JAKARTA, KOMPAS.com - Denting suara alat musik tradisional gambang berpadu dengan gesekan sukong dan alunan kromong memecah sore di sudut Jalan Pengadegan Timur Raya, Pancoran, Jakarta Selatan.
Di antara para pemain musik yang duduk berjejer, tampak wajah-wajah muda yang mungkin tak banyak orang duga bisa memainkan berbagai alat tradisional yang ada.
Jari para Gen Z itu terlihat begitu lincah menari di atas alat-alat musik tradisional tersebut untuk menghidupkan kembali irama yang sudah tak asing lagi untuk warga Betawi selama ratusan tahun.
Di tengah derasnya arus musik modern dan budaya digital, generasi Z dari Sanggar Silibet Pengadegan memilih jalan yang berbeda menjaga gambang kromong agar tetap berbunyi.
Ketua Divisi Gambang Kromong Sanggar Silibet Hastomo Cahyo (28) mengatakan, jumlah anggotanya kini sekitar 14 orang.
Baca juga: Kisah Nouval, Remaja Belasan Tahun yang Menolak Lenong Betawi Punah Ditelan Zaman
Namun tidak di setiap acara semua anggota tampil, karena gambang kromong yang dimainkan oleh personel Sanggar Silibet terbagi menjadi dua kategori yakni klasik dan modern.
Jika klasik maka alat musik yang ditampilkan hanya tradisional saja, seperti gambang, kromong, gendang, taehyan, sukong, dan lain sebagainya, sehingga personelnya hanya sekitar tujuh hingga delapan orang.
Sementara apabila modern maka akan ada tambahan alat musik seperti drum, keyboard, bass, dan gitar, maka personel yang akan tampil bisa mencapai 14 orang.
Diturunkan oleh orangtuaPria yang akrab disapa Tomo mengaku, sudah dikenalkan gambang kromong oleh ayahnya sejak kecil.
Sebab, sang ayah merupakan seorang seniman gambang kromong dan membuka sanggar bernama Dendang Jakarta di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Sejak kecil ia dipaksa ayahnya untuk berlatih bermain alat-alat tradisional yang ada di gambang kromong.
Sampai akhirnya, ia jatuh cinta pada alat musik tradisional kromong dan mulai berlatih dengan serius sejak duduk di kelas enam bangku sekolah dasar (SD).
Tomo baru bisa bermain kromong secara baik beriringan dengan alat musik tradisional lain, ketika sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Baca juga: Dari Panggung ke Layar Ponsel, Riwayat Lenong Betawi Kini...
Sama seperti Tomo, Gen Z lain bernama Nouval (19) juga memilih menekuni gambang kromong karena ingin mengikuti jejak sang ayah.
“Alhamdulillah, saya memang penerus. Orangtua saya adalah pemain alat musik, salah satunya Tehyan. Paman saya juga pemain Tehyan, dan sekarang saya yang meneruskannya,” ungkap dia ketika ditemui Kompas.com di Sanggar Silibet, Kamis (4/6/2026).





