Prabowo Ungkap Alasan RI Beli Alutsista dari Prancis

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan alasan Indonesia aktif membeli alat utama sistem senjata (Alutsista) dari sejumlah negara Eropa dalam beberapa waktu terakhir. Ia meyakini Eropa saat ini cenderung menjalankan kebijakan pertahanan secara independen.

Prabowo menyampaikan hal tersebut dalam sesi wawancara khusus dengan Jurnalis Atlantico, Jean-Sébastien Ferjou. Menteri Pertahanan 2019-2024 itu mengatakan, Prabowo menganggap negara-negara Eropa tidak bergantung pada Amerika Serikat (AS) dalam urusan keamanan dan pertahanan domestiknya.

Menurut Prabowo, hubungan di dalam aliansi NATO lebih mencerminkan ketergantungan timbal balik antar anggota dibandingkan ketergantungan satu pihak terhadap pihak lainnya. Ia juga menilai para pemimpin Eropa telah menunjukkan kemampuan untuk mengambil posisi sendiri dalam berbagai isu internasional.

“Seperti yang kita amati selama puncak krisis Iran baru-baru ini, para pemimpin Eropa menunjukkan posisi independen mereka sendiri,” kata Prabowo, dikutip dari Atlantico pada Senin (8/6).

Prabowo mengatakan Indonesia melihat otonomi strategis Eropa sebagai sebuah kenyataan yang terus berkembang. Pandangan itulah yang menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menjalin kerja sama pertahanan yang lebih erat dengan sejumlah negara Eropa.

Ia menyebut Indonesia memilih mengakuisisi berbagai peralatan pertahanan canggih dari Prancis, Spanyol, dan Italia karena meyakini negara-negara tersebut memiliki kapasitas industri pertahanan yang kuat sekaligus kebijakan strategis yang independen.

“Inilah sebabnya mengapa kami memilih untuk mengakuisisi peralatan pertahanan canggih dari Prancis, Spanyol, dan Italia. Kami percaya otonomi strategis Eropa akan terus berlanjut,” kata Prabowo.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia cenderung memperluas kerja sama pertahanan dengan negara-negara Eropa. Satu diantaranya Indonesia membeli pesawat tempur Rafale dan kapal selam Scorpene dari Prancis.

Presiden Prabowo Subianto tercatat telah lima kali bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam kurun waktu setahun terakhir. Intensitas pertemuan ini dinilai mencerminkan semakin strategisnya posisi Prancis bagi Indonesia, terutama dalam kerja sama pertahanan, teknologi, hingga geopolitik Indo-Pasifik.

Pertemuan pertama berlangsung saat Macron melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada 27 Mei 2025 dan mengunjungi Candi Borobudur. Setelah itu, Prabowo menghadiri Bastille Day di Paris pada 14 Juli 2025. Pertemuan mereka kembali berlangsung pada 23 Januari 2026 di Prancis usai Prabowo melakukan lawatan agenda tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss.

Prabowo kembali bertolak ke Prancis untuk menemui Macron di Istana Élysée pada 14 April 2026. Yang terbaru, Prabowo melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis pada 26 Mei 2026.

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Rizal Darma Putra, menilai Prancis merupakan negara Barat yang memiliki posisi politik luar negeri relatif independen dibandingkan dengan sekutu utama Amerika Serikat lainnya di Eropa, seperti Inggris dan Jerman.

Menurut dia, sikap itu membuat Prancis dipandang memiliki kedekatan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia. “Prancis berani mengatakan tidak kepada Amerika sewaktu ingin menginvasi Irak. Prancis keras menolak narasi koalisi Amerika yang menyatakan Irak memiliki senjata pembunuh massal,” kata Rizal saat dihubungi lewat sambungan telepon pada Jumat (29/5).

Selain faktor geopolitik, Rizal menyebut kerja sama pertahanan menjadi salah satu alasan utama kedekatan kedua negara. Menurut dia, Prancis relatif lebih terbuka dibandingkan dengan Amerika Serikat dalam urusan transfer teknologi militer.

Ia mencontohkan pembatasan penggunaan alutsista dan transfer teknologi dari AS dinilai lebih ketat. Sementara Prancis dianggap lebih longgar dalam kerja sama industri pertahanan.

Keterangan Rizal senada dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Sugiono. Sugiono pada 22 April, menceritakan hasil kunjungan kerja Prabowo saat bertemu Macron di Istana Élysée pada 14 April. Hasil pembicaraan keduanya, salah satunya menyepakati kerja sama pertahanan, terutama dalam aspek transfer teknologi dan pengadaan persenjataan militer.

Prabowo sebelumnya juga menyaksikan penyerahan enam unit jet tempur Rafale kepada Tentara Nasional Indonesia. Enam unit Rafale ini merupakan bagian dari kontrak 42 unit yang telah disepakati pada 2022 lalu.

Seremoni penyerahan berlangsung di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Senin (18/5). Selain Rafale, sejumlah armada tempur buatan Prancis lainnya seperti enam unit pesawat Falcon 8X dan satu pesawat Airbus A400M juga turut diserahkan kepada TNI.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Marah Besar Beirut Diserang, Gempur Israel dengan Gelombang Rudal
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Jepang Tiba-Tiba Gelar Latihan Militer, Pamer Senjata Hipersonik Baru
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Timnas Indonesia Bidik Kemenangan dari Mozambik: Maarten Paes Diharap Berdiri di Bawah Mistar, Calvin Verdonk Kembali Jadi Starter
• 2 jam lalubola.com
thumb
Akhir Cerita Heroik Ananda Raehan Bersama PSM Makassar, Segera Bhayangkara FC
• 16 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo Perintahkan Tambahan Sekolah Rakyat di Bali, Manfaatkan Aset Pemerintah
• 22 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.