Wartawan AS Menjadi Agen Partai Komunis Tiongkok,  Pakar : Perang Intelijen Sudah Menyusup ke Media

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Di tengah meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, medan pertarungan kini tidak lagi terbatas pada bidang militer, teknologi, dan perdagangan. Departemen Kehakiman AS baru-baru ini mengungkap sebuah kasus yang menarik perhatian luas: seorang wartawan Amerika yang telah lama bekerja di Tiongkok mengaku bersalah karena bertindak sebagai agen Partai Komunis Tiongkok (PKT). Selama bertahun-tahun, ia mengumpulkan informasi politik dan kebijakan Amerika Serikat untuk sistem keamanan negara Tiongkok, dan menerima bayaran lebih dari 100.000 dolar AS.

Para pakar menilai kasus ini kembali menunjukkan bahwa operasi intelijen PKT telah berkembang dari model spionase tradisional ke bidang media, akademisi, dan pertukaran masyarakat, dengan memanfaatkan jaringan hubungan dan informasi untuk secara diam-diam mengumpulkan intelijen penting.

Menurut Departemen Kehakiman AS, wartawan Amerika Serikat berusia 51 tahun, Thomas Borken, mengaku bersalah di pengadilan karena selama bertahun-tahun menerima arahan dari pejabat Kementerian Keamanan Negara Tiongkok(MSS) untuk mengumpulkan informasi bagi Beijing.

Berdasarkan dokumen pengadilan, Borken mengetahui bahwa orang yang berhubungan dengannya, yang disebut “Kathy”, adalah pejabat MSS. Meski demikian, ia tetap mengikuti instruksi pihak tersebut dengan memanfaatkan identitasnya sebagai wartawan dan jaringan relasinya untuk mengumpulkan informasi terkait politik AS, pemilu, dan hubungan AS–Tiongkok. Sebagai imbalan, ia menerima sedikitnya 100.000 dolar AS dari pihak Tiongkok.

Dokumen pengadilan juga menunjukkan bahwa seorang pejabat intelijen PKT pernah memberitahu Borken bahwa laporan yang ia serahkan akan disampaikan kepada pemimpin PKT, Xi Jinping.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat telah memandang PKT sebagai pesaing strategis utamanya, dan masalah infiltrasi intelijen menjadi isu keamanan nasional yang sangat sensitif. Setelah kasus ini terungkap, AS kemungkinan akan melihatnya bukan sebagai kasus tunggal, melainkan sebagai gambaran bagaimana PKT menggunakan jaringan luar negeri untuk mengumpulkan intelijen dan memengaruhi proses pengambilan keputusan,” kata peneliti dari Institute for National Defense and Security Research, Chen Wenjia. 

Jaksa menyatakan bahwa Borken pernah diperintahkan untuk mendekati seseorang yang bekerja di lembaga pemerintah AS. Pejabat PKT bahkan berharap melalui dirinya dapat membujuk orang tersebut agar memberikan informasi rahasia.

Pada Januari lalu, Borken juga disebut melakukan perjalanan dari Tiongkok ke Washington sesuai instruksi, dengan membawa telepon genggam dan uang tunai yang akan diberikan kepada pihak yang menjadi target kontak.

Data menunjukkan bahwa sejak tahun 2010, Borken telah lama tinggal dan bekerja di Tiongkok. Ia pernah bekerja di China Radio International dan Xinhua News Agency, serta secara rutin menerbitkan komentar yang mendukung pemerintah PKT.

“Wartawan Amerika ini tidak secara langsung mengakses rahasia militer. Namun ia memanfaatkan statusnya sebagai jurnalis, jaringan hubungan, dan kemampuan mengumpulkan informasi untuk membantu sistem keamanan negara Tiongkok memahami proses pengambilan keputusan politik serta lingkungan kebijakan di Amerika Serikat,” tambah Chen Wenjia. 

“Ini menunjukkan bahwa fokus perang intelijen modern telah bergeser dari mencuri dokumen menjadi mencuri informasi, hubungan, dan pengaruh. Operasi seperti ini semakin bersifat jangka panjang, tersosialisasi, dan tersembunyi,” lanjutnya. 

Dari sudut pandang diplomatik dan strategis, kasus ini juga menunjukkan besarnya perhatian para pemimpin Beijing terhadap perkembangan politik di Amerika Serikat.

Pengamat politik Li Linyi mengatakan : “Semua ini menunjukkan bahwa pimpinan tertinggi PKT sangat memperhatikan dinamika politik domestik Amerika Serikat serta perkembangan hubungan AS–Tiongkok. Dalam hal ini, kasus tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding banyak kasus sebelumnya. Peristiwa ini mengungkap satu informasi penting, yaitu bahwa pimpinan PKT sangat mengkhawatirkan hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.”

Para analis menilai bahwa seiring meningkatnya upaya Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir untuk menyelidiki jaringan pengaruh PKT di dalam negeri, kasus-kasus serupa kemungkinan akan terus terungkap. Persaingan antara AS dan Tiongkok di bidang intelijen dan infiltrasi juga diperkirakan akan terus memanas.

Laporan oleh wartawan NTD Television, Yi Xin dan Chang Chun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tim medis timnas U19 pantau kondisi Reno Salampessy
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Lima Tahun Pertama, Lebih Hemat dengan Mobil Listrik
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Kebiasaan Menahan Bersin karena Malu di Tempat Umum: Apakah Aman bagi Tubuh?
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Istana Buka Sinyal Said Iqbal Masuk Pemerintahan, Andi Gani Dukung Perjuangan Buruh dari Dalam dan Luar Kekuasaan
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ruben Onsu Tak Hadir di Ultah Thalia dan Thania, Ternyata Ini Alasannya
• 22 jam laluintipseleb.com
Berhasil disimpan.