Cianjur (ANTARA) - Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat kenaikan harga kedelai lebih terkendali dibandingkan sebelumnya dimana harga merangkak naik akibat melemahnya nilai rupiah terhadap Dolar Amerika.
Ketua Kopti Cianjur Hugo Siswaya saat dihubungi di Cianjur Minggu, mengatakan sejak nilai tukar rupiah melemah harga bahan baku kedelai terus merangkak naik, sehingga dampaknya mulai memberatkan pelaku usaha di Cianjur karena biaya operasional membengkak.
Pihaknya menilai kenaikan harga saat ini merangkak tidak seperti sebelumnya langsung melambung tinggi, namun tetap dirasakan berat bagi sekitar 300 pengusaha tahu dan tempe di Cianjur, sehingga mereka berharap ada upaya dari pemerintah untuk menstabilkan harga.
"Meski kenaikan lebih terkendali dibandingkan dengan sebelumnya namun tetap saja berdampak terhadap pelaku usaha tahu tempat di Cianjur, kami berharap pemerintah turun tangan secepatnya guna menstabilkan harga kedelai di pasaran," katanya.
Dia menjelaskan, berbagai upaya dilakukan pelaku usaha guna menekan kenaikan biaya operasional yang terus mengalami kenaikan, sehingga tidak sedikit yang memilih berhenti berproduksi karena merugi.
Ia mengungkapkan, ada sekitar 50 pengusaha tahu yang berhenti sementara karena tidak mampu lagi membeli bahan baku, sementara yang lain masih bertahan dengan mengurangi ukuran tahu atau mengurangi skala produksinya.
Baca juga: Elegi perajin tahu yang menolak menyerah
Baca juga: Perajin tahu Kulon Progo sesuaikan ukuran tahu siasati harga kedelai
Sementara pemilik Pabrik Tahu di Kecamatan Cianjur Taufik Munandar, mengatakan sejak nilai tukar rupiah melemah berdampak terhadap bahan baku kedelai impor yang bergantung pada nilai tukar mata uang, dimana harga satu kilogram kedelai mencapai Rp10.500.
Kenaikan harga kedelai yang terus merangkak naik membuat ongkos produksi mengalami kenaikan sedangkan angka penjualan terus menurun, kondisi tersebut membuat pihaknya menghentikan produksi sejak dua bulan terakhir karena terus merugi.
"Biasanya setiap hari kami dapat mengolah 100 sampai 200 kilogram kedelai menjadi tahu atau tempe dengan melibatkan 14 orang pekerja, namun sejak harga kedelai terus merangkak naik, biaya operasional membengkak sedangkan pendapatan menurun," katanya.
Dia dan ratusan pengusaha tahu tempe di Cianjur, berharap pemerintah dapat segera membantu menstabilkan harga kedelai di pasaran agar para pelaku usaha dapat kembali berproduksi.
Baca juga: Perajin tempe di Ponorogo siasati ukuran imbas kenaikan harga kedelai
Baca juga: Mentan ancam cabut izin importir kedelai naikkan harga tidak wajar
Baca juga: Wamentan pastikan kawal isu kenaikan harga kedelai imbas perang
Ketua Kopti Cianjur Hugo Siswaya saat dihubungi di Cianjur Minggu, mengatakan sejak nilai tukar rupiah melemah harga bahan baku kedelai terus merangkak naik, sehingga dampaknya mulai memberatkan pelaku usaha di Cianjur karena biaya operasional membengkak.
Pihaknya menilai kenaikan harga saat ini merangkak tidak seperti sebelumnya langsung melambung tinggi, namun tetap dirasakan berat bagi sekitar 300 pengusaha tahu dan tempe di Cianjur, sehingga mereka berharap ada upaya dari pemerintah untuk menstabilkan harga.
"Meski kenaikan lebih terkendali dibandingkan dengan sebelumnya namun tetap saja berdampak terhadap pelaku usaha tahu tempat di Cianjur, kami berharap pemerintah turun tangan secepatnya guna menstabilkan harga kedelai di pasaran," katanya.
Dia menjelaskan, berbagai upaya dilakukan pelaku usaha guna menekan kenaikan biaya operasional yang terus mengalami kenaikan, sehingga tidak sedikit yang memilih berhenti berproduksi karena merugi.
Ia mengungkapkan, ada sekitar 50 pengusaha tahu yang berhenti sementara karena tidak mampu lagi membeli bahan baku, sementara yang lain masih bertahan dengan mengurangi ukuran tahu atau mengurangi skala produksinya.
Baca juga: Elegi perajin tahu yang menolak menyerah
Baca juga: Perajin tahu Kulon Progo sesuaikan ukuran tahu siasati harga kedelai
Sementara pemilik Pabrik Tahu di Kecamatan Cianjur Taufik Munandar, mengatakan sejak nilai tukar rupiah melemah berdampak terhadap bahan baku kedelai impor yang bergantung pada nilai tukar mata uang, dimana harga satu kilogram kedelai mencapai Rp10.500.
Kenaikan harga kedelai yang terus merangkak naik membuat ongkos produksi mengalami kenaikan sedangkan angka penjualan terus menurun, kondisi tersebut membuat pihaknya menghentikan produksi sejak dua bulan terakhir karena terus merugi.
"Biasanya setiap hari kami dapat mengolah 100 sampai 200 kilogram kedelai menjadi tahu atau tempe dengan melibatkan 14 orang pekerja, namun sejak harga kedelai terus merangkak naik, biaya operasional membengkak sedangkan pendapatan menurun," katanya.
Dia dan ratusan pengusaha tahu tempe di Cianjur, berharap pemerintah dapat segera membantu menstabilkan harga kedelai di pasaran agar para pelaku usaha dapat kembali berproduksi.
Baca juga: Perajin tempe di Ponorogo siasati ukuran imbas kenaikan harga kedelai
Baca juga: Mentan ancam cabut izin importir kedelai naikkan harga tidak wajar
Baca juga: Wamentan pastikan kawal isu kenaikan harga kedelai imbas perang





