”Kembali ke toko buku. Tempat cerita menemukan pembacanya, gagasan menemukan ruangnya, dan manusia menemukan sesamanya.” Kalimat itu menghiasi salah satu pilar bangunan toko buku yang kini hadir dengan wajah baru.
Di tengah gegap gempita pembangunan mal di Kota Semarang, sebuah ruang lama hadir kembali dalam wujud baru. Toko Buku Gramedia bertransformasi menjadi Gramedia Jalma setelah beberapa bulan melakukan pembaruan konsep. Wajah barunya resmi diperkenalkan kepada publik sejak awal Juni 2026.
Pagi itu, Minggu (7/6/2026), tempat tersebut menjadi oase bagi penggemar membaca dan pencinta buku. Mereka seolah menemukan ruang yang nyaman untuk tenggelam dalam bacaan, menggali ide, dan memperluas pengetahuan melalui beragam sumber literasi.
Gramedia Jalma Pandanaran mengusung konsep yang lebih kekinian sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman. Rak-rak buku tidak lagi ditata secara konvensional, tetapi menyatu dengan ruang yang lebih terbuka. Kehadiran sofa, meja kerja, hingga fasilitas stop kontak di berbagai sudut turut menambah kenyamanan pengunjung.
Kesan yang paling menonjol adalah upaya menghadirkan ruang kreatif yang dekat dengan generasi muda. Kehadiran kedai kopi menjadikan toko buku ini sebagai titik temu antara rekreasi dan literasi. Sejumlah pengunjung tampak larut dalam bacaan dengan secangkir kopi di tangan.
Di tengah keramaian itu, Anastasia Riska (41) menyusuri lorong-lorong rak buku. Sesekali ia memperlihatkan komik kepada anaknya yang akan masuk SMP. Di tangannya telah menumpuk tiga novel yang siap dibawa pulang.
”Tempatnya menyenangkan. Ada kursi untuk duduk dan bisa ngopi sambil baca-baca,” ujarnya. Menurut Anastasia, suasana baru toko buku ini dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk kembali dekat dengan buku di tengah derasnya distraksi gawai.
Di sudut lain ruangan, Dinda (23) tampak bersandar di sofa sambil membaca novel Problematik Summer Romance. Ia sengaja datang untuk menikmati koleksi buku baca di tempat yang disediakan bagi pengunjung. ”Jadi ketemu tempat yang nyaman untuk membaca dan mengisi waktu luang kalau sedang tidak ada pekerjaan,” katanya.
Menurut Dinda, suasana toko buku kini terasa jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Ruangnya lebih santai dan berpotensi menjadi alternatif tempat bekerja ataupun belajar.
Di bagian atas dekat pintu masuk, pengunjung akan menemukan penjelasan mengenai makna jalma yang berarti ’manusia atau orang’. Nama itu menjadi benang merah konsep yang diusung: ruang yang dibangun oleh manusia, menghadirkan karya-karya manusia, dan ditujukan untuk manusia.
Di tengah menjamurnya ruang-ruang komersial di kota, Gramedia Jalma mencoba menghidupkan kembali fungsi sederhana sebuah toko buku: tempat manusia bertemu gagasan, merayakan pengetahuan, dan pada akhirnya menemukan sesamanya.





