Setelah air pantai surut pada pagi hari, puluhan warga menyusuri pantai dan menelisik jejak-jejak penyu yang tersisa di pasir. Mereka memotret sekeliling pantai, kemudian mengisi informasi yang mereka dapat ke dalam sebuah aplikasi pemantauan penyu di ponsel.
”Sudah sejak Februari 2026 kami patroli memantau penyu bertelur di kampung kami,” kata Muhjid (39), Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) Lestari di Pulau Balikukup, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Senin (1/6/2026).
Pulau Balikukup berjarak ratusan kilometer dari Kota Balikpapan, pusat ekonomi penting di Kaltim. Dari Balikpapan ke Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau, perjalanan darat menempuh sekitar 600 kilometer atau sekitar 15 jam. Jika menggunakan pesawat, waktu tempuhnya sekitar satu jam.
Dari Tanjung Redeb, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Kecamatan Batu Putih selama sekitar lima jam. Dari Batu Putih, Pulau Balikukup dapat dicapai dengan perahu cepat dalam waktu sekitar satu jam.
Balikukup merupakan pulau kecil seluas sekitar 18 hektar atau setara 25 lapangan sepak bola. Namun, luasnya tidak selalu tetap.
Pulau ini merupakan gosong, yakni gundukan daratan sempit yang terbentuk dari endapan pasir, lumpur, atau kerikil di perairan dangkal. Bentuk dan luasnya dapat berubah mengikuti dinamika arus dan sedimentasi.
Saat air laut surut, daratan pasir membentang mencapai satu kilometer ke arah pantai. Karakteristik pulau dengan pantai seperti ini bikin penyu kerap bertelur di sini.
Muhjid bercerita, di masa silam banyak warga mengambil telur penyu dan menangkap penyu. Telurnya sebagian dijual, sebagian lainnya dikonsumsi.
Penyu dewasa yang menepi pun ditangkap dan dijual. Sisik cangkangnya kerap dijadikan manik-manik aksesoris. ”Kami juga pelaku. Tapi itu dulu,” kata Suryadi (54), anggota Pokmaswas Lestari Balikukup, tertawa.
Kesadaran menjaga penyu mereka dapat bertahap. Semula, ada beberapa warga yang ditangkap aparat karena menjualbelikan satwa dilindungi. Warga jadi jera.
Mereka juga dapat sosialisasi dan pengetahuan baru mengenai manfaat penyu bagi warga Pulau Balikukup yang sebagian besar nelayan. Misalnya, penyu hijau (Chelonia mydas), yang paling banyak ditemui di sana, membantu warga secara perekonomian.
Penyu hijau dewasa membantu membersihkan terumbu karang. Mereka memakan alga atau lumut laut yang menutupi permukaan karang.
Aktivitas merumput ini secara langsung membersihkan karang untuk tumbuh dan menyediakan tempat yang ideal bagi ikan untuk bertelur. Tanpa penyu hijau, padang lamun akan terlalu lebat dan berpotensi tumbuh jamur yang merusak habitat di sekitarnya.
Jika demikian, ikan kualitas ekspor di perairan Pulau Balikukup perlahan bisa sirna. Masyarakat di sana menangkap lobster, ikan kakap, ikan kerapu, hingga ikan pelagis. Sebagian diekspor ke Singapura hingga Hong Kong.
”Dulu kami tidak punya pengetahuan itu. Padahal, penyu itu seperti kompas buat nelayan seperti kami. Di mana ada penyu, pasti banyak ikan di sana,” kata Suryadi.
Pengetahuan tersebut ia dapat dari pelatihan dan pendampingan program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (Somacore). Kegiatan itu diselenggarakan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama pemerintah setempat.
Kini, anak-anak sekolah dasar di Balikukup juga mendapat edukasi mengenai penyu. YKAN masih merancang agar materi penyu bisa masuk dalam kurikulum pengetahuan lokal di pulau dengan penduduk sekitar 1.000 jiwa itu.
”Ada tujuh jenis penyu di dunia!” kata Azka (10) mengangkat tangan saat ikut edukasi tentang penyu suatu sore di tepi pantai.
Hal serupa juga dilakukan Forum Peduli Kelestarian Alam (Forlika) Kampung Teluk Sulaiman, Kecamatan Biduk-Biduk. Mereka mengawasi penyu di sekitar hutan mangrove dan pesisir Kawasan Hutan Lindung Sigending seluas 1.500 hektar.
Di kawasan ini, telur penyu dihargai Rp 8.000 per butir. Ini menggiurkan bagi penduduk karena sekali bertelur penyu menghasilkan hingga 100 butir.
Namun, kini, mereka justru melindungi penyu dan mengusir para pemburunya. Sebab, penyu jadi daya tarik wisata yang juga jadi penghasilan sebagian warga.
”Libur Lebaran 2026 ada sekitar 10.000 pengunjung ke sini,” kata Risno Kiay (58), anggota Forlika Teluk Sulaiman.
Warga yang sebelumnya berburu satwa bercangkang itu kini beralih jadi pegiat ekowisata. Dengan menjaga alam dan satwa penting di sana, mereka tetap bisa mendapat penghasilan.
”Untuk paket wisata 6 jam Rp 350.000 per orang. Paket dua jam Rp 250.000 per orang,” kata Ilyas (36), pelaku wisata setempat.
Tempat mereka tinggal masuk dalam Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS). Luasnya sekitar 285.000 hektar.
Selain masuk dalam segitiga terumbu karang dunia, area tersebut punya tutupan hutan mangrove 17.704 hektar dan padang lamun 1.808 hektar. Wilayah ini juga menjadi habitat bagi setidaknya 397 spesies, termasuk 162 spesies yang bernilai konservasi tinggi.
”Pemantauan penyu berbasis masyarakat turut menjaga kawasan ini plus warga dapat manfaat lingkungan dan ekonomi,” kata Direktur Mangrove Ecosystem Restoration Alliance YKAN Imran Amin.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah KKP3K KDPS Didik Riyanto S mengatakan, masih terdapat ancaman bagi kawasan konservasi ini yang juga membahayakan penyu. Beberapa di antaranya penangkapan ikan berlebih, penggunaan bom, hingga racun ikan.
Pelibatan masyarakat, kata dia, bisa menjadi mata pemerintah dan aparat untuk memantaunya. Satwa yang disebut masyarakat Teluk Sulaiman sebagai bokko tersebut kini jadi bagian dari kehidupan dan penghidupan warga. Dulu diburu, kini dirindu.





