Gempa tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo yang berpusat di Filipina berdampak juga di perairan utara Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin (8/6). Gempa membuat warga panik, sejumlah bangunan rusak.
Berdasarkan data BMKG, gempa terjadi pada pukul 06.37 WIB atau sekitar 07.37 Wita dengan pusat gempa berada di laut sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna. Lokasi persis pusat gempa di kawasan Mindanao, Filipina bagian selatan.
Laporan dari Desa Kawio, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat guncangan gempa yang cukup kuat. Selain rumah warga, bangunan rumah ibadah juga dilaporkan mengalami retakan.
Sekretaris Desa Kawio, Risto Mandiangan, melaporkan guncangan gempa membuat masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
"Sejumlah rumah mengalami kerusakan, sementara bangunan rumah ibadah mengalami retakan akibat guncangan gempa. Selain itu, listrik juga padam. Warga tidak berani berada di dalam rumah pascagempa," ujar Mandiangan.
Warga Mengungsi
Hingga saat ini masyarakat masih memilih bertahan di lokasi pengungsian sementara karena khawatir terjadi gempa susulan yang lebih kuat.
Gempa berkekuatan besar tersebut sebelumnya juga memicu peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG untuk sejumlah wilayah di Indonesia yang berdekatan dengan Filipina, termasuk Sulawesi Utara.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait masih mendata kerusakan yang terjadi di wilayah terdampak, khususnya di kawasan kepulauan perbatasan.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, maupun pemerintah daerah terkait perkembangan situasi pascagempa.
Kepulauan Marore merupakan gugusan pulau terluar Indonesia di Laut Sulawesi yang berbatasan langsung dengan Filipina.
Sementara itu, di Filipina gempa menyebabkan 16 orang tewas.





