Generasi Z dan Retaknya Empat Pilar Kehidupan Sosial Bugis-Makassar

harianfajar
14 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Dr. Aswati Asri, S.Pd., M.Pd.
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Makassar

Fakultas Bahasa dan Sastra
Universitas Negeri Makassar

Kita hidup pada zaman ketika seseorang yang tercebur ke laut lebih dulu direkam daripada ditolong. Pada zaman ketika kesalahan seseorang lebih cepat diviralkan daripada dipahami. Pada zaman ketika ribuan orang dapat menyaksikan perundungan orang lain melalui layar telepon genggam, tetapi sedikit yang benar-benar tergerak untuk membantu. Jika fenomena ini terus berulang, mungkin persoalannya bukan lagi sekadar kemajuan teknologi, melainkan kemunduran nilai-nilai kemanusiaan. Dalam perspektif budaya Bugis-Makassar, gejala tersebut dapat dibaca sebagai retaknya empat pilar kehidupan sosial, yaitu sipakatau, sipakalabbirik, sipakaingak, dan sipatokkong.

Ironisnya, gejala ini muncul justru pada era yang sering disebut sebagai zaman paling maju dalam sejarah peradaban manusia. Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi teknologi digital, kecerdasan buatan, dan akses informasi tanpa batas. Mereka dapat belajar apa saja dari mana saja, berkomunikasi dengan siapa saja, dan membangun jejaring hingga melampaui batas negara. Namun, kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan karakter. Kecanggihan perangkat digital tidak otomatis melahirkan kedalaman empati. Kecepatan akses informasi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan. Bahkan, dalam banyak kasus, teknologi justru memperlihatkan betapa rapuhnya nilai-nilai kemanusiaan ketika tidak diimbangi dengan fondasi moral yang kuat.
Pilar pertama yang mengalami guncangan adalah sipakatau, yaitu nilai saling memanusiakan manusia. Dalam pandangan Bugis-Makassar, manusia harus diperlakukan sebagai manusia, apa pun status sosial, latar belakang, maupun kesalahannya. Akan tetapi, ruang digital hari ini sering kali mengubah manusia menjadi sekadar objek tontonan. Kesedihan menjadi konten. Kesalahan menjadi hiburan. Penderitaan menjadi komoditas yang mendatangkan perhatian dan jumlah penonton.

Fenomena perundungan digital yang marak di kalangan remaja menunjukkan betapa mudahnya seseorang kehilangan empati ketika berinteraksi melalui layar. Komentar-komentar kasar, penghinaan terhadap fisik, hingga penghakiman massal sering dilakukan tanpa memikirkan dampak psikologis yang dialami korban. Dalam kondisi seperti ini, yang sesungguhnya hilang bukan hanya rasa iba, melainkan kesadaran bahwa di balik layar terdapat manusia yang memiliki martabat dan perasaan. Ketika manusia diperlakukan sebagai objek, sipakatau sesungguhnya sedang mengalami kemunduran.

Retaknya sipakatau kemudian diikuti oleh melemahnya sipakalabbirik, yakni budaya saling memuliakan dan menghormati. Dahulu, penghormatan diberikan kepada orang yang berilmu, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Kini, ukuran penghormatan sering kali bergeser menjadi jumlah pengikut, tingkat popularitas, atau kemampuan menciptakan sensasi.
Media sosial telah melahirkan budaya baru yang menempatkan viralitas sebagai ukuran keberhasilan. Tidak sedikit anak muda yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian publik. Dalam situasi seperti ini, penghormatan tidak lagi lahir dari kualitas diri, melainkan dari kemampuan menarik perhatian. Akibatnya, budaya memuliakan manusia berdasarkan integritas perlahan tergeser oleh budaya mengagungkan popularitas.

Pilar berikutnya adalah sipakaingak, yakni saling mengingatkan dalam kebaikan. Nilai ini lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak pernah sempurna dan karena itu membutuhkan orang lain untuk saling menjaga. Namun, budaya digital menghadirkan paradoks. Di satu sisi, banyak orang tidak mau dinasihati karena menganggap semua pilihan hidup sebagai hak pribadi yang tidak boleh disentuh. Di sisi lain, banyak pula yang merasa berhak menghakimi orang lain tanpa memahami persoalan secara utuh.

