Bisnis.com, MALANG—Universitas Brawijaya (UB) mempersiapkan berbagai solusi berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan mahasiswa untuk menjawab persoalan strategis nasional, khususnya terkait Sekolah Rakyat, bantuan sosial, dan pemetaan kemiskinan dengan menggelar.
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Said Mirza Pahlevi, menyampaikan kegiatan tersebut merupakan tahapan lanjutan dari pelaksanaan AITF Batch sekaligus menjadi momentum penting untuk memastikan setiap tim mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, AITF bukan sekadar program pengembangan kemampuan teknologi, tetapi juga wadah untuk melahirkan solusi yang dapat digunakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Workshop ini merupakan workshop ketiga untuk Batch 2 AITF di Universitas Brawijaya dan menjadi workshop pertama pada tahun 2026. Kami berharap melalui program ini lahir berbagai inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan kecerdasan buatan,” ujarnya.
Diamenjelaskan, dalam pelaksanaan AITF tahun ini terdapat sejumlah studi kasus yang menjadi perhatian pemerintah. Salah satu yang paling penting adalah pengembangan solusi untuk mendukung implementasi program Sekolah Rakyat serta sistem bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.
Dia mengatakan, kedua use case tersebut saat ini sangat dinantikan karena memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Oleh karena itu, hasil pengembangan para peserta akan menjadi bahan evaluasi penting bagi berbagai kementerian terkait.
Baca Juga
- OPINI: Bonus Demografi di Era Kecerdasan Buatan
- Telkomsel-XLSMART Cs Dibayangi Trafik Jumbo Kecerdasan Buatan (AI)
“Program AITF dari Komdigi maupun universitas bertujuan menjembatani lahirnya inovasi untuk pelayanan kepada masyarakat. Khusus di Universitas Brawijaya, peserta sedang menyelesaikan use case yang sangat penting terkait Sekolah Rakyat dan bantuan sosial. Kedua use case ini sangat ditunggu hasilnya,” katanya.
Mirza mengatakan hasil pekerjaan mahasiswa akan dipresentasikan dalam agenda Demo Day yang dijadwalkan berlangsung pada 29–30 Juni 2026. Kegiatan tersebut direncanakan dihadiri oleh sejumlah menteri dan pemangku kepentingan nasional. Bahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga akan dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, Demo Day akan menjadi ajang pembuktian kualitas solusi yang dikembangkan mahasiswa selama mengikuti AITF. Oleh sebab itu, seluruh peserta didorong untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menyempurnakan sistem yang sedang dibangun.
“Acara ini cukup besar dan akan menjadi pertaruhan bagi Universitas Brawijaya untuk menunjukkan seberapa layak solusi yang dihasilkan. Hasil pekerjaan peserta nantinya akan dilihat langsung oleh para pengambil kebijakan,” ujarnya.
Dia menambahkan, solusi yang dihasilkan berpotensi menjadi fondasi awal pengembangan sistem digital untuk mendukung program Sekolah Rakyat maupun penyaluran bantuan sosial di tingkat nasional. Apabila berhasil, inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut pada program AITF berikutnya dan diperkenalkan kepada kementerian terkait sebagai solusi yang siap diimplementasikan.
Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB sekaligus Ketua Pelaksana AITF, Sabriansyah Rizqika Akbar, menegaskan bahwa workshop 3 menjadi fase krusial karena peserta mulai memasuki tahap penyempurnaan solusi menjelang Demo Day.
Dia menyebut AITF sebagai salah satu program mercusuar yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan nyata yang dihadapi pemerintah dan masyarakat.
“Melalui AITF, mahasiswa kami mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan berbagai studi kasus yang memiliki tantangan besar. Tahun ini fokus yang sedang dikerjakan antara lain terkait Sekolah Rakyat dan pemetaan kemiskinan di Jawa Timur,” ujarnya.
Menurut Sabriansyah, capaian yang telah diperoleh peserta menunjukkan perkembangan yang positif. Selain memperoleh pengalaman teknis dalam pengembangan kecerdasan artifisial, mahasiswa juga mendapatkan wawasan langsung dari kementerian maupun instansi yang menjadi mitra program.
Dia menjelaskan, selama mengikuti AITF, mahasiswa memperoleh banyak masukan terkait kebutuhan pengguna, strategi implementasi, hingga model pengembangan teknologi yang dapat diterapkan secara nyata dalam layanan publik.
“Peserta mendapatkan banyak pencerahan dari berbagai instansi mengenai kebutuhan riil di lapangan. Hal ini menjadi pengalaman berharga karena mereka tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat,” katanya.
Untuk memastikan seluruh target dapat diselesaikan tepat waktu, panitia akan memberikan pendampingan tambahan kepada peserta. Bahkan, mahasiswa direncanakan mengikuti workshop lanjutan dengan skema karantina agar dapat lebih fokus menyelesaikan pengembangan sistem yang sedang dikerjakan.
Menurut Sabriansyah, langkah tersebut diperlukan mengingat hasil akhir proyek akan dipresentasikan langsung kepada para pemangku kepentingan nasional pada akhir Juni mendatang.
“Di Universitas Brawijaya, kegiatan AITF dikonversi menjadi 12 SKS. Karena itu kami berharap seluruh peserta dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal. Akan ada workshop tambahan dan pendampingan intensif agar solusi yang dikembangkan benar-benar siap ditampilkan pada Demo Day,” ujarnya.(K24)





