Koba, Babel, (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memproyeksikan Desa Lubuk Pabrik menjadi sentra produksi bawang merah, untuk memperkuat kemandirian pangan dan penyediaan benih lokal di daerah itu.
Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman di Koba, Senin, mengatakan pengembangan bawang merah di Desa Lubuk Pabrik diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai penghasil benih bagi petani lokal.
“Kami ingin Lubuk Pabrik menjadi sentra bawang merah sehingga ke depan tidak perlu lagi mendatangkan benih dari luar daerah, melainkan bisa diproduksi sendiri oleh petani,” kata Algafry.
Menurut dia, pengembangan komoditas hortikultura tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam mengoptimalkan lahan pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pemkab Bangka Tengah juga mendorong kelompok tani dan kelompok wanita tani sebagai garda terdepan dalam membudidayakan bawang merah di pekarangan rumah maupun lahan pertanian warga.
Algafry mengapresiasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati yang dinilai berhasil menanam bawang merah metode formula dengan bantuan bibit awal sebanyak 46 kilogram.
"Dari jumlah tersebut, hasil panen diperkirakan mencapai hampir 400 kilogram atau sekitar tujuh kali lipat dari bibit yang ditanam," kata Algafry.
Baca juga: Petani Bangka sukses majukan budidaya bawang merah
Baca juga: Bupati Bangka dorong petani maksimalkan budi daya bawang merah
Algafry menilai kualitas bawang merah yang dihasilkan petani Desa Lubuk Pabrik cukup baik dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas.
Pemerintah daerah, kata dia, akan terus memberikan pendampingan melalui penyuluh pertanian agar produktivitas petani tetap terjaga.
"Kita ingin petani terus berkembang dan mampu menghasilkan benih sendiri sehingga biaya produksi bisa ditekan dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” katanya.
Ketua KWT Melati Dwi Soleha, mengatakan masa tanam bawang merah hingga panen membutuhkan waktu sekitar 60 hari dengan tantangan utama berupa kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Kalau perawatan tanaman relatif aman, tetapi hujan pada malam hari cukup mempengaruhi kondisi tanaman,” ujarnya.
Baca juga: Komisi IV DPR apresiasi bawang merah Brebes tembus pasar internasional
Baca juga: Pemkot Metro jalin kerja sama dengan Brebes kembangkan bawang merah
Baca juga: Rumah produksi bersama kluster bawang merah segera dirintis di Brebes
Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman di Koba, Senin, mengatakan pengembangan bawang merah di Desa Lubuk Pabrik diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai penghasil benih bagi petani lokal.
“Kami ingin Lubuk Pabrik menjadi sentra bawang merah sehingga ke depan tidak perlu lagi mendatangkan benih dari luar daerah, melainkan bisa diproduksi sendiri oleh petani,” kata Algafry.
Menurut dia, pengembangan komoditas hortikultura tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam mengoptimalkan lahan pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pemkab Bangka Tengah juga mendorong kelompok tani dan kelompok wanita tani sebagai garda terdepan dalam membudidayakan bawang merah di pekarangan rumah maupun lahan pertanian warga.
Algafry mengapresiasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati yang dinilai berhasil menanam bawang merah metode formula dengan bantuan bibit awal sebanyak 46 kilogram.
"Dari jumlah tersebut, hasil panen diperkirakan mencapai hampir 400 kilogram atau sekitar tujuh kali lipat dari bibit yang ditanam," kata Algafry.
Baca juga: Petani Bangka sukses majukan budidaya bawang merah
Baca juga: Bupati Bangka dorong petani maksimalkan budi daya bawang merah
Algafry menilai kualitas bawang merah yang dihasilkan petani Desa Lubuk Pabrik cukup baik dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas.
Pemerintah daerah, kata dia, akan terus memberikan pendampingan melalui penyuluh pertanian agar produktivitas petani tetap terjaga.
"Kita ingin petani terus berkembang dan mampu menghasilkan benih sendiri sehingga biaya produksi bisa ditekan dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” katanya.
Ketua KWT Melati Dwi Soleha, mengatakan masa tanam bawang merah hingga panen membutuhkan waktu sekitar 60 hari dengan tantangan utama berupa kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Kalau perawatan tanaman relatif aman, tetapi hujan pada malam hari cukup mempengaruhi kondisi tanaman,” ujarnya.
Baca juga: Komisi IV DPR apresiasi bawang merah Brebes tembus pasar internasional
Baca juga: Pemkot Metro jalin kerja sama dengan Brebes kembangkan bawang merah
Baca juga: Rumah produksi bersama kluster bawang merah segera dirintis di Brebes





