Keluarga Murtafia Rafika Devi (34) — bidan yang tewas dibunuh suaminya di Desa Blitok, Kecamatan Bungatan, Situbondo — menangis histeris di RSUD Abdoer Rahem Situbondo, Minggu (7/6) pukul 10.30 WIB. Mereka tak menyangka Devi tewas di tangan suaminya.
Bude korban, Sunarsih (50), mengatakan pelaku dikenal sebagai sosok yang memiliki rasa cemburu berlebihan. Pelaku bahkan kerap melacak ponsel korban.
"Orangnya pencemburu buta. Kalau ada nomor handphone baru di ponsel korban, pasti langsung dilacak. Bahkan menantu saya yang kebetulan sama-sama bekerja di RSUD juga sempat dicemburui oleh dia," kata Sunarsih di RSUD Abdoer Rahem Situbondo.
Adik korban, Hariza Dinina Belinda Putri Alda Dinova, mengaku tak ikhlas dengan kepergian kakak kandungnya itu.
"Saya tidak ikhlas," ucapnya sambil menyeka air mata di RSUD Abdoer Rahem Situbondo.
Korban Sudah Tinggal Terpisah dari Suami
Belinda menuturkan, dalam dua bulan terakhir sang kakak sebenarnya sudah tinggal di rumah orang tua mereka di Desa Blitok, Kecamatan Bungatan.
"Sudah dua bulan tinggal di rumah bapak. Namun, kami tidak tahu apakah di luar mereka masih sering bertemu atau tidak, karena setiap kali berpamitan, almarhumah selalu bilang mau pergi kerja," ungkap Belinda.
Di balik kepergiannya yang tragis, Belinda mengenang sebuah pesan mendalam dari bidan RSUD Besuki tersebut. Almarhumah sempat menitipkan sebuah curhatan sekaligus peringatan agar adiknya tidak mengalami nasib rumah tangga yang sama.
"Almarhumah sempat menyampaikan kepada saya, 'Semoga kamu tidak dapat suami seperti Mbak'," kenang Belinda lirih.
Selama ini, korban dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup mengenai masalah rumah tangganya. Meski Belinda sudah berulang kali menasihati korban untuk menyudahi hubungan dengan suaminya, korban lebih sering memilih bungkam.
"Orangnya selalu diam, kalau ditanya hanya diam. Padahal saya sudah berkali-kali mengingatkan untuk meninggalkan suaminya," tambahnya.
Pelaku sendiri telah menyerahkan diri ke polisi. Ia telah ditahan dan dimintai keterangan.





