JAKARTA, DISWAY.ID - Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan alasan dirinya bersedia bergabung dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan.
Said mengatakan keputusan tersebut diambil setelah melalui diskusi bersama jajaran KSPI dan kalangan buruh.
Dari hasil hasil itu, diputuskan jika buruh harus berjuang dari dalam pemerintahan.
"Bagi kami setelah kami diskusikan di KSPI khususnya dan kawan-kawan buruh, kami memutuskan untuk juga berjuang melalui di dalam," kata Said Iqbal di Istana, Senin, 8 Mei 2026.
BACA JUGA:Bakal Dilantik Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal: Jabatannya Setingkat Menteri
Ia menjelaskan secara platform perjuangan keberpihakan Presiden Prabowo Subianto kepada kaum rakyat kecil termasuk buruh, petani, nelayan, dan guru yang mendorong kami untuk bersama-sama beliau memberikan masukan, menjaga keseimbangan.
Said juga menyoroti bahwa selama ini pemerintah banyak menerima masukan dari kalangan pengusaha dan pemilik modal.
BACA JUGA:Andi Gani Bocorkan Info Istana, Besok Said Iqbal Dilantik Jadi Penasihat Presiden Prabowo
Ia menilai perlu ada representasi yang kuat dari kelompok pekerja dalam proses perumusan kebijakan nasional.
"Karena kawan-kawan pengusaha kan misal, misal ya kita selalu melihat secara kasat mata melalui Pak Luhut, melalui Pak Airlangga, melalui Pak Bahlil, melalui Pak Rosan, banyak memberikan masukan perihal yang bersifat dengan kepemilikan modal. Yang dari buruh kan tidak ada," ungkapnya.
BACA JUGA:Profil dan Biodata Said Iqbal, Bos Partai Buruh yang Bakal Dilantik Jadi Penasihat Presiden
Oleh karena itu, Said mengaku memberanikan diri untuk mengambil peran tersebut demi menghadirkan perspektif kaum buruh di lingkungan pemerintahan.
"Nah saya memberanikan diri berikhtiar, berijtihad, bahwa saya juga harus memberikan keseimbangan terhadap apa apa yang ingin diperjuangkan oleh kaum buruh," imbuhnya.
Ia memastikan meski bergabung di pemerintahan, sikap kritis gerakan buruh tidak akan hilang.
"Secara demokratis tidak akan mengurangi daya kritis kami terhadap persoalan-persoalan perburuhan. Saya pikir itu aja," jelasnya.





