BANDUNG, KOMPAS—Nilai tukar rupiah terus anjlok hingga sempat menembus level Rp 18.200 per dolar AS pada Senin (8/6/2026) siang. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah makin tergerus karena pelemahan Rupiah kian memicu harga barang kebutuhan pokok terus melonjak.
Nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus batas psikologis masyarakat. Mengutip data Bloomberg hingga pukul 13.00 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan melemah ke level Rp 18.200. Kemudian nilai tukar rupiah kembali berubah ke angka Rp 18.185 sekitar pukul 15.00 WIB.
Lemahnya nilai tukar rupiah berdampak signifikan bagi pelaku usaha khususnya di Jawa Barat yang menjual barang kebutuhan pokok dengan bahan baku impor.
"Harga barang kebutuhan pokok terus naik. Sementara upaya pemerintah untuk menstabilkan harga belum ada hingga kini," kata Nani kurnia (48), pedagang di Pasar Kosambi Kota Bandung.
Harga tepung terigu hingga minyak goreng mulai naik beberapa pekan terakhir. Harga terigu naik dari Rp 11.000 menjadi Rp 12.500 hingga Rp 13.000.
Adapun harga minyak goreng per liter kini dijual seharga Rp 21.000 hingga Rp 24.000. Harga ini jauh di atas harga eceran tertinggi minyak goreng per liter yakni Rp 15.700.
Ia mengaku, para konsumen dari kalangan ekonomi menengah ke bawah terpukul dengan kenaikan harga bahan pokok. Mereka terpaksa mengurangi pembelian.
"Mereka tak mampu membeli seliter minyak goreng. Kini mereka hanya bisa membeli minyak goreng dengan ukuran 200 mililiter hingga 400 mililiter, " tuturnya.
Reni (60), warga dari Kelurahan Antapani Kulon, Kota Bandung, mengaku pesimistis dengan kinerja pemerintah dalam mengatasi masalah ekonomi yang tidak stabil. Sebab, warga terus menghadapi harga bahan pokok yang melonjak.
"Tak ada tanda-tanda harga bapok mulai stabil. Saya hilang harapan kepada pemerintah, " tutur perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan swasta ini.
Sementara itu, Edi (50), salah satu pedagang elpiji di daerah Antapani, Kota Bandung menuturkan, harga elpiji nonsubsidi untuk ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram juga mengalami kenaikan drastis. Kenaikan terjadi sejak awal bulan lalu.
Harga elpiji 12 kilogram naik dari Rp 215.000 hingga Rp 255.000. Elpiji 5,5 kilogram melonjak dari Rp 105.000 hingga Rp 130.000.
"Para konsumen terutama pedagang usaha kecil dan menengah yang paling terdampak. Mereka sampai tidak sanggup membeli elpiji ukuran 12 kg dan 5,5 kg, " ungkapnya.
Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin menyatakan, pihaknya khusus di sentra perajin tahu Cibuntu di Kota Bandung sebanyak 120 pengusaha kemungkinan akan menggelar aksi mogok.
Upaya ini ditempuh jika tidak ada upaya mengatasi harga kedelai yang terus melonjak akibat lemahnya nilai tukar rupiah.
Saat ini harga kedelai yang diimpor perajin tahu di Jabar dari Kanada dan Amerika Serikat telah menyentuh Rp 11.000 per kilogram. Padahal, awal tahun ini, harga kedelai hanya Rp 8.000 per kg.
"Kami tidak bisa berjualan jika harga kedelai tidak stabil. Pemerintah harus turun tangan untuk mengatasi masalah ini, " tegasnya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui fenomena kenaikan harga pangan memang menakutkan. Kota Bandung saat ini tingkat inflasinya tertinggi di Jawa Barat yaitu, 0,3 persen.
"Inflasi dipicu permintaan yang sangat tinggi, baik dari warga setempat maupun pengunjung ke Kota Bandung. Salah satunya dari bisnis kuliner, " kata Farhan.
Ia menegaskan, Pemkot Bandung memastikan distribusi bahan pangan bisa bertambah secara signifikan . Upaya ini untuk menormalisasikan harga.
"Kami juga sedang melakukan peninjauan agar dipastikan tidak ada penimbunan di gudang-gudang bahan pangan, khususnya beras dan kedelai, " ucapnya.





