Danantara buka peluang membangun perusahaan sewa pesawat alias leasing sendiri untuk mengakomodasi pengadaan 50 armada pesawat Boeing oleh PT Garuda Indonesia (Persero). Pembelian armada itu sesuai komitmen Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS).
Chief of Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan masih banyak pertimbangan dalam pembelian 50 pesawat Boeing, salah satunya waktu pengadaan hingga kepastian kerja sama dengan perusahaan leasing.
"Tentu banyak pertimbangan ya, dan tentu komitmennya harus berjalan, tapi pertimbangan-pertimbangan waktunya juga kan masih dipelajari, kedatangan pesawatnya, business models-nya, termasuk juga nanti leasing-nya akan pakai yang mana," ujar Dony saat ditemui di kompleks parlemen Senayan, Senin (8/6).
Khusus terkait perusahaan leasing, Dony tidak menampik kalau Danantara ada kemungkinan membangun perusahaan leasing sendiri. Namun, dia belum bisa merincikan kapan dan bagaimana skema pengadaannya.
"Kita sedang mengkaji juga kan, mungkin Danantara itu membuka perusahaan leasing company sendiri dan sebagainya," ungkap Dony.
Selain itu, Dony juga belum bisa membeberkan berapa besar kesepakatan pembelian pesawat Boeing tersebut, mengingat terdapat fenomena pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS yang cukup signifikan dalam sebulan ke belakang.
"Jadi dipertimbangkan mana yang paling menguntungkan untuk kita. (Kesepakatan harga) tanya sama Pak Glenny (Direktur Utama PT Garuda Indonesia) ya," tutur Dony.
Sebelumnya, Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan pembahasan pembelian armada Boeing tersebut masih di level teknis dari pemerintah. Danantara akan siap melaksanakan apa pun keputusannya.
"Ini masih pembahasan teknis, artinya kita siap membeli 50, tapi Boeing belum menjawab atau akan menjawab dia mampunya 10, 20, itu belum," kata Rohan saat exclusive group interview di Wisma Danantara, Kamis (26/2).
Rohan menegaskan permasalahan utama dalam pengadaan armada pesawat saat ini adalah delivery time alias pengiriman dari produsen, yang ditaksir harus menunggu hingga 7 tahun lamanya.
Saat ditanya terkait potensi pendanaan, Rohan menyebutkan sumber pendanaan pengadaan pesawat tersebut bisa dari mana saja, mau itu injeksi tambahan dari Danantara atau kas Garuda sendiri.





