Bengkel Mobil Listrik, Oase di Era Elektrifikasi

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Beberapa mobil dari berbagai jenama dengan pelat nomor lis biru terparkir di pinggir jalan dekat bangunan di kompleks perumahan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bangunan mirip ruko dengan tiga bukaan pintu gulung seperti garasi itu dipakai Arif Budi (36) menjadi bengkel mobil.

Bengkel itu bukan bengkel mobil biasa, melainkan bengkel perbaikan mobil listrik yang dirintis Arif sejak Desember 2025. Di dalam bengkel seluas 60 meter persegi itu terdapat bongkaran baterai mobil beserta beberapa alat penguji kelistrikan, seperti balancer dan alat pengisi daya (charger) sel baterai. Lantai keramik bengkel pun pecah dan ambles di empat titik karena tidak kuat menyangga berat mobil yang direparasi di dalam bengkel.

Kisah bengkel mobil listrik milik Arif bermula saat ia membeli empat mobil listrik eks taksi melalui proses lelang, awal tahun 2025. ”Harganya murah, masing-masing mobil Rp 30 juta dan harus beli sepaket (empat mobil). Awalnya saya kira seperti mobil bensin biasa. Ternyata itu mobil listrik. Pusing saya, apalagi ada empat mobil yang mesinnya tak bisa dinyalakan,” ujar Arif yang  biasa  merestorasi  mobil  eks  taksi, Rabu (29/4/2026).

Awalnya saya kira seperti mobil bensin biasa. Ternyata itu mobil listrik. Pusing saya.

Berbagai upaya ia lakukan supaya bisa merestorasi empat mobil listrik itu. Ia bertanya ke beberapa bengkel di Yogyakarta dan Malang, tetapi bengkel itu belum berani membongkar baterai mobil listrik.

Akhirnya ia mendatangi bengkel resmi mobil listrik dekat rumahnya. Arif kaget, biaya ganti baterai dipatok Rp 320 juta. Jika beli per modul baterai harganya Rp 60 juta, padahal satu rangkaian baterai total ada 10 modul.

Belajar karena terpaksa

Bermodalkan ilmu teknik elektro di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK), Arif nekat membongkar sendiri mobil listriknya. ”Saya belajar sendiri sekitar lima bulan. Baterai mobil beberapa kali kami turunkan dan naikkan. Itu karena saya sudah buntu, tidak menemukan tempat yang bisa memperbaiki baterai dengan harga yang masuk akal,” ujar Arif yang sehari-hari dibantu dua montir di bengkelnya.

Di dalam bengkel mobil listrik milik Arif, banyak ditemukan bongkaran modul baterai mobil dan beberapa alat penguji kelistrikan.

Bongkaran modul listrik diperiksa satu persatu untuk mengetahui tingkat kerusakan. Melalui proses ini, kerusakan baterai bisa diperbaiki secara parsial.

Baterai dicek menggunakan balancer dan alat pengisi daya. Proses ini dilakukan Arif satu per satu pada setiap modul baterai yang dibongkar.

Selama belajar membongkar mobil listrik, Arif dibantu temannya di China yang juga penyedia suku cadang mobil listrik yang ia butuhkan. Setelah beberapa kali mencoba memperbaiki, akhirnya satu mobil listrik mesinnya bisa berfungsi kembali. ”Awalnya saya coba satu berhasil ’hidup’. Itu mobil saya pakai sendiri. Kemudian yang kedua juga ’hidup’. Yang ketiga juga, baru setelah itu saya mulai buat konten di media sosial,” kata Arif.

Tak lama setelah itu, bengkelnya bernama ”Dirgantara Auto Project” menjadi buah bibir banyak warganet. Arif tak menyangka, ternyata banyak orang yang juga bermasalah dengan mobil listriknya. Satu demi satu konsumen datang ke bengkel Arif.

Bengkelnya lalu menjadi seperti oase di tengah makin banyak pengguna mobil listrik di Indonesia. Sementara itu, belum ada bengkel mobil listrik alternatif yang tersedia, kecuali bengkel resmi dari setiap jenama produsen mobil listrik.

Baca JugaEranya Mobil China, Menguasai Elektrifikasi Dunia

Daya tarik bengkel Dirgantara adalah ongkos perbaikan yang lebih terjangkau. Arif memasang tarif jasa bongkar pasang Rp 4 juta. Sementara biaya baterai disesuaikan dengan tingkat kerusakan sel. Ia memperkirakan, untuk kerusakan baterai ringan membutuhkan biaya sekitar Rp 10 juta. Itu pun ia beri garansi enam bulan untuk perbaikan baterai.

Arif melihat membuka usaha bengkel mobil listrik berpeluang menguntungkan. Namun, ia sadar, perlu modal lebih besar dibandingkan dengan bengkel mobil pada umumnya. ”Misalnya, mau buka bengkel biasa, Rp 50 juta cukup. Kalau mobil listrik, Rp 150 juta sampai Rp 200 juta belum terbeli semua. Makanya kalau perorangan buka bengkel mobil listrik, problemnya membutuhkan modal yang besar,” ucap Arif

Menunggu kestabilan

Sementara bengkel kendaraan listrik ”E-Clont Solusi Energi” milik Abdullah (37) saat ini fokus pada perbaikan sepeda motor listrik, skuter/otopet listrik, sepeda listrik, dan panel surya. Setelah pasar mobil listrik terbentuk, bengkel yang berlokasi di Bantul dan Sleman, DI Yogyakarta, itu juga akan mengembangkan usaha pada perbaikan mobil listrik.

