Indonesia Belum Resesi, namun Gejalanya Mulai Terlihat

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, FAJAR–Ekonomi Indonesia babak belur. Hanya, belum sampai pada level resesi.

Sejumlah indikator ekonomi memang menghadapi anomali. Inflasi turun dan ekonomi tumbuh. Tekanan terhadap rupiah dan efek naiknya harga energi memicu gejolak dalam negeri.

Material naik, suku cadang kendaraan melambung, bahkan harga-harga ikut terkerek. Ini merupakan sinyal bagi pemerintah untuk segera bergerak dan mencari jalan yang tak biasa-biasa saja. Jika tidak, tekanan akan makin membesar.

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Sutardjo Tui menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup solid. Kekhawatiran terhadap resesi dinilai masih cukup berlebihan.

“Faktanya kita memiliki kinerja ekspor baik dan neraca perdagangan yang surplus,” ujar Sutardjo, Minggu, 7 Juni 2026.

“Jadi secara fundamental ekonomi kita tidak terganggu. Yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan capital outflow. Ketika investor melepas saham lalu mengalihkan dananya ke dolar untuk dibawa ke luar negeri, maka permintaan dolar meningkat dan rupiah menjadi tertekan,” paparnya.

Pelemahan rupiah tidak selalu mencerminkan buruknya kondisi ekonomi riil. Alasannya, aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia masih menunjukkan kinerja positif.

“Barang yang kita ekspor masih kuat, surplus perdagangan juga masih ada. Jadi persoalannya bukan karena ekonomi riil kita runtuh, tetapi lebih kepada pergerakan modal di pasar keuangan. Karena itu saya melihat sentimen pasar berperan cukup besar dalam kondisi saat ini,” tuturnya.

Penguatan penggunaan mata uang rupiah dalam transaksi domestik serta pengelolaan devisa hasil ekspor penting menjaga stabilitas nilai tukar. Meski rupiah tertekan, Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Cadangan devisa Indonesia masih dalam kondisi normal dan masih mampu membiayai kebutuhan impor selama sekitar empat bulan. Itu menunjukkan bahwa bantalan ekonomi kita masih kuat,” imbuhnya.

Jika terjadi tekanan di pasar valuta asing, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas rupiah. Eks banker plat merah itu menegaskan, kondisi tersebut sangat berbeda dengan karakteristik negara yang sedang mengalami resesi.

Resesi terjadi ketika ekonomi mengalami kontraksi dalam beberapa periode berturut-turut. Sementara Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi positif.
“Karena itu saya melihat resesi tidak mungkin terjadi dalam kondisi saat ini. Fundamental ekonomi kita masih kuat, inflasi terkendali, pertumbuhan ekonomi tetap positif, dan cadangan devisa juga masih memadai,” ucapnya.

Melemahnya nilai tukar rupiah diprediksi tidak akan berlangsung lama. “Saya memprediksi Juni dan Juli ini puncaknya, Rp20 ribu pun masih aman. Mungkin setelah Juli rupiah mulai pulih dan menguat lagi,” tutupnya.

Perlambatan

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Di saat pemerintah masih menegaskan bahwa Indonesia belum berada dalam ancaman resesi dan sejumlah indikator makroekonomi masih menunjukkan pertumbuhan positif, kenyataan yang dirasakan masyarakat di lapangan justru berbeda.

Harga berbagai kebutuhan masih dianggap tinggi, daya beli belum pulih sepenuhnya, lapangan pekerjaan berkualitas dinilai makin sulit diperoleh, sementara gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor terus menjadi perhatian publik.

Situasi ini memunculkan pertanyaan apakah ekonomi masih tumbuh dan inflasi terkendali, mengapa masyarakat merasa hidup semakin berat, atau apakah Indonesia sebenarnya sedang menuju resesi.

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyyah (Unismuh) Makassar Abdul Muttalib Hamid menilai kondisi yang sedang dihadapi Indonesia saat ini lebih tepat disebut sebagai kombinasi antara perlambatan pertumbuhan ekonomi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dan melemahnya sentimen pasar dibandingkan sebagai resesi yang sesungguhnya.

Dalam ilmu ekonomi, resesi memiliki definisi yang jauh lebih spesifik daripada sekadar melemahnya kurs rupiah atau meningkatnya keluhan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

“Secara akademik, resesi umumnya didefinisikan sebagai kontraksi produk domestik bruto (PDB) riil selama dua kuartal berturut-turut yang disertai pelemahan aktivitas ekonomi secara luas. Karena itu pelemahan rupiah yang terjadi saat ini harus dipahami sebagai sinyal tekanan ekonomi yang memerlukan kewaspadaan, tetapi belum cukup untuk dijadikan bukti bahwa Indonesia telah memasuki fase resesi,” ujarnya.

Meski demikian, pelemahan rupiah tetap merupakan alarm penting yang tidak boleh diabaikan. Dalam berbagai laporan ekonomi pada periode April hingga Mei 2026, rupiah bahkan tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia.

Status tersebut memang tidak otomatis berarti Indonesia memiliki ekonomi terburuk di kawasan. Namun, kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah relatif lebih besar dibandingkan sejumlah mata uang negara lain dalam periode yang sama.

Dalam perspektif ekonomi politik, pelemahan rupiah tidak bisa dijelaskan hanya melalui satu faktor. Tekanan tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor global dan faktor domestik yang saling mempengaruhi.

Dari sisi global, penguatan dolar Amerika Serikat (USD) masih menjadi faktor dominan. Tingginya suku bunga acuan Federal Reserve membuat aset-aset berbasis dolar kembali menjadi tujuan utama investor global.

Pada saat yang sama, meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia turut mendorong investor memindahkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven assets.

Arus perpindahan modal tersebut menyebabkan banyak negara berkembang menghadapi tekanan terhadap mata uangnya, termasuk Indonesia. Hanya, faktor eksternal bukan satu-satunya penjelasan.

Pasar juga terus memantau kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Berbagai indikator seperti perkembangan cadangan devisa, dinamika utang luar negeri, prospek pertumbuhan ekonomi, kondisi fiskal pemerintah, tingkat inflasi, produktivitas industri nasional, hingga daya saing ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam menentukan tingkat kepercayaan investor.

Ketika indikator-indikator tersebut dipersepsikan kurang kuat atau menimbulkan ketidakpastian, investor cenderung meningkatkan persepsi risiko terhadap suatu negara.

Dampaknya adalah meningkatnya tekanan terhadap mata uang, pasar keuangan, dan arus investasi.

“Pelemahan rupiah saat ini tidak semata-mata dipicu faktor global. Pasar juga sedang menilai kualitas fundamental ekonomi domestik, arah kebijakan fiskal, dan tingkat kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi nasional,” katanya. (wid-an/zuk)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa M7,7 Filipina Makan Korban Jiwa, Satu Orang Tewas Tertimpa Bangunan yang Runtuh, Empat Orang Luka-luka
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Pasca-penangkapan Dadan Cs, Pakar Desak Pembenahan Total Regulasi & Tata Kelola Anggaran MBG
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Bantah Chatib Basri Gantikan Purbaya, Istana: Tak Ada Reshuffle Menkeu
• 5 jam lalukompas.com
thumb
5 Arti Mimpi Jadi Pemain Sepak Bola di Piala Dunia, Pertanda Munculnya Ambisi hingga Keinginan untuk Diakui
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Ramai Isu Ganti Menkeu, Istana Pastikan Tak Ada Reshuffle Kabinet
• 5 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.