REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin (8/6/2026). Pada awal sesi, IHSG berada di level 5.486,31, turun dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.594,76. IHSG bahkan sempat anjlok lebih dari 4 persen sebelum akhirnya kembali ke level minus 2 persen pada pagi ini.
Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan yang membayangi pasar saham domestik setelah IHSG anjlok 8,69 persen sepanjang pekan lalu. Pelemahan pasar dipicu kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, inflasi Mei yang mencapai 3,08 persen secara tahunan dan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS memicu kekhawatiran investor. Di saat yang sama, arus modal asing terus keluar dari pasar saham.
- IHSG Dibuka Anjlok Hingga 4 Persen, Investor Diimbau Wait and See Sebelum Average Down
- IHSG Amblas, Ekonom Senior Indef Minta Pemerintah Jaga Kepercayaan Pasar
- IHSG Merah Lagi, Turun 245 Poin pada Penutupan Perdagangan
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan tekanan pasar juga diperberat oleh penyesuaian indeks FTSE Russell yang mendorong aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
“Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat tekanan terhadap IHSG cukup berat dan sulit diimbangi oleh dana domestik,” kata Hari dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menurut dia, investor masih perlu mewaspadai sejumlah data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, mulai dari cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, hingga penjualan ritel. Data-data tersebut akan menjadi gambaran awal kondisi daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.
Selain faktor domestik, sentimen global juga belum sepenuhnya mendukung. Pasar masih menanti data inflasi Amerika Serikat yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Hari menilai tren pelemahan IHSG saat ini belum menunjukkan tanda pembalikan arah yang kuat. Karena itu, investor ritel disarankan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
“Strategi yang lebih aman saat ini adalah menjaga modal dan menghindari averaging down secara agresif sebelum ada sinyal stabilisasi yang lebih jelas,” ujarnya.
Ia menambahkan investor jangka menengah dapat mulai mencermati saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan barang konsumsi, yang valuasinya dinilai semakin menarik setelah koreksi pasar. Namun, pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter dan pergerakan rupiah.
Di tengah kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai masih memiliki peluang untuk diperdagangkan dalam jangka pendek, yakni PT Timah Tbk (TINS), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR). Selain itu, investor yang menginginkan instrumen lebih defensif dapat mencermati Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) yang berisi saham-saham berdividen.
Sepanjang tahun berjalan, aksi jual investor asing di pasar saham tercatat telah mencapai sekitar Rp 60,8 triliun. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kepercayaan pelaku pasar masih berada dalam tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik.




