Kisah Timothy Astandu, Orang Indonesia Pertama yang Mengunjungi 197 Negara di Dunia

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com - Bagi sebagian orang, bepergian ke luar negeri mungkin menjadi cara untuk menikmati keindahan alam, mencicipi kuliner baru, atau sekadar memenuhi daftar destinasi impian.

Namun bagi Timothy Astandu, perjalanan memiliki makna yang jauh lebih mendalam.

Selama bertahun-tahun, ia menghabiskan waktunya berpindah dari satu negara ke negara lain untuk satu tujuan sederhana, namun tidak mudah, yakni memahami manusia.

Perjalanan itu membawanya menginjakkan kaki di 197 negara dan wilayah di dunia. Ia menjadi orang pertama yang berhasil menuntaskan perjalanan tersebut menggunakan paspor Indonesia.

Baca juga: Warga Vietnam Pilih Liburan ke Luar Negeri Akibat Tiket Pesawat Domestik Mahal

Dari jumlah itu, sebanyak 193 merupakan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara berstatus pengamat PBB, yakni Vatikan dan Palestina, serta dua wilayah dengan pengakuan terbatas, Taiwan dan Kosovo.

Perjalanan yang ditempuh Timothy tidak sekadar soal berpindah tempat. Setiap negara yang ia datangi menjadi ruang belajar untuk memahami cara manusia berpikir, berinteraksi, mengambil keputusan, hingga memaknai kebahagiaan.

Baginya, percakapan dengan penduduk lokal sering kali lebih berharga dibanding membaca laporan atau melihat data dari balik layar komputer.

Baca juga: Menlu Tanggapi Kritik Dino Patti Djalal soal Prabowo Sering ke Luar Negeri: Kita Harus Gaul

“Setiap pasar yang saya kunjungi menjadi arena observasi lapangan. Dan kebiasaan konsumsi masyarakat, mulai dari negara yang sedang dilanda konflik hingga negara terkaya di dunia, menghasilkan wawasan yang tidak dapat diperoleh tanpa hadir secara langsung,” ujar Timothy saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Minggu (7/6/2026).

Selama perjalanan itu, Timothy berkali-kali menemukan kenyataan yang berbeda jauh dari asumsi yang selama ini berkembang.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat mengunjungi Irak.

Negara yang selama bertahun-tahun kerap diasosiasikan dengan konflik dan ketidakstabilan itu justru memperlihatkan wajah lain yang tidak banyak diketahui orang.

Baca juga: Rencana MBG Meluncur ke Luar Negeri, Anak PMI di Jeddah Jadi Sasaran

“Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan, di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya,” kata Timothy.

Pengalaman serupa juga ia temukan di sejumlah negara yang selama ini identik dengan konflik bersenjata.

Menurut Timothy, Somalia dan Yaman yang kerap muncul dalam pemberitaan mengenai perang ternyata tetap memiliki kehidupan sosial yang berjalan sebagaimana mestinya.

Di sana masih terdapat pusat perbelanjaan, taman hiburan, hingga masyarakat yang menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Perekrut CPMI Ilegal ke Kamboja Diduga Kabur ke Luar Negeri, Polisi Ajukan Red Notice


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ahli Gizi Ungkap Asupan Nutrisi Tiga Jam Sebelum Olahraga Bantu Jaga Performa Atlet
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Sehun EXO Kasih Kode Bakal Balik ke Jakarta, Ungkap Venue Harus Lebih Besar
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Peringatan Tsunami di Gorontalo Utara Pascagempa Magnitudo 7,7 Berakhir, Warga Kembali ke Rumah Masing-Masing
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Rupiah Melemah, Pengusaha Kawasan Industri Sebut RI Masih Menarik buat Investasi
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
PLN Pasok Listrik 1.450 MVA untuk Data Center Digital Edge, Terbesar di Indonesia
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.