Wajah Sukarno muda tampak terlihat dominan. Dengan mengenakan pakaian beskap Jawa seolah menyapa pengunjung yang datang. Wajahnya datar, dan diabadikan dalam foto setengah badan. Di antara foto-foto lainnya, foto Sukarno muda ditampilkan berbeda. Di cetak dalam kertas transparan dan diberi lampu di belakangnya sehingga menyala terang.
Tidak jauh dari foto Sukarno muda terdapat foto yang dicetak dengan ukuran besar. Foto-foto yang ada merupakan foto kegiatan kepresidenan beliau saat berada di Surabaya, salah satunya adalah peresmian Tugu Pahlawan. Foto tersebut merupakan bagian dari pameran bertajuk ”Aku Arek Suroboyo” di Alun-alun Surabaya, Jawa Timur, Selasa (9/6/2026). Pameran tersebut berlangsung pada 6–19 Juni dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno.
Melalui pameran ini, masyarakat diajak menelusuri berbagai jejak kehidupan Bung Karno di Surabaya. Melalui koleksi foto, arsip sejarah, pemutaran film, hingga peluncuran buku, pengunjung diajak mengulas hubungan sang proklamator dengan kota tempat ia tumbuh dan ditempa semasa muda.
Salah satu foto yang dipamerkan menggambarkan kedekatan Sukarno dengan warga Surabaya saat berada di Stasiun Gubeng. Foto yang dibuat pada 22 Mei 1952 memuat warga dengan ceria menyambut sang presiden.
Sejumlah memorabilia yang ditampilkan berupa catatan seperti paspor dan buku yang memuat pidato Sukarno saat meresmikan sejumlah proyek di Surabaya.
Buku peringatan 100 tahun HBS Surabaya. (KOMPAS/BAHANA PATRIA)
Paspor Soekarno. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Naskah pidato Soekarno. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Bersamaan dengan pameran, berlangsung juga Sekolah Kebangsaan yang diikuti oleh puluhan siswa sekolah menengah pertama di Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, siswa mendapat pengetahuan mengenai kehidupan Sukarno. Kegiatan dilakukan setelah siswa melihat pameran yang diselenggarakan.
Salah satu siswa yang ikut adalah Alexandro Maytama Saputra yang merupakan siswa dari SMP Negeri 37 Surabaya. Dalam kesempatan itu dirinya mengaku mendapat pencerahan dari apa yang dilakukan Sukarno saat masih muda.
”Saya terkesan apa yang dilakukan Sukarno dengan aktivitas organisasinya saat masih muda. Setelah Sekolah Kebangsaan mengenai Sukarno ini, saya kini harus lebih fokus berproses pada diri sendiri. Tentunya saya harus mengambil sisi baik dan membuang yang buruk dari apa yang dilakukan para pemimpin terdahulu,” ujar Alexandro yang datang bersama teman-teman sekolah dengan angkot.
Kegiatan-kegiatan sejenis yang menampilkan sejarah para founding father dengan segala kesulitannya dalam memperjuangan kemerdekaan perlu giat dilakukan agar generasi muda lebih peduli dan bersyukur memaknai arti kemerdekaan saat ini.





