Gunawan Dianjaya Steel (GDST) Berharap Pabrik Baru Dongkrak Kinerja

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA — Emiten produsen rolling mill plat baja, PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) membidik laba setelah pajak sebesar Rp136 miliar yang mencerminkan margin 5% dengan target omzet Rp2,7 triliun pada 2026.

Direktur GDST, Hadi Sutjipto, mengatakan perusahaan optimistis mampu memacu volume penjualan di sisa periode tahun ini seiring dengan tuntasnya fase komisioning (commissioning) pabrik baru plate mill 2 (mill 2). 

Menurutnya, infrastruktur baru ini membuka peluang besar bagi emiten produsen baja pelat tersebut untuk merambah ceruk pasar baru yang lebih luas di kancah domestik maupun regional. Kehadiran pabrik Mill 2 yang memiliki kapasitas produksi hingga 1.200 ton per hari ini melengkapi fasilitas Mill 1 eksisting yang berkapasitas 700 ton per hari. 

"Lewat ekspansi ini, GDST kini memiliki fleksibilitas operasional yang tinggi untuk mengombinasikan dua lini produksi demi mencapai efisiensi energi, tenaga kerja, serta menekan sisa material giling (waste)," ujarnya di Surabaya, Selasa (9/6/2026).

Dia melanjutkan, salah satu keunggulan strategis dari pabrik baru ini adalah kemampuannya memproduksi pelat baja dengan spesifikasi lebar hingga 3,1 meter. Sebelumnya, saat hanya mengandalkan mill 1, kemampuan giling perseroan terbatas pada lebar maksimal 2,4 meter.

"Peningkatan kapabilitas teknis pada Mill 2 ini menjadi katalis positif bagi perseroan. Kini, kami memiliki kapasitas penuh untuk ikut serta dalam berbagai tender proyek infrastruktur berskala besar yang mensyaratkan spesifikasi pelat baja lebar, yang sebelumnya tidak dapat kami masuki," jelasnya.

Baca Juga

  • Laba Gunawan Dianjaya Steel (GDST) Tertekan Imbas Harga Baja Loyo
  • Volatilitas Saham GDST Milik Keluarga Gwie Gunawan, Manajemen Buka Suara
  • Gunawan Dianjaya Steel (GDST) Turunkan Target Laba

Sementara itu dari sisi kinerja keuangan, GDST membukukan penjualan bersih sebesar Rp469,43 miliar hingga kuartal I/2026. Realisasi tersebut terkoreksi 26,62% dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp639,74 miliar."

Hadi menegaskan, koreksi pada nilai penjualan rupiah di triwulan pertama murni disebabkan oleh volatilitas penurunan harga baja internasional, sementara dari segi volume kuantitas penjualan riil di lapangan justru mencatatkan tren kenaikan yang positif.

Untuk memaksimalkan profitabilitas, kata dia, GDST memprioritaskan pasokan ke pasar domestik yang menyerap 96,94% atau sebesar Rp455,05 miIiar dari total omzet triwulan pertama. Sektor industri galangan kapal (shipyard) di Pulau Batam menjadi motor penggerak utama pada segmen konsumen langsung (end-user).

"Fokus pada pasar lokal ini menjadi strategi jitu manajemen dalam mengamankan perputaran arus kas (cash flow) agar berjalan lebih cepat. Selain itu, jaringan distributor dan agen besi (stockist) nasional yang kuat ikut membantu perseroan memitigasi risiko piutang dagang di tingkat hilir," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan rantai pasok bahan baku tetap aman. Pasokan impor, termasuk dari Rusia, berhasil dialihkan melalui rute logistik alternatif melewati Laut Nusa Tenggara dan Laut Jepang tanpa harus bergantung pada jalur konflik di Timur Tengah atau Terusan Suez.(K24)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Beasiswa BCA Dibuka! Kuliah Gratis, Dapat Uang Saku hingga Peluang Jadi Karyawan Tetap
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Gubernur BI Yakin Rupiah Menguat Kisaran Rp 16.800 Tahun Depan, Ini Alasannya
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
New Look by Dr. Song Luncurkan Perawatan Rejuvenasi Kewanitaan, Gandeng V-Sport Studio
• 6 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Fenomena Marapthon Perlihatkan Perubahan Cara Generasi Digital Mengonsumsi Media, Ini Kata Pengamat
• 14 jam lalucumicumi.com
thumb
Wali Kota Bekasi Telepon Pramono, Minta Subsidi Transjabodetabek Tidak Dicabut
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.