Liputan6.com, Jakarta - Jemaah haji Indonesia yang mulai bergerak dalam gelombang perpindahan dari Makkah menuju Madinah diwajibkan melewati Terminal Hijrah sebelum diizinkan menuju hotel masing-masing. Pos ini dioperasikan sebagai titik pemeriksaan perdana guna memastikan seluruh data dokumen perjalanan valid.
Kepala Sektor (Kasektor) Terminal Hijrah, Divia Ardianto, menjelaskan bahwa petugas langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap armada bus yang tiba dari Makkah. Langkah ini diambil untuk mencocokkan manifest perjalanan demi menghindari kekeliruan lokasi penurunan jemaah.
Advertisement
“Pertama kita cek jumlah bus dan jumlah jemaah dalam satu bus. Selanjutnya kita mengecek nomor kontrak yang menjadi tujuan penurunan jemaah sehingga tidak terjadi kesalahan antara data yang terdaftar dengan dokumen yang dibawa sopir maupun kernet,” kata Divia kepada tim Media Center Haji di Madinah, Minggu, 7 Juni 2026.
Selain berfungsi sebagai gerbang verifikasi, Terminal Hijrah menjadi pusat pengendali pergerakan bus menuju sektor-sektor pemondokan di Madinah. Sistem informasi di pos ini langsung mengirimkan notifikasi kedatangan bus ke sektor tujuan. Menurut Divia, koordinasi awal tersebut krusial agar petugas di hotel tidak menerima kedatangan jemaah secara mendadak dan bisa melakukan persiapan penyambutan lebih matang.
Menariknya, dalam proses pemeriksaan ketat ini, jemaah haji Indonesia sama sekali tidak perlu turun dari kendaraan demi menjaga efisiensi waktu dan kenyamanan.
“Justru petugas yang naik ke masing-masing bus untuk memastikan jumlah yang tertulis sesuai dengan jumlah jemaah yang ada,” ujar Divia.
Untuk mengawal kelancaran pos pemantauan ini, sebanyak 35 personel disiagakan di Terminal Hijrah. Puluhan petugas tersebut dibagi ke dalam tiga tim operasional yang bekerja secara bergantian, di mana masing-masing tim dipimpin oleh petugas Perlindungan Jemaah (Linjam).




