HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Program Studi Magister Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas) senantiasa melakukan evaluasi dalam upaya peningkatan mutu akademik, serta perluasan kerja sama strategis dengan institusi lain.
Ketua Program Magister HI Unhas, Prof. Darwis, Ph.D, di ruang kerjanya di Kampus Unhas Tamalanrea, kemarin, mengatakan, untuk mencapai tujuan tersebut, pada 21-22 Mei lalu, mereka melaksanakan benchmarking (studi banding) akademik ke Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Dalam kunjungan itu juga ditandai dengan terwujudnya komitmen kerjasama strategis dengan kedua perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, yaitu Program Studi Magister HI UGM dan Program Studi Magister HI UMY.
Kunjungan ini juga sekaligus merupakan langkah strategis dalam rangka pengembangan kurikulum, penyempurnaan mekanisme tugas akhir, serta pembukaan peluang kerjasama akademik yang saling menguntungkan.
“Kegiatan benchmarking ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Magister HI FISIP Unhas dalam memastikan relevansi dan daya saing kurikulumnya di tingkat nasional maupun internasional,” ucap Prof Darwis.
Melalui dialog langsung dengan kedua mitra institusi, tim dari Magister HI FISIP Unhas berhasil memperoleh gambaran komprehensif mengenai praktik terbaik (best practices) dalam penyelenggaraan pendidikan pascasarjana bidang Hubungan Internasional.
Meneladani Model Kurikulum Berbasis Kompetensi UGM
Dikatakan pula, dari kunjungan ke UGM, tim Magister HI FISIP Unhas mendapatkan wawasan penting terkait penerapan Kurikulum K24 yang mengintegrasikan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Kurikulum ini menetapkan beban studi 100 ECTS (setara 60 SKS) dengan pembagian konsentrasi yang terstruktur sejak awal—meliputi konsentrasi MAIR dan DTC—sehingga mahasiswa memiliki arah akademik yang jelas sejak hari pertama perkuliahan.
Salah satu inovasi menonjol yang ditemukan di UGM adalah mekanisme Workshop Penulisan Tesis (WPT), sebuah mata kuliah wajib di Semester 2 yang dirancang untuk memandu mahasiswa dari tahap penyusunan proposal hingga seminar proposal tesis. Sistem ini terbukti efektif dalam menyinkronkan keahlian dosen pembimbing dengan topik penelitian mahasiswa, sekaligus menjamin kualitas tesis yang dihasilkan.
Adopsi Mekanisme Publikasi Ilmiah dari UMY
Sementara itu, kunjungan ke UMY memberikan perspektif berbeda yang tak kalah berharga. Magister HI UMY, yang telah meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT sekaligus akreditasi internasional FIBAA pada tahun 2024, menerapkan kebijakan publikasi ilmiah sebagai syarat wajib kelulusan. Mahasiswa diwajibkan memiliki artikel yang diterima atau diterbitkan pada jurnal bereputasi minimal SINTA 2, atau bahkan jurnal terindeks Scopus, sebagai bagian integral dari tugas akhir mereka.
Yang menarik, UMY telah berhasil mengintegrasikan budaya riset dan publikasi ke dalam desain mata kuliah. Beberapa mata kuliah dirancang dengan luaran berupa artikel ilmiah yang wajib disubmit. Artikel terbaik yang berhasil terbit bahkan dapat diklaim sebagai pemenuhan syarat tugas akhir. Sistem ini, didukung olehMe pelatihan pengolahan data menggunakan perangkat seperti Nvivo dan Atlas.ti yang diselenggarakan rutin setiap semester, telah berhasil meningkatkan produktivitas publikasi mahasiswa secara signifikan.
Membuka Jalan Kerja Sama Strategis
Menurut Darwis, kunjungan tersebut menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat besar bagi masing-masing pihak. Selain fokus pada kurikulum dan mekanisme akademik, kegiatan benchmarking ini juga menghasilkan sejumlah kesepakatan awal yang membuka peluang kerjasama konkret.
Dengan UGM, disepakati penjajakan skema pertukaran dosen melalui mekanisme kuliah tamu sistem blok atau joint course, khususnya pada mata kuliah dengan irisan tematik seperti Perspektif dalam Politik Global. Nota kesepahaman akan dikoordinasikan pada level Dekanat kedua institusi.
Adapun dengan UMY, yang menilai kerjasama dengan Unhas sangat potensial, disepakati untuk menindaklanjuti Perjanjian Kerja Sama (PKS) sesegera mungkin guna memformalkan program pertukaran dosen dan mahasiswa. Langkah ini sejalan dengan semangat kolaborasi antarperguruan tinggi dalam meningkatkan mutu pendidikan Hubungan Internasional di Indonesia.
Kegiatan benchmarking ini mencerminkan komitmen Magister HI FISIP Unhas untuk terus berinovasi dan belajar dari praktik terbaik institusi-institusi terkemuka. Hasil dan rekomendasi dari benchmarking ini akan menjadi masukan berharga dalam proses revisi dan penyempurnaan kurikulum, yang pada akhirnya diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang unggul, kompetitif, dan mampu berkontribusi nyata dalam dinamika hubungan internasional di era global. (*)





