Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dan tidak sebanding dengan tingginya inklusi keuangan. Catatan OJK ini diamini oleh Chief Human Resources & Marketing OfficerFWD Insurance,Rudy F. Manik di Surabaya kemarin.
Menurut Rudy, ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan asuransi jiwa khususunya, FWD Insurance saat ini memberi ketersediaan akses bagi seluruh lapisan masyarakat terhadap berbagai lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan formal. Akses ini harus diberikan secara adil, aman, dan dengan biaya terjangkau, sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
"Tugas besar kita salah satunya itu literasi keuangan. Karena literasi keuangan kita itu Indonesia itu angkanya masih 66,46 %. Inklusinya lebih tinggi, inklusinya itu 80,51 %," ujar Rudy
Disisi lain sebut Rudy, saat ini kondisi perekonomian global tidak menentu masyarakat perlu melakukan berbagai cara untuk memiliki rasa aman untuk menata finansial dengan baik dan benar.Berdasarkan data Pusat Statistik (BPS) RI Jawa Timur sebagai salah satu dari tiga provinsi dengan penyerapan tenaga kerja ekonomi kreatif tertinggi di Indonesia.Kondisi ini menunjukkan, meningkatnya kebutuhan masyarakat produktif, termasuk keluarga muda, terhadap perencanaan finansial yang lebih terstruktur.
Direktur Utama FWD Insurance, Jeffrey Woo menilai, bahwa kebutuhan ini juga dirasakan oleh masyarakat urban di Jawa Timur, khususnya kota Surabaya yang dikenal dengan pertumbuhan profesional muda, pelaku usaha, dan keluarga produktif yang terus berkembang.
Bahkan lanjut Jeffrey Woo, berdasarkan survei bahwa 66% responden mengaku masih merasa stres, khawatir, atau sekadar bertahansecara finansial, sementara hanya 34% yang merasa cukup percaya diri atau aman secara finansial
Mengatasi hal itu, Jeffrey Woo mengatakan, pihaknya sebagai perusahaan asuransi jiwa yang berfokus pada nasabah dengan dukungan teknologi, memperkenalkan Asuransi Jiwa FWD Income Prosperity (“FWD Income Prosperity”) di Surabaya.
Baca Juga: MPMInsurance Bayar Klaim Rp1,2 Miliar Akibat Banjir yang Hantam Fasilitas Produksi
Produk ini, dirancang untuk membantu nasabah menjaga stabilitas keuangan sekaligus merencanakan masa depan dengan lebih tenang melalui manfaat tunai tahunan yang terencana. Produk ini, pasti dapat manfaat tunai tahunan sebesar 14% atau 17% dari Premi Tahunan sesuai plan yang dipilih. (berlaku selama polis tetap aktif sampai dengan tahun pembayaran Manfaat Tunai Tahunan dan nasabah telah melunasi pembayaran premi yang telah jatuh tempo
Pasti mendapatkan manfaat lebih dari premi yang dibayar, dengan Manfaat Akhir Masa Asuransi sebesar 108% dari total premi dibayar (berlaku selama periode campaign hingga 31 Desember 2026).
Pasti diterima (guaranteed issue offer), tanpa pemeriksaan kesehatan untuk Uang Pertanggungan hingga Rp 2 miliar. Perlindungan atas risiko meninggal dunia hingga 130% premi dibayar dan tambahan meninggal dunia akibat kecelakaan.
“Kami memahami bahwa di tengah berbagai perubahan yang terjadi saat ini, banyak masyarakat ingin memiliki masa depan yang lebih tenang dan terarah. Karena itu, kebutuhan akan perlindungan kini tidak hanya soal berjaga-jaga terhadap risiko yang mungkin terjadi, tetapi juga menghadirkan manfaat tunai yang terstruktur serta kepastian dalam perencanaan keuangan, sehingga nasabah merasa yakin dalam merencanakan masa depan dan bisa fokus menjalani hidup. Melalui program ini kami ingin menghadirkan solusi perlindungan yang relevan dan mudah dipahami oleh masyarakat," terang Jeffrey Woo
Jeffrey Woo menambahkan, hadirnya FWD Income Prosperity sangat tepat dimana saat ini perkembangan inklusi keuangan di Indonesia. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan bahwa gap antara inklusi keuangan dan literasi keuangan tahun ini melebar menjadi 14,05% dibandingkan 9,59% pada 2024 lalu.





