Presiden ICCD Soroti Ketimpangan Global, Dorong Sistem Ekonomi Berbasis Etika dan Keadilan

pantau.com
8 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Presiden Kamar Dagang dan Pembangunan Islam (Islamic Chamber of Commerce and Development/ICCD), Abdullah Saleh Kamel, menegaskan dunia membutuhkan sistem ekonomi yang berbasis keadilan, produktivitas, dan etika, bukan sekadar mengejar keuntungan bagi pemilik modal.

Pernyataan tersebut disampaikan Kamel dalam KTT Forum AlBaraka untuk Ekonomi Islam bertema "Modal dalam Ekonomi Islam: Menata Kekayaan untuk Pembangunan Berkelanjutan" yang berlangsung pada 3–6 Juni 2026 di Istanbul, Turki.

Menurut Kamel, model ekonomi global saat ini mengalami ketidakseimbangan struktural karena modal semakin berfungsi sebagai instrumen yang hanya mengutamakan keuntungan pribadi tanpa memperhatikan dampak sosial terhadap kelompok rentan dan masyarakat terpinggirkan.

"Dunia membutuhkan sistem ekonomi yang mampu mengembalikan etika pada modal. Ia memperingatkan adanya ketidakseimbangan struktural dalam model ekonomi global yang berlaku saat ini," ungkap Kamel.

KTT tersebut dihadiri sejumlah tokoh internasional, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Syekh Dr. Saleh bin Abdullah bin Humaid, serta para menteri, gubernur bank sentral, pimpinan lembaga keuangan, dan peneliti dari berbagai negara.

Kritik terhadap Model Ekonomi Global

Kamel mengkritik praktik tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang dinilai belum mampu mengimbangi dampak negatif aktivitas bisnis terhadap lingkungan, manusia, dan hewan.

Menurutnya, kontribusi CSR sering kali hanya menutupi sebagian kecil dari kerusakan yang ditimbulkan perusahaan.

Ia juga menyoroti sejumlah negara yang mulai mempertimbangkan batas usia minimum penggunaan media sosial bagi anak-anak karena dampaknya terhadap pola pikir, kesehatan psikologis, dan perilaku generasi muda.

Kamel menilai fenomena tersebut mencerminkan adanya persoalan etika yang lebih mendasar dalam sistem ekonomi modern.

Selain itu, ia menyoroti meningkatnya konsentrasi kekayaan global pada kelompok kecil masyarakat.

Menurutnya, kekayaan dunia semakin terkonsentrasi pada satu persen kelompok terkaya sehingga memperlebar kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin.

Kamel juga menilai meningkatnya utang negara di berbagai belahan dunia menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang semakin besar dalam sistem ekonomi global.

Tiga Prinsip Modal dalam Ekonomi Islam

Kamel menjelaskan bahwa ekonomi Islam menawarkan kerangka alternatif melalui tiga karakteristik utama pengelolaan modal.

Karakteristik pertama adalah modal harus bersifat produktif, menghasilkan kekayaan, dan dibelanjakan secara produktif untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Karakteristik kedua adalah uang tidak boleh diperdagangkan sebagai komoditas karena prinsip tersebut menjadi dasar larangan riba dalam ekonomi Islam.

Menurutnya, uang seharusnya berfungsi sebagai alat pendukung kegiatan ekonomi, bukan menjadi objek perdagangan.

Karakteristik ketiga adalah kekayaan tidak boleh ditimbun atau dimonopoli oleh segelintir pihak.

Ia menjelaskan pengembangan kekayaan dalam ekonomi Islam dilakukan melalui instrumen zakat, sedekah, dan wakaf sebagai bentuk modal sosial dan filantropi.

Kamel menegaskan bahwa prinsip ekonomi Islam yang berlandaskan produktivitas, penciptaan kekayaan, pengeluaran produktif, serta tanggung jawab sosial tidak hanya relevan bagi umat Islam, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gilas Oman 3-0, Timnas Indonesia Akhiri Puasa Kemenangan Selama 38 Tahun-Dunia Olahraga
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Berstatus ASN, Ketua Bawaslu Tambrauw Dipecat DKPP
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Between Two Gates Yogya Ditutup Sementara, Etika Wisatawan Disorot
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
TOK! Eks Wamenaker Immanuel Ebenezer Divonis Penjara 4,5 Tahun!
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Megawati Sebut Bung Karno dan Fatmawati Sejatinya Seniman
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.