TEHERAN, KOMPAS.TV - Iran dilaporkan meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Minggu (7/6/2026). Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC) menyatakan serangan ini adalah balasan atas pelanggaran gencatan senjata berulang Israel di Lebanon.
Markas Pusat Khatam Al-Anbiya Iran menyatakan serangan ini diluncurkan setelah Israel mengebom Distrik Dahiyeh di wilayah selatan Beirut. Serangan Israel tersebut diketahui menewaskan dua orang dan menimbulkan sekitar 20 korban luka.
Baca Juga: Hizbullah Tolak Gencatan Senjata Terbaru Saat Serangan Israel Tewaskan 4 Orang di Lebanon
Khatam Al-Anbiya menegaskan Beirut tidak boleh disentuh oleh Israel. Serangan ke Beirut disebut akan memicu eskalasi dan perluasan serangan ke berbagai wilayah.
"Kami sebelumnya telah mengingatkan bahwa jika kejahatan di pinggiran Beirut meluas, kami akan menyerang target-target di darah pendudukan (Israel)," demikian pernyataan Khatam Al-Anbiya dikutip Al Jazeera.
IRGC menyatakan pihaknya menargetkan pangkalan militer David Ramat di Israel. IRGC menyebut operasi ini sebatas peringatan atas "pembunuhan dan pengusiran" masyarakat di wilayah selatan Lebanon.
"Operasi malam ini hanyalah peringatan. Jika agresi diulangi, respons akan lebih luas dan mencakup seluruh target Amerika-Zionis di kawasan," demikian pernyataan IRGC.
Angkatan Bersenjata Israel (IDF) menyatakan berhasil menyergap seluruh rudal yang ditembakkan Iran. Gelombang serangan udara tersebut dilaporkan sempat memicu sirene serangan udara di Israel.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta kedua pihak menahan diri. Trump mengaku telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak menyerang Iran.
Akan tetapi, pada Senin (8/6), Israel dilaporkan tetap meluncurkan serangan udara ke Iran. Media-media Iran melaporkan ledakan terdengar di daerah Teheran, Tabriz, dan Isfahan.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Gading-Persada
Sumber : Al Jazeera
- iran serang israel
- serangan israel ke lebanon
- irgc
- perang iran
- iran
- donald trump





