Grid.ID - Bertepatan dengan peringatan 105 tahun kelahiran Presiden ke-2 RI Soeharto, buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen: Analisis SWOT Negara ala Jawa karya wartawan senior Bambang Wiwoho resmi diperkenalkan kepada publik. Peluncuran buku tersebut digelar dalam rangkaian acara Peluncuran Buku dan Sarasehan Ketahanan Nasional di Gedung IAS TH, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB), Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (Universitas Trilogi), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, dan Penerbit Buku Kompas. Selain menjadi ajang peluncuran buku, forum tersebut juga menghadirkan diskusi mengenai ketahanan nasional dengan menyoroti aspek sejarah, budaya, dan kepemimpinan bangsa.Jika selama ini banyak buku membahas Soeharto dari sudut pandang politik maupun ekonomi, Bambang Wiwoho memilih menyoroti sisi yang lebih personal, yakni kehidupan spiritual mantan presiden yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade itu. Melalui buku ini, ia mengulas pengaruh nilai-nilai kejawen, tradisi tirakat, kebatinan Jawa, hingga relasi Soeharto dengan sejumlah tokoh spiritual yang diyakini turut membentuk karakter serta gaya kepemimpinannya.Sebagai jurnalis yang mengikuti perjalanan politik nasional sejak era 1970-an, Bambang menyusun buku ini berdasarkan penelusuran berbagai sumber, mulai dari wawancara hingga dokumentasi sejarah. Alih-alih menempatkan Soeharto dalam posisi untuk dipuja ataupun dihakimi, buku tersebut berupaya mengajak pembaca melihat sisi kemanusiaan seorang pemimpin melalui latar budaya dan spiritual yang melingkupinya.Tak hanya mengulas sosok Soeharto, buku ini juga menawarkan pembacaan terhadap kondisi Indonesia masa kini melalui pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang dipadukan dengan perspektif budaya Jawa. Dalam pembahasannya, Bambang mengurai berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi Indonesia, sekaligus menyinggung karakter kepemimpinan para presiden Indonesia, mulai dari Soekarno hingga Prabowo Subianto.Pada bagian akhir, buku ini mengangkat refleksi mengenai falsafah kepemimpinan Jawa dan relevansinya dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan saat ini. Penulis menawarkan sudut pandang budaya sebagai bahan renungan untuk memahami dinamika sosial, ekonomi, dan geopolitik yang terus berkembang.Nilai akademik buku ini turut diperkuat oleh kata pengantar dari Paulus Tri Agung Kristanto, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas dan Kompas.id, yang berjudul Mistik Kejawen dalam Negara “Pascakolonialisme” Jawa. Tulisan tersebut memberikan gambaran mengenai posisi tradisi kejawen dalam perjalanan negara modern Indonesia.Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, buku setebal 160 halaman ini memadukan pendekatan jurnalistik, sejarah, dan refleksi budaya. Kehadirannya ditujukan bagi pembaca yang ingin memahami perjalanan bangsa melalui pertemuan antara kekuasaan, budaya, dan spiritualitas.Rangkaian peluncuran diawali dengan konferensi pers, kemudian dilanjutkan dengan seremoni peluncuran buku serta Sarasehan Ketahanan Nasional. Sejumlah akademisi dan praktisi turut hadir sebagai pembicara, di antaranya Bambang Wiwoho, Dr. Palupi Lindiasari Samputra, dan Dr. Lita Sari Barus, dengan Dr. Puspitasari sebagai moderator. Acara tersebut juga dihadiri perwakilan keluarga Soeharto, pimpinan lembaga penyelenggara, akademisi Universitas Indonesia, serta sejumlah tokoh nasional.Melalui peluncuran buku ini, penyelenggara berharap diskusi mengenai kepemimpinan, budaya, dan spiritualitas tidak berhenti pada aspek historis semata, tetapi juga dapat menjadi ruang refleksi untuk memahami tantangan bangsa di masa depan. Pemahaman terhadap pengalaman sejarah Indonesia dinilai dapat menjadi salah satu pijakan dalam memperkuat ketahanan nasional sekaligus memperkaya wacana kebangsaan. (*)
Artikel Asli




