Bola.com, Jakarta - Ponaryo Astaman adalah salah satu nama yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah sepak bola Indonesia. Selama satu dekade, dari 2003 hingga 2013, gelandang kelahiran Balikpapan, 25 September 1979 itu nyaris tak tergantikan di lini tengah Timnas Indonesia, bahkan sempat dipercaya menjadi kapten Tim Merah Putih. Bersama timnas, ia meraih runner-up Piala AFF 2004, runner-up Pestabola Merdeka 2006, dan juara Indonesian Independence Cup 2008.
Di level klub, Ponaryo menjelajahi hampir seluruh peta sepak bola nasional. Ia membela PKT Bontang, PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, hingga sempat mencicipi Liga Malaysia bersama Melaka TMFC, sebelum akhirnya mengakhiri karier profesionalnya di Borneo FC pada 2017. Kini ia masih setia bersama Pesut Etam sebagai Direktur Utama atau CEO klub.
Dari semua perjalanan itu, satu babak tetap paling membekas dalam ingatannya, yakni masa-masa bersama Sriwijaya FC. Di sanalah untuk pertama dan satu-satunya kali ia merasakan gelar juara liga tertinggi Indonesia, bersama skuad yang ia sebut sebagai yang paling klop yang pernah ia bagian darinya.
Berbicara kepada kanal YouTube Bola Bung Binder, Ponaryo membuka kenangan itu dengan jujur dan penuh kehangatan, menelusuri kembali dari mana semua bermula.