”Ke depan, bisnis kami mengarah pada perbaikan mobil listrik. Dari tahun 2020, plakat bengkel kami tulisannya memperbaiki mobil listrik. Selain menunjukkan arah usaha bengkel, plakat itu juga sebagai afirmasi ke tim bahwa ke depan fokusnya menangani mobil listrik,” katanya, Senin (4/5/2026).

Bengkel kendaraan listrik "E Clont Solusi Energi" memberikan layanan perbaikan kendaraan listrik di Sleman, DI Yogyakarta.

Abdullah (37), pemilik bengkel kendaraan listrik "E Clont Solusi Energi" sudah membuka pelatihan sejak 2022 pada 1.200 peserta.

Konversi sepeda motor BBM ke motor listrik menjadi keterampilan yang banyak diminati. Contoh lain ditemukan di Bengkel Konversi Motor Listrik SMK 2 alias Skandupa Electric di Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut dia, perbaikan mobil listrik sebenarnya sama dengan kendaraan listrik lain yang memiliki komponen baterai, controller, dan motor/dinamo. Hal yang membedakan adalah volume kapasitas unitnya. Namun, ia tak langsung membuka bengkel mobil listrik karena melihat kestabilan pasar mobil listrik yang bisa berdampak pada bisnis bengkelnya.

”Perbaikan mobil listrik itu alatnya lebih serius. Kalau melepas baterai sepeda motor listrik, tinggal diangkat baterainya. Namun, kalau mobil, tidak bisa asal lepas dan pasang. Dibutuhkan lifter dan ekstra proteksi ke ruangan karena tegangan baterai mobil listrik bisa lebih dari 300 volt,” ujar Abdullah yang juga membuka pelatihan teknisi kendaraan listrik.

Sejumlah orang sudah beberapa kali menghubungi Abdullah untuk memperbaiki mobil listrik. Meski punya kemampuan memperbaiki mobil listrik, pria yang akrab dipanggil ”Dul Teknik” ini menolak permintaan konsumen karena tidak ingin menghanguskan garansi mobil listrik milik mereka. ”Ada beberapa orang yang bertanya, apakah bisa jangkauan kemampuan baterai mobilnya dibuat lebih jauh. Atau apakah bisa mobil listrik ditambah fitur ini, fitur itu,” ucapnya.

Abdullah mengaku, dukungan dari produsen kendaraan listrik untuk memberikan pelatihan sangat minim. Selama ini ia memilih belajar otodidak untuk memperbaiki kendaraan listrik. ”Tahun 2024, baru satu merek mobil listrik yang memberikan pelatihan, tetapi sifatnya hanya melengkapi pengetahuan yang sudah saya miliki,” ujarnya.

Perbaikan mobil listrik itu alatnya lebih serius. Dibutuhkan lifter dan ekstra proteksi ke ruangan karena tegangan baterai mobil listrik bisa lebih dari 300 volt.

Menjaga garansi

Sistem baterai masih menjadi komponen paling mahal dalam produksi kendaraan listrik. Menurut jurnal penelitian Electric Vehicle Production Costs and Financial Impacts (Özdemir& Kirhasanoğlu, 2025), proporsi harga baterai 30 hingga 40 persen dari total harga satu unit kendaraan listrik. Hal ini yang menjadi kekhawatiran pengguna kendaraan listrik jika baterai rusak.

Untuk mengantisipasi biaya perbaikan yang besar, pengguna mobil listrik berupaya menjaga garansi mobilnya tetap aktif. Seperti Pradono (45), warga Yogyakarta, yang empat tahun menggunakan mobil listrik, mengurungkan niat modifikasi mobil.

”Seingat saya garansi baterai itu enam atau tujuh tahun. Banyak mobil diganti peleknya dan lain-lain. Saya tidak berani ganti. Saya pernah bertanya kepada sales mobil, ganti pelek saja bisa memengaruhi garansi,” kata Pradono, Selasa (5/5/2026).

Sejauh ini Pradono hanya mengandalkan bengkel resmi untuk perawatan rutin mobil listriknya. Biaya yang ia keluarkan relatif hemat. Selama empat tahun, biaya perawatan mobilnya tidak lebih dari Rp 5 juta.

Meski ketika nanti masa garansi habis, tidak menutup kemungkinan Pradono akan melirik bengkel alternatif, terutama terkait baterai. ”Sekarang dengan biaya servis yang murah, saya pilih bengkel resmi. Kecuali baterai, saya akan ke bengkel alternatif. Infonya di Jakarta ada bengkel yang bisa betulin baterai mobil listrik. Saya sudah follow IG-nya kalau saya butuhkan setelah masa garansi habis,” kata Pradono.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kecelakaan Maut di Bojonegoro, Truk Hino Tabrak Pemotor hingga Tewas
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemkab Pamekasan Alokasikan DBHCHT Rp59,4 Miliar untuk Kesehatan dan BLT Buruh Tembakau
• 9 jam lalupantau.com
thumb
KPK Lakukan OTT Lagi, Bupati Muara Enim Diamankan
• 14 menit laluidxchannel.com
thumb
Pasca-penangkapan Dadan Cs, Pakar Desak Pembenahan Total Regulasi & Tata Kelola Anggaran MBG
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Siswi SMA di Bulukumba Jatuh dan Tenggelam di Tebing Apparalang saat Swafoto
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.