Akibatnya, budaya mengingatkan berubah menjadi budaya mempermalukan. Kesalahan seseorang diumbar di ruang publik. Kritik disampaikan tanpa etika. Nasihat kehilangan ketulusan. Yang berkembang bukan budaya saling memperbaiki, melainkan budaya saling menjatuhkan. Padahal, sipakaingak mengajarkan bahwa mengingatkan bukanlah tindakan merendahkan, melainkan bentuk kasih sayang sosial agar sesama tidak terperosok lebih jauh ke dalam kesalahan.
Tidak kalah mengkhawatirkan adalah melemahnya sipatokkong, yaitu budaya saling menopang dan menguatkan.

Masyarakat Bugis-Makassar sejak dahulu dikenal memiliki solidaritas yang kuat. Ketika ada anggota masyarakat yang mengalami kesulitan, yang lain hadir memberikan bantuan. Ketika ada yang jatuh, yang lain mengulurkan tangan untuk mengangkatnya.
Namun, kehidupan digital perlahan mengubah pola hubungan sosial tersebut. Kita semakin mudah mengetahui penderitaan orang lain, tetapi semakin sulit terlibat secara nyata dalam membantu mereka. Simpati sering kali berhenti pada komentar singkat atau emoji sedih. Kepedulian cukup diwujudkan dengan menekan tombol suka. Solidaritas berubah menjadi aktivitas simbolik yang tidak selalu melahirkan tindakan konkret.

Inilah paradoks besar Generasi Z. Mereka adalah generasi yang paling terkoneksi dalam sejarah manusia, tetapi juga menghadapi persoalan kesepian yang semakin serius. Mereka memiliki banyak teman di dunia maya, tetapi tidak selalu memiliki tempat berbagi beban di dunia nyata. Mereka terhubung dengan banyak orang, tetapi sering merasa tidak dipahami.
Tentu saja, tidak adil menyalahkan Generasi Z sepenuhnya. Mereka adalah produk dari perubahan sosial yang lebih luas. Mereka tumbuh dalam budaya yang menghargai kecepatan lebih daripada kedalaman, popularitas lebih daripada integritas, dan pencitraan lebih daripada ketulusan. Namun, justru karena itulah mereka memegang peranan penting dalam menentukan arah masa depan masyarakat.

Pertanyaan yang harus dijawab bukanlah apakah Generasi Z mampu menguasai teknologi yang lebih canggih. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah mereka mampu mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat? Sebab kemajuan sebuah generasi tidak hanya diukur dari kecerdasannya mengoperasikan teknologi, tetapi juga dari kemampuannya memanusiakan manusia, menghormati sesama, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling menopang dalam kesulitan.

Jika sipakatau memudar, kita kehilangan empati. Jika sipakalabbirik hilang, kita kehilangan penghormatan. Jika sipakaingak melemah, kita kehilangan kepedulian. Jika sipatokkong lenyap, kita kehilangan solidaritas. Dan ketika keempat pilar itu runtuh, yang tersisa hanyalah masyarakat yang maju secara teknologi, tetapi miskin secara kemanusiaan.

Maka, tantangan terbesar Generasi Z hari ini bukanlah menjadi generasi yang paling modern, melainkan menjadi generasi yang mampu membuktikan bahwa kemajuan teknologi dan keluhuran nilai budaya dapat berjalan beriringan. Sebab masa depan Bugis-Makassar, bahkan masa depan bangsa ini, tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang kita miliki, tetapi juga oleh kemampuan kita menjaga nilai-nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Kecelakaan Beruntun Tewaskan 2 Orang di Sidoarjo, Berawal Mobil Brio Oleng
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Sarang Obat Keras Galian BKT Digerebek, Pelaku Kabur Tinggalkan Ratusan Butir Pil dan Motor
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Kemenhut Dapat Hibah Seperempat Triliun untuk Lindungi Habitat Satwa di Sumatra
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
OJK Sebut IHSG Masih Prospektif di Tengah Ketidakpastian Global
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Kala Pasar keuangan Tentukan Kinerja Investasi Industri Asuransi Jiwa
• 17 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.