Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap lima faktor pendorong nilai tukar (kurs) rupiah pada 2027 bergerak menguat pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per USD. Kisaran tersebut tertuang dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027.
"Ada lima faktor utama yang mendasari kenapa rupiah 2027 akan berkisar Rp16.800 sampai Rp17.500 menguat ke sana," kata Perry dalam Rapat Kerja (Raker) Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, dilansir Antara, dikutip Rabu, 10 Juni 2026.
Faktor pertama yaitu, kondisi perekonomian dunia akan membaik dan tidak akan seburuk seperti sekarang, dengan proyeksi pertumbuhan meningkat ke 3,1 persen.
"Kondisi yang sekarang geopolitik ini kita harapkan akan membaik dan harapannya akan mendorong inflow ke negara emerging market termasuk Indonesia," kata Perry.
Faktor kedua, fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid sehingga akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
"Pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasinya rendah, defisit transaksi berjalan itu baik, dan imbal hasilnya menarik, kemudian cadangan devisa juga lebih dari cukup. Jadi fundamental kita akan mendukung penguatan nilai tukar," kata Perry.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Baca Juga :
Simak Alasan BI Naikkan BI Rate di Tengah Turunnya RupiahKetiga, kebijakan penguatan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) terutama melalui keberadaan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) diyakini akan meningkatkan ekspor dan devisa hasil ekspor, serta meningkatkan penerimaan negara.
Hal ini, ujar Perry, akan mendukung tidak hanya pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung kenaikan devisa, cadangan devisa, dan penguatan nilai tukar rupiah.
Keempat, komitmen kuat BI untuk terus menjaga nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi maupun melalui berbagai kebijakan lainnya.
Kelima, koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter yang difokuskan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui peningkatan daya tarik atau imbal hasil bagi masuknya aliran investasi portofolio asing khususnya pada SRBI dan SBN serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
"Jadi lima faktor itu, rupiah Insya Allah tahun depan akan menguat kisarannya Rp16.800-Rp17.500 (per USD)," kata Perry.
Dalam pemaparannya, Perry juga menyampaikan bank sentral memiliki pandangan yang sejalan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan yang akan lebih baik dibandingkan tahun ini.
"Kisaran kami 5,1 persen sampai 5,9 persen (proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2027), tapi kami yakin akan lebih ke batas atas," kata Perry.
Adapun inflasi pada 2027 juga tetap diyakini berada dalam target sasaran 2,5 plus minus 1 persen atau rentang 1,5-3,5 persen, didukung oleh kuatnya sinergi pemerintah pusat dan daerah bersama BI melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID).




