JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto mengomentari film Ghost in The Cell karya Joko Anwar sebagai film yang bermuatan kritik sosial.
“Dan kemudian yang kritik sosialnya, dia (karakter di film) berasal dari Solo. Nomor registrasinya 2106 1961. Ini sangat simbolik. Maka ini film yang mencerdaskan,” ujarnya di Bioskop Metropole XXI, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).
Baca juga: PDIP: Bulan Bung Karno Ekspresikan Narasi Kemerdekaan Sejak Sukarno 16 Tahun
Film Ghost In The Cell ditayangkan dalam rangka Bulan Bung Karno di bioskop yang tidak jauh dari Kantor DPP PDIP ini.
Hasto mengatakan, film tersebut mirip dengan sikap Sukarno yang melawan kapitalisme dan imperialisme.
“Di dalam film itu sama mengungkapkan bagaimana Bung Karno melakukan perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme yang selalu menampilkan wajah baru di mana pada dasarnya itu adalah suatu nafsu,” kata Hasto.
Baca juga: Rahasia di Balik Instalasi Macabre Ghost in the Cell
Hasto mengatakan, secara spesifik menyoroti karakter pengusaha korupsi dalam film yang dinilainya menjadi refleksi situasi sosial saat ini.
Hasto juga mengatakan, materi yang disampaikan dalam film tersebut menggugah kesadaran agar negara dikelola dengan baik.
"Maka ini menggugah kita agar Bulan Bung Karno menyadarkan kita semuanya untuk setia pada nilai-nilai moral, setia pada idealisme, setia pada etika di dalam kehidupan bersama," ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang