Berdasarkan data pasar Investing hingga sekitar pukul 09.00 WIB, rupiah naik 0,06% ke level Rp17.905,9. Kondisi tersebut mencerminkan penguatan rupiah terhadap dolar AS di tengah indeks dolar AS (DXY) yang justru menguat tipis 0,10% ke posisi 99,987.
Baca juga: Kenaikan Suku Bunga Darurat BI Tunjukkan Kekhawatiran Besar terhadap Rupiah
Selain terhadap dolar AS, rupiah juga mampu mengungguli baht Thailand. Mata uang Bath tercatat turun 0,06% ke level Rp543,08.
Meski demikian, performa rupiah tidak sepenuhnya positif. Mata uang domestik masih berada di zona merah ketika dibandingkan dengan sejumlah mata uang utama di kawasan Asia.
Terhadap yen Jepang, rupiah melemah 0,12% ke level Rp111,63. Pelemahan juga terjadi terhadap won Korea Selatan sebesar 0,10% ke posisi Rp11,75 per won. Sementara itu, terhadap yuan Tiongkok, rupiah turun 0,08% ke level Rp2.642,51.
Rupiah juga tertekan terhadap ringgit Malaysia yang menguat 0,06% ke posisi Rp4.405,11. Adapun terhadap dolar Singapura, rupiah terkoreksi tipis 0,03% ke level Rp13.903,28. Di kawasan Eropa, pergerakan rupiah relatif stabil. Nilai tukar euro terhadap rupiah tercatat tidak mengalami perubahan atau stagnan di level Rp20.772.
Sementara itu, pergerakan berbeda terjadi di pasar komoditas. Harga emas dunia mengalami tekanan cukup signifikan pada perdagangan pagi ini. Logam mulia tersebut tercatat turun 1,76% atau sekitar 74,90 poin sehingga berada di level USD4.184,62 per troy ons.
Penurunan harga emas terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS. Secara umum, menguatnya dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga dapat mengurangi minat beli investor terhadap aset safe haven tersebut.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan kondisi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang dan harga komoditas dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





