Bisnis.com, JAKARTA — Industri otomotif asal Cina mulai meninggalkan model bisnis tradisional “penjualan satu kali” dan beralih ke strategi baru berupa leasing lintas negara (cross-border leasing).
Produsen Cina memutar otak di tengah peningkatan hambatan perdagangan internasional, mulai dari lonjakan tarif impor tinggi hingga pengetatan persyaratan kandungan lokal di berbagai negara tujuan ekspor.
Dilansir dari Antara, Minggu (7/6/2026) data terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA), dikutip Minggu (7/6/2026), menunjukkan Cina mengekspor 769.000 kendaraan pada April, naik 80,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selama empat bulan pertama 2026, total ekspor menyentuh angka 3,127 juta unit, dengan kendaraan energi baru (New Energy Vehicle / EV) mendominasi hampir setengah dari akumulasi jumlah tersebut.
Meskipun volume pengiriman melonjak tajam, model perdagangan tradisional berbasis cash-on-delivery dinilai semakin kurang efektif dalam menembus proteksionisme pasar global.
Melalui mekanismenya, leasing lintas negara menawarkan pendekatan berbeda dengan tetap mempertahankan kepemilikan aset kendaraan di Cina, sementara pengguna di luar negeri membayar melalui sistem cicilan berkala.
Baca Juga
- Cara Cek Pajak Kendaraan Jakarta via Aplikasi Signal, Samsat, dan SMS
- Cara Bayar Pajak Kendaraan Online Lewat Aplikasi SIGNAL, Praktis Tanpa Perlu Antre di Samsat
- Insentif Kendaraan Listrik Ditunda, Pakar Usul Prioritaskan Daerah Penghasil Nikel
Skema ini mengubah fokus ekspor dari sekadar penjualan produk menjadi perdagangan jasa jangka panjang.
Struktur kontrak ini sering kali disusun dalam bentuk leasing pembiayaan (financial leasing). Keunggulan skema ini memungkinkan eksportir memperoleh manfaat finansial langsung berupa pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN/VAT) di dalam negeri, sehingga struktur arus kas korporasi menjadi lebih sehat.
Produsen juga diuntungkan oleh penetrasi pasar yang lebih dalam karena mampu mengubah biaya awal yang tinggi menjadi pembayaran berkala yang lebih terjangkau bagi konsumen internasional.
Strategi ini kerap digambarkan sebagai model “aset ringan, operasi berat”. Pendekatan ini disebut “ringan” karena perusahaan tidak perlu menanamkan investasi modal besar untuk membangun pabrik fisik atau membeli lahan di luar negeri.
Sebaliknya, model ini disebut “berat” karena menuntut kapabilitas operasional lokal yang kuat, mencakup pengelolaan aset, penilaian risiko kredit, hingga manajemen penarikan kembali kendaraan.
Guna meminimalkan risiko gagal bayar, sebagian besar perusahaan saat ini memfokuskan sasaran mereka pada kelompok pelanggan business-to-business (B2B), seperti operator armada transportasi daring yang memiliki profil kredit transparan.
Perusahaan leasing seperti Huasheng telah memulai operasional model ini di Uzbekistan dan Afrika Selatan, serta membidik Pakistan sebagai pusat operasional besar berikutnya melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga pembiayaan setempat.
Ketertarikan terhadap model bisnis baru ini terus meluas di kalangan internal industri. Seorang sumber internal mengungkapkan lebih dari 30 produsen dan merek otomotif terkemuka China, termasuk nama-nama besar seperti Dongfeng, Chery, GAC, dan BAIC, telah menyatakan minat untuk mengadopsi model kolaboratif ini demi mengamankan posisi mereka di pasar global.




