacetan lalu lintas dan udara malam terasa lebih sejuk. Riak-riak kecil di permukaan sungai mengayun perahu perlahan, menghadirkan sensasi yang menenangkan.
Di sepanjang sungai terlihat sejumlah dermaga apung yang telah dibangun, antara lain, di kawasan Grahadi, Monkasel, Taman Ekspresi, hingga Siola. Namun, sebagian besar dermaga tersebut belum dioperasikan sehingga wisatawan saat ini masih naik dan turun melalui Dermaga Taman Prestasi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Hery Purwadi, mengatakan, wisata perahu Kalimas masih berada dalam tahap revitalisasi dan pengembangan yang melibatkan sejumlah instansi.
”Program yang direncanakan, antara lain, revitalisasi area taman dan lintasan pejalan kaki atau jogging track yang mengelilingi sungai. Untuk meningkatkan daya tarik, kami juga melakukan pembaruan dekorasi di sepanjang kawasan,” kata Hery.
Wisata Perahu Kalimas mulai dikembangkan pada 2020, tetapi sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Kegiatan ini kembali diaktifkan pada 2022 dengan berbagai pembenahan dan terus dikembangkan hingga sekarang, termasuk integrasinya dengan Sentra Wisata Kuliner (SWK) yang menjadi wadah bagi pelaku usaha mikro.
Susur Kalimas menggunakan perahu hias bukan sekadar sarana rekreasi. Wisata ini juga menjadi cara Surabaya mempertahankan identitasnya sebagai kota maritim sekaligus menjaga memori kolektif masyarakat terhadap sungai yang dahulu menjadi tulang punggung kehidupan kota.
Kalimas yang pada masa lalu dikenal sebagai jalur pelayaran dan pusat perdagangan kini bertransformasi menjadi destinasi wisata baru yang ikut menggerakkan ekonomi masyarakat, termasuk sektor kuliner.
Sentra kuliner yang berada tepat di samping Taman Prestasi menawarkan beragam makanan khas Surabaya dan Jawa Timur, seperti soto ayam Lamongan, soto daging Madura, rawon, hingga pecel Madiun.
Tak terasa malam semakin larut. Saatnya kembali ke peraduan sambil membawa pulang kenangan tentang Surabaya yang terus berbenah, melalui langkah-langkah kecil di Jalan Tunjungan dan pelayaran singkat menyusuri Kalimas.




