JAKARTA, KOMPAS.com - Terjun ke dunia musik gambang kromong merupakan hal yang tidak pernah pemuda bernama Wawan (27) inginkan sebelumnya.
Namun, karena terlahir sebagai cucu seniman lenong kondang bernama Mpok Nori, ia sudah dicekoki berbagai kesenian Betawi sejak kecil.
Sejak usianya masih belia, Wawan sudah diminta meneruskan darah seni neneknya.
“Beliau memarahi saya dengan berkata, “Siapa lagi yang mau meneruskan kalau bukan kamu?” Begitu pesannya,” kata Wawan ketika berbincang dengan Kompas.com di Sanggar Betawi Silibet Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Gambang Kromong Tetap Bergema di Tangan Gen Z
Ingin sekali cucunya terjun ke dunia seni Betawi, Mpok Nori memaksa Wawan untuk masuk SMKN 57 jurusan karawitan agar bisa menekuni gambang kromong.
Awalnya, Wawan sempat menolak karena ingin mengambil jurusan lain ketika di SMK.
Tetapi, karena tidak bisa menolak permintaan sang nenek, akhirnya ia berusaha menjalani.
“Namun, karena sering dimarahi dan diingatkan, akhirnya saya masuk ke jurusan itu. Ternyata setelah dijalani, rasanya menyenangkan dan pilihan itu tidak salah,” sambung dia.
Pilih gendangKetika sekolah, Wawan pun diminta untuk memilih apakah mau mengambil spesialis tehyan atau gendang.
Ia pun memutuskan untuk menekuni gendang, karena berpikir jangka panjang bahwa alat musik tersebut sering dibutuhkan di berbagai acara, bukan hanya gambang kromong.
Kini terbukti kemampuan bermain gendangnya itu bisa menjadi pintu rezeki untuk cucu Mpok Nori tersebut.
Dalam satu minggu, ia bisa mendapat panggilan bermain gendang kurang lebih tiga hingga empat kali.
“Sistem cabutan dari berbagai sanggar, tidak hanya menetap di satu tempat. Itulah alasan saya mendalami kendang, agar bisa bermain di mana saja,” jelas Wawan.
Baca juga: Kisah Nouval, Remaja Belasan Tahun yang Menolak Lenong Betawi Punah Ditelan Zaman
Wawan bilang, bermain gendang tidak lah mudah, karena harus menyinkronkan pola antara tangan kiri dan kanan yang berbeda.
Meski awalnya sulit, telapak tangan Wawan kini sudah begitu mahir memainkan alat musik tradisional tersebut.
Selain sibuk tampil dari panggung ke panggung, Wawan juga bekerja sebagai pengajar ekstrakurikuler gambang kromong di sekolah.
Kemudian, ia juga membuat lagu untuk tarian tradisional dan melakukan rekaman musik tari.
Ke panggung internasionalPerjalanan panjang Wawan mengikuti saran neneknya untuk menggeluti gambang kromong pun membuahkan hasil.
Panggung tampilnya kini tidak hanya dari daerah ke daerah, tapi beberapa kali juga sudah ke kancah internasional.
“Kemarin saya baru saja kembali dari Korea. Lalu pada tahun 2024 saya juga pernah ke Praha, Ceko, Eropa,” tutur Wawan.





