Bisnis.com, BALIKPAPAN — PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) membukukan laba bersih sebesar Rp241 juta pada kuartal pertama tahun 2026.
Hal itu terungkap dalam Public Expose Tahunan perseroan yang digelar secara hybrid di Kantor Pusat SBMA, Jalan Jenderal Sudirman No. 5-6, Balikpapan, baru-baru ini.
Wakil Direktur Utama SBMA Welly Sumanteri menyatakan pendapatan usaha perseroan pada periode Januari—Maret 2026 tercatat sebesar Rp31,41 miliar, atau relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp32,48 miliar.
"Kestabilan itu ditopang oleh kesinambungan aktivitas pelanggan di sektor industri, energi, konstruksi, serta pelanggan strategis di wilayah operasional Kalimantan," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).
Meski roda bisnis tetap berputar, penurunan laba dibandingkan periode sebelumnya tak bisa diabaikan begitu saja.
Welly menjelaskan tekanan itu bersifat temporer dan berpangkal pada sejumlah faktor teknis.
Baca Juga
- Avtur Naik, Inflasi Balikpapan Ikut Terbang per Mei 2026
- Pengamat Sebut Kaltim dalam Ancaman Bedol Desa Tenaga Kerja
- Harga TBS Sawit di Kaltim Merosot untuk Periode II Mei 2026
"Penurunan laba lebih banyak dipengaruhi oleh faktor timing pengakuan pendapatan, peningkatan beban operasional strategis, serta tekanan margin yang bersifat sementara," jelasnya.
Salah satu faktor yang mempertebal beban perseroan adalah adanya outstanding invoice senilai sekitar Rp1,8 miliar pada salah satu proyek strategis.
Secara operasional proyek tersebut telah berjalan, tapi pendapatannya belum dapat diakui pada kuartal pertama lantaran masih dalam proses administrasi penagihan.
Kondisi itu menciptakan jurang waktu antara pengakuan biaya dan pengakuan pendapatan dalam satu periode buku yang sama.
Dia menambahkan, beban gaji dan upah turut memberikan tekanan tambahan. Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) pada tahun ini jatuh di kuartal pertama, sementara pada tahun sebelumnya berada di kuartal kedua.
Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp295,56 miliar, atau meningkat dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya yang didorong oleh penguatan aset tetap dan pengembangan infrastruktur operasional.
Total ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp239,39 miliar, yang menurut manajemen mencerminkan struktur permodalan yang masih solid.
Di sisi lain, perseroan telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk menambah dan menyesuaikan sejumlah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), mencakup sektor industri bahan bangunan, perdagangan besar bahan bangunan, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), hingga layanan logistik pengangkutan barang khusus berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 10 November 2025.
Sebagai wujud konkret dari langkah tersebut, perseroan kini tengah membangun fasilitas produksi paving block.
Hingga periode pelaporan, progres konstruksi telah mencapai sekitar 40 persen dan ditargetkan rampung sebelum akhir 2026.
Mesin produksi utama pun disebut telah selesai diadakan dan sedang dalam proses pengiriman dari luar negeri menuju lokasi operasional.
Sementara itu, Direktur Utama SBMA Rini Dwiyanti menegaskan langkah diversifikasi bukan sekadar ekspansi demi ekspansi, melainkan telah melalui kajian kelayakan yang terukur.
"NPV positif sebesar Rp6,35 miliar, IRR sebesar 19,21% yang berada di atas discount rate 10,38%, serta Payback Period sekitar 4 tahun 8 bulan mencerminkan periode pengembalian investasi yang relatif baik," paparnya.
Digitalisasi dan Ekspansi Kalimantan UtaraTak hanya melirik lahan bisnis baru, SBMA juga memperkuat fondasi operasional dari dalam.
Perseroan tengah melanjutkan implementasi Saffix Bottle Tracking System, sebagai sebuah sistem pelacakan tabung gas berbasis digital yang dirancang untuk meningkatkan keterlacakan dan efektivitas pengelolaan aset distribusi.
Saat ini, implementasi sistem tersebut memasuki tahap rekonsiliasi dan sinkronisasi data sebelum penerapan penuh secara bertahap.
Di sisi ekspansi geografis, perseroan mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur pendukung di salah satu wilayah operasional di Kalimantan Utara telah berjalan secara bertahap sebagai bagian dari strategi perluasan jaringan distribusi.
Adapun, dia menuturkan penguatan layanan dan sistem monitoring menjadi kunci daya saing ke depan.





