Ilustrasi kekeringan akibat musim kemarau (Sumber: Envato by stevanovicigor)
JAKARTA, KOMPAS.TV - Perkembangan musim kemarau 2026 di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan yang lebih konsisten, terutama di wilayah bagian selatan.
Berdasarkan analisis terbaru BMKG melalui bmkg.go.id, sekitar 28,6 persen wilayah zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Kondisi ini ditandai dengan semakin panjangnya periode hari tanpa hujan serta meningkatnya pengaruh Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke sejumlah wilayah.
Kondisi kering tersebut terlihat dari Hari Tanpa Hujan (HTH) yang mulai didominasi kategori panjang, yakni antara 21 hingga 30 hari tanpa hujan, khususnya di wilayah selatan Indonesia.
Baca Juga: Jadwal SIM Keliling Jakarta Selasa 9 Juni 2026: Cek 5 Lokasi dan Biaya Perpanjangan
Fenomena ini menjadi indikasi musim kemarau semakin berkembang dan berlangsung lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.
Meningkatnya pengaruh Monsun Australia menyebabkan dominasi massa udara kering yang mengurangi kelembapan udara di atmosfer.
Akibatnya, pembentukan awan menjadi lebih terbatas, terutama pada pagi hingga siang hari.
Langit yang relatif cerah membuat sinar matahari lebih optimal mencapai permukaan bumi sehingga memicu kenaikan suhu udara di berbagai daerah.
Penulis : Dian Nita Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- musim kemarau 2026
- bmkg





