Bedah Paradoks Kredibilitas dalam Era Generative Engine Optimization

medcom.id
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Burson, agensi komunikasi global terkemuka, merilis laporan terbaru bertajuk The Credibility Paradox. Riset ini menyoroti fenomena baru, ketika visibilitas sebuah merek dalam jawaban kecerdasan buatan (AI) tidak serta-merta menjamin kepercayaan dari audiens.
 
Studi yang melibatkan 55.000 prediksi skor ketepercayaan (believability score) dari 85 perusahaan ini menegaskan bahwa strategi Generative Engine Optimization (GEO) kini harus bergeser dari sekadar pendekatan teknis menjadi strategi reputasi yang berpusat pada kredibilitas.
 
CEO Burson, Corey duBrowa, menekankan bahwa di era zero-click, model bahasa besar (LLM) telah menjadi penjaga gerbang baru bagi reputasi sebuah merek. "Penting bagi sebuah merek untuk muncul di dalam LLM, tetapi itu saja tidak cukup," ujar duBrowa. Ia menjelaskan bahwa peran agensi saat ini adalah membangun rujukan dan pembuktian yang kuat agar jawaban yang disusun AI dapat dipercaya oleh target audiens yang tepat.

Riset yang dikembangkan bersama platform AI Profound dan Limbik ini mengevaluasi perusahaan berdasarkan delapan pilar Reputation Capital milik Burson, termasuk inovasi, produk, dan kepemimpinan.
 
Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa AI lebih mengutamakan bukti nyata daripada sekadar pernyataan posisi (positioning). Klaim berbasis fakta mengenai produk dan inovasi secara konsisten berkinerja lebih baik karena AI memberikan bobot besar pada verifikasi independen dari liputan media dan ulasan publik.
 
Menariknya, laporan ini menemukan adanya perbedaan persepsi antar audiens. Pengambil keputusan bisnis menilai jawaban AI rata-rata 10% lebih meyakinkan dibandingkan masyarakat umum.
 
Selain itu, topik mengenai lingkungan kerja muncul sebagai faktor kredibilitas yang paling dipercaya oleh publik karena kemudahan verifikasi melalui platform talenta dan laporan ketenagakerjaan independen. Sebaliknya, narasi mengenai kepemimpinan menjadi ujian terberat bagi AI, di mana audiens lebih memercayai struktur tata kelola dan validasi eksternal dibandingkan pesan langsung dari eksekutif.
 
Red Surtida, APAC Head of Intelligence & Transformation, menambahkan bahwa di kawasan Asia Pasifik, diskusi AI masih terlalu fokus pada visibilitas. "Perusahaan perlu memastikan jawaban dari platform AI didasari oleh sumber yang valid dan kredibel bagi audiens," tuturnya.
 
Dengan kerangka kerja baru ini, Burson bertujuan membantu klien mengintegrasikan konten earned, owned, dan social secara holistik untuk memperkuat narasi perusahaan di lingkungan yang dimediasi oleh AI.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pimpinannya Kena OTT KPK, Aktivitas Kanwil Imigrasi Jabar Berjalan Normal
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Djenar Maesa Ayu Ungkap Kondisi Tyo Pakusadewo di RS, Pesannya Bikin Hati Teriris
• 20 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Petaka Isi Bensin dan Tambal Ban Motor, Kios di Bandung Barat Ludes Terbakar
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rano Karno: Menuju 5 Abad, Jakarta Hidup Karena Tangguh
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jet Tempur Israel Serang Iran, Rudal-Rudal Balistik IRGC Kembali Hantam Tel Aviv
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.