OECD Ramal BI Rate Baru Akan Turun Perlahan pada Awal 2027

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memproyeksikan https://www.bisnis.com/topic/201/bank-indonesia (BI) baru akan menurunkan suku bunga acuannya secara bertahap menuju level yang lebih netral pada awal 2027.

Dalam laporan bertajuk OECD Economic Outlook edisi Juni 2026, lembaga yang bermarkas di Paris, Prancis itu memperkirakan bahwa bank sentral akan mempertahankan sikap kebijakan ketat yang moderat (moderately restrictive) hingga akhir tahun ini. Langkah kehati-hatian ini diambil karena tekanan dari luar.

OECD menyoroti bahwa BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei 2026. Kenaikan ini merespons peningkatan risiko (upward risks) yang dipicu oleh transmisi tingginya harga energi global serta pelemahan nilai tukar rupiah yang telah terdepresiasi sekitar 6% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun.

Untuk menjaga inflasi domestik secara berkelanjutan sesuai target yaitu 2,5±1%, OECD menilai BI perlu terus mengedepankan pendekatan yang bergantung pada data (data-dependent approach).

BI pun diyakini harus menyeimbangkan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengawasan ketat terhadap tekanan harga akibat gejolak energi dan pelemahan kurs. Di samping itu, peluang pelonggaran moneter masih terbuka lebar di tahun depan.

"Apabila nilai tukar stabil dan dampak putaran kedua [second-round effects] tetap terkendali, suku bunga kebijakan dapat diturunkan secara bertahap menuju level yang lebih netral pada awal 2027," tulis OECD dalam laporannya, dikutip Minggu (7/6/2026).

Baca Juga

  • Maybank Indonesia (BNII) Gelar RUPSLB Akhir Juni 2026, Cek Agendanya
  • Maybank Indonesia Catat Laba Sebelum Pajak Rp397 Miliar di Q1 2026
  • Bank Indonesia Cirebon Pastikan Stok Pangan Terjaga Jelang Iduladha

Dari sisi inflasi, pemerintah sejauh ini dinilai cukup membantu meringankan beban bank sentral. OECD mencatat bahwa kebijakan penahanan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi saat ini sangat membantu dalam membendung laju tekanan inflasi akibat melesatnya harga energi global.

Secara keseluruhan, OECD memproyeksikan laju inflasi umum (headline inflation) Indonesia akan menyentuh level 3,4% pada 2026 sebelum kembali melandai ke 2,5% pada 2027. 

Sementara itu, seiring dengan masih ketatnya suku bunga dan tekanan biaya energi yang membebani konsumsi maupun investasi, laju pertumbuhan ekonomi (PDB) diproyeksikan akan berada di angka 4,7% pada 2026 dan baru kembali pulih ke level 5,0% pada 2027.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Vonis Inkrah, Muhammad Taufan Diberhentikan Tidak Hormat dari ASN Maros
• 14 jam lalueranasional.com
thumb
Rupiah Melemah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Hasto PDIP: Buah Tata Negara Tidak Berjalan Baik
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Tidur Nyenyak Pakai Kasur Berkualitas, Beli di Transmart Dijamin Hemat
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menggunakan Sandal Tipis untuk Aktivitas Harian: Berpengaruh pada Kaki?
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Korea Utara Tegaskan Program Nuklir Tidak Bisa Dinegosiasikan
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